Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Modus


__ADS_3

"Jangan keluar ya! Aku jamin aku tidak akan menggangu kalian kok! Salam buat Raisya dan keluarganya. Nanti akan aku kirimkan hadiah buat pernikahannya. Maaf kalau terlambat." Ucap Nathan sambil menepuk bahu Irwan. Dia menarik tangan Michel berjalan meninggalkan Ratna dan Irwan yang masih terlihat bingung.


"Beb... bagaimana ini?" Irwan tidak tahu harus apa. Tujuannya semula ingin menyembunyikan Raisya malah tidak berhasil.


"Darimana dia tahu Raisya bersama kita? Apakah Michel memberitahu Nathan?" Ratna menatap wajah suaminya.


Irwan yang tidak tahu apa-apa hanya menggelengkan kepalanya.


Ratna mengerutkan dahi, memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu Nathan menemui beberapa karyawan dan menyapa mereka. Irwan dan Ratna memperhatikan Nathan. Mereka melihat ada perubahan pada diri Nathan. Dia terlihat lebih ramah ketimbang dulu.


"Sudahlah.. jangan terlalu serius beb. Kita nanti bicara di rumah. Sekarang nikmati pestanya!" Irwan tak ingin Ratna terus memikirkan masalah.


"Yang... aku tadi lihat Michel di showroom. Apa Nathan mengetahui Raisya dari Michel gitu? Tapi kalau dari Michel, anak itu tahu Raisya darimana ya?" Ratna masih saja memikirkan kejanggalan yang sejak keberangkatan memang agak mencurigai Raisya.


"Nanti kita bicara di rumah. Mending kamu makan tuh! Biar tidak makan ati. Aku mau ngobrol sama yang lain." Irwan tak ingin menyia-nyiakan acara ini hanya memikirkan seputar Nathan dan Raisya.


"Ya.. baiklah.. aku juga mau ngobrol sama. yang lainnya. Sudah kangen lama bertemu." Ratna pun tak ingin ketinggalan ingin temu kangen dengan beberapa karyawan yang dulu teman kerjanya.


Acara ini sengaja dibuat Nathan untuk mengakrabkan para karuan dan juga keluarganya. Nathan ingin merubah cara pandang selama ini.


"Halo pak Nathan.. " Seseorang mendekati Nathan.


"Oh.. pak Hadi ya?" Nathan agak lupa-lupa ingat.


"Iya betul." Jawab pak Hadi tersenyum. Usianya memang sudah agak tua. Di sampingnya sudah ada istri juga seorang gadis cantik berambut pirang, yang mungkin memang sudah dicat.


Mereka pun saling berjabat tangan.


"Kenalkan ini istri saya, dan ini anak saya pak Nathan." Ucap pak Hadi tersenyum dengan menyiratkan ada niat tertentu.


"Oh iya. Kenalkan saya penggantinya pak Adam dan ini anak saya Michel." Nathan mengenalkan Michel sambil menjabat mereka seperti yang lainnya.


"Wah.. anaknya cantik sekali ya.. " Ucap pak Hadi memuji Michel.

__ADS_1


"Terimakasih." Michel tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaan pak Hadi, apakah selama bekerja disini menyenangkan?" Ucap Nathan berbasa-basi menyapa semua karyawan. Dia berusaha lebih akrab agar bisa mendengarkan keluhan-keluahan dari bawahannya untuk dijadikan bahan materi ke depannya sebagai perbaikan.


"Baik Pak. Baik sekali. Saya malah senang selama bekerja disini. Saya mohon bimbingan dari pak Nathan untuk bisa lebih baik lagi mengabdi pada perusahaan bapak." Dia tersenyum agak dibuat-buat.


"Ya syukur kalau begitu. Apa ada keluhan dari divisi bapak untuk saya perbaiki?" Nathan berusaha untuk jadi pendengar.


"Maaf Pak Nathan... saya kan ada di divisi HRD. Saya takutnya dianggap KKN. Ini anak saya baru lulus dari universitas Australia. Dia ingin bekerja di perusahaan bapak. Takutnya saya menyalahgunakan wewenang saya kalau saya langsung yang menguji." Pak Hadi agak malu-malu menyampaikan niatnya ingin memasukkan putrinya ke perusahaan.


