Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tidur tenang


__ADS_3

Jacky yang sejak dulu memendam perasaan pad Raisya, bahkan dia harus menahan kehancuran bertahun-tahun demi saudaranya, hatinya serasa sesak. Ya dia sepertinya menyimpan bom waktu dalam dadanya.


Hari ini adalah hati dimana dia harus berdamai dengan sejuta kepingan rasa. Ya dia ingin berdamai walau tubuhnya belum juga bisa diajak damai.


Sebagai laki-laki dewasa yang menjelang kematangan diusianya yang akan menginjak 35 dia belum juga meraup namanya kenikmatan surga dunia. Pernikahan dengan Sherly tak mampu membuat dirinya mengembalikan cinta yang dulu pernah bertengger. Rupanya setelah melihat sifat aslinya, Jacky merasa muak. Dia tak mampu melanjutkan pernikahannya dengan Sherly yang berakhir dengan perceraian juga.


Ya status duda ting ting. Duda tapi masih original.


Di kamar ini, perasaan Jacky sepertinya berdebaran tak karuan. Dimana di depannya ada seseorang yang mampu menggetarkan kembali sukma yang sudah lama tidur.


"Ra..." Suara Jacky memanggilnya dengan parau.


"Kita harus kembali ke bawah!" Raisya yang tak mampu menahan sorot Jacky yang berbeda buru-buru membalikkan badan.


Tapi gerakan Jacky lebih cepat. Dia langsung menarik tangan Raisya agar mendekat.


Raisya terhuyung begitu saja dan menabrak tubuh Jacky. Keduanya saling menatap. Kedua jantung yang saling berhadapan seolah sedang balapan. Saling memacu dan ingin melompat.


"Jangan begini! Lepaskan!" Raisya mendorong dada Jacky agar menjauh dari tubuhnya. Dia tahu sorot mata itu sedang menyiratkan sesuatu.


"Sya... " Pintu kamar langsung terbuka tanpa diketuk. Ratna kaget melihat Jacky dan Raisya dengan posisi tubuhnya terlihat dekat.


"Maaf... " Ratna membalikkan badannya. Pikirannya sedang mencerna apa yang baru saja dilihatnya.


Raisya mendorong kuat tubuh Jacky. Dan. Jacky pun melepaskannya karena situasi yang tidak nyaman untuk terlihat. seperti itu.


"Jangan salah paham!" Raisya tak ingin Ratna berpikir macam-macam.


"Setidaknya kalian tahu diri. Jangan terlalu intim! Membuat orang lain berprasangka buruk." Ratna agak kecewa melihat Raisya juga Jacky seperti itu.


"Tadi dia hampir jatuh. Aku menolongnya!' Jacky tak ingin Raisya malu, akhirnya berbohong mengarang cerita.


Hening


"Sebaiknya kalian cepat berkemas! Aku disuruh memberitahu kamu, Nathan kritis lagi." Ratna menyampaikan berita tentang Nathan. T

__ADS_1


Tadi setelah Raisya dan Jacky naik ke lantai dua, tuan Robert mendapatkan telepon dari Reza, bahwa terjadi sesuatu pada Nathan.


"Apa??" Keduanya kaget mendengar berita itu.


"Makanya cepetan! Gendong lagi Arselnya! Kita akan segera ke Jakarta." Ratna langsung melengos dari hadapan Jacky dan Raisya.


"Sya.. bawa barang-barang yang penting aja! Aku gendong lagi Arselnya." Jacky menyuruh Raisya gerak cepat. Raisya langsung menurut dia hanya membawa tas yang berisi handphone dan dompetnya saja. Raisya dan Jacky langsung pergi dari kamar.


Hati Raisya tidak tenang setelah mendengar berita barusan. Dengan langkah buru-buru dia membukakan pintu agar Jacky bisa membaringkan Arsel di jok mobil.


"Aku mau bicara dulu sama papih." Raisya langsung menghampiri mobil


tuan Robert dengan meninggalkan Arsel dalam pengawasan Jacky di mobilnya.


"Pih.. apa yang terjadi dengan Nathan?" Dengan wajah cemas Raisya menghampiri tuan Robert yang sudah berada di dalam mobil.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Papih harap kamu bisa sabar dengan semua yang terjadi." Tuan Robert tidak bisa mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Pih... " Ray tak kuasa menahan buliran air matanya.


"Raisya biar aku temani!" Ratna mengerti saat ini Raisya butuh seseorang untuk berpegang. Pasti berita Nathan akan membuat Raisya panik.


Setelah melakukan perjalanan selama dua jam akhirnya rombongan sampai di parkiran rumah sakit.


Jantung Raisya kian berlompatan begitu kakinya menginjak lantai rumah sakit. Instingnya seperti mengatakan sesuatu yang buruk.


"Sabar Sya.. " Ratna setia menggandeng bahu Raisya. Airmatanya kian deras berjatuhan di pipi. Sepanjang perjalanan Raisya tak mengatakan sepatah katapun hanya airmata saja yang keluar sampai matanya sembab.


Michel yang baru turun langsung menempel pada Raisya. Sepertinya Michel pun merasakan hal yang sama dengan Raisya. Dia cemas dan takut menghadapi kabar selanjutnya tentang ayahnya.


"Bunda.." Michel menyenderkan kepalanya pada Raisya lalu tangannya bergelayut di tangan Raisya. Raisya menoleh pada Michel lalu tangannya menggandeng bahu Michel sambil berjalan menuju ruangan Nathan.


"Pak Robert." Reza langsung menghampiri tuan Robert. Wajahnya sama mendung, dia memberi hormat.


Semua rombongan menghentikan langkah terpotong oleh Reza yang menghampiri lebih dulu rombongan.

__ADS_1


"Za.. bagaimana dengan Nathan?" Suara tuan Robert terdengar cemas.


"Maaf.. pak.. " Reza tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Tuan Robert langsung bisa menebak maksud dari Reza.


"Ya.. Tuhan.. Nathan... " Tuan Robert langsung mempercepat langkahnya. Yang lain masih bingung mereka saling pandang.


"Mas Nathan... Raisya langsung terkulai lemas pingsan. Michel dan Ratna yang berada di sampingnya langsung menahan beban Raisya.


Beberapa orang langsung mendekati Raisya dan Reza langsung mengangkat Raisya yang pingsan. Kebetulan Jacky dan Irwan menunggu di parkiran menjaga anak-anak sehingga tidak bisa ikut masuk.


"Baringkan disini pak!" Salah satu perawat mengarahkan Reza ke ruangan yang dekat agar bisa membaringkan tubuh Raisya.


"Tante.. " Michel langsung memeluk tubuh Ratna. Dia menangis tersedu-sedu. meski tidak ada yang bicara jelas tentang Nathan tapi mereka sudah menduga bahwa Nathan sudah tidak tertolong.


Tuan Robert langsung menghambur ke ruangan perawatan dimana Nathan dirawat. Jasad kaku yang dua jam yang lalu tutup usia, kini sudah tertutup kain putih.


"Nathan... ini papih. Kenapa kamu nak?" Tuan Robert tak kuasa lagi menahan air mata nya. Deraian air matanya kini meleleh.


Nyonya rasa ikut meneteskan air mata melihat kesedihan suaminya yang kehilangan putranya. Bagaimana pun dia adalah putra kesayangannya selama ini. Tak disangka usianya tak panjang umur.


Tuan Robert membuka kain putih yang menutup. wajah Nathan. Dia menciumnya beberapa kali. Wajah tenang dan damai kini tertidur pulas, tidak merasakan nyeri lagi. Setelah dia berjuang menhan sakit akhirnya dia harus menyerah dengan penyakit yang menggerogotinya sejak setahun yang lalu.


"Pih... " Jacky muncul dari balik pintu. Tadi Ratna langsung mengabari Jacky juga Irwan tentang kematian Nathan. Mereka langsung masuk dan meminta izin membawa Arsel ke dalam rumah sakit.


"Jack..Nathan.. " Hanya itu yang mampu dikatakan tuan Robert. Jacky langsung memeluk ayahnya yang sedang bersedih kehilangan Nathan.


"Kuatkan hati papih!" Jacky memeluk erat tubuh ayahnya agar bisa bersabar.


Keduanya melepaskan pelukannya lalu keduanya menatap wajah Nathan yang sudah pucat tak bernyawa.


"Apa yang terjadi pih?" Jacky menatap heran melihat wajah yang sudah terbujur kaku.


"Kakakmu mengidap kanker paru." Jawab tuan Robert.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2