"Ohh.. ya kita lihat nanti ya, kalau memang bisa kompeten di bidangnya sih tidak masalah. Coba nanti kirimkan CV nya ke pak Reza. Nanti saya akan tinjau kelayakannya dengan yang lain." Ucap Nathan tidak bisa langsung menerima begitu saja.


"Oh baik Pak.. saya ucapkan terimakasih." Pak Hadi terlihat senang mendapatkan respon Nathan yang seperti memberikan harapan. Dia membukkan badannya.


Sedari tadi putri pak Hadi menatap inten pada Nathan yang mengagumi ketampanan laki-laki pemilik perusahaan itu. Apalagi posisinya Nathan sebagai duda beranak satu. Gadis itu tersenyum licik, ada hal yang lebih besar yang dia inginkan. Dia berharap dia bisa secepatnya diterima di perusahaan.


"Maaf saya tinggal dulu ya pak Hadi, mau menemui pegawai yang lainnya." Ucap Nathan pada keluarga pak Hadi.


"Oh iy iya pak. Silahkan!" Pak Hadi dengan membungkukkan badan mempersilahkan pak Nathan untuk pergi dari hadapannya.


Nathan melanjutkan menyapa yang lainnya sambil menikmati alunan musik yang telah disediakan perusahaan dalam acara ramah tamah para karyawan.


"Duh maaf sayang.. " Kamu gak pa-pa makan duluan? Nanti daddy akan menyusul." Nathan yang masih asik mengobrol.


"Iya dad.. " Michel mengerti kalau ayahnya masih banyak yang harus dikerjakannya.


Michel berjalan ke arah meja prasmanan akan mengambil nasi berserta lauk pauknya. Karena perutnya menagih sesuatu asupan.


"Hai.. " Seseorang menyapa Michel dari arah belakang.


"Oh.. halo." Michel menoleh ke arah orang yang menyapanya.


"Makan kak.. " Michel agak bingung harus memanggilnya apa.


"Panggil saja Mora. Nama saya Amora." Perempuan itu ikut mengambil piring.

__ADS_1


"Saya Michel.Maaf miss.. kurang sopan jika saya memanggil anda nama. Umur miss jauh di atas saya." Ucap Michel sambil mengambil beberapa lauk pauk. Begitupun dengan Mora dia mengikuti apa yang Michel ambil. Padahal beberapa dari yang diambilnya tidak terlalu dia sukai.


"Eh.. sepertinya selera kita sama ya?" Ucap Mora melihat ke arah piring Michel.


Mmmm... terlalu lebai kali. Semua orang pastinya mengambil menu yang ada kan? Suka ataupun tidak.


Michel ternyata kurang menyukai perempuan yang baru saja dikenalinya. Selain terlalu lebai, matanya itu menyiratkan sesuatu niat.


Nathan yang memperhatikan dari kejauhan tersenyum mengangguk pada Amora.


"Yuk duduk disini!" Ajak Amora mengajak Michel untuk duduk bersamanya.


"Maaf.. miss.. saya akan ke sana dulu. Aku mau bertemu teman." Jawab Michel dingin. Anak itu memang sejak kecil sudah pintar menilai orang, mana yang dia senangi dan mana yang dia tak suka.


Amora hanya melongo. Niat ingin pendekatan malah ditinggalkan begitu saja.


Dasar anak tak tahu diri.. emang gue suka sama. lu. Awas saja ya kalau gue dapetin bokapnya. Lu gue buang baru tau rasa.


Amora mengutuk Michel.


"Tante Ratna... " Michel menyentuh Ratna dari belakang.


"Eh.. " Ratna menoleh ke belakang.


"Michel.. " Ratna membalikkan badan.


"Aku.. boleh ikutan disini?" Michel meminta izin pada Ratna.


"Mmm.. ya." Ratna agak gugup.


"Apa.kabar tante?"


"Baik. Kamu.. tadi yang datang kesana kan?" Ratna serius melihat Michel. Ini kesempatan buat Ratna untuk bertanya kenapa dia bisa tahu Raisya ada bersamanya.


"Iya tan.. " Michel kalem saja menyuap. Sepertinya dia lebih tenang bersama Ratna daripada Amora.

__ADS_1


"Maaf.. tante mau tanya. Kenapa Michel bisa datang ke showroom?"


"Bukannya tante jualan?"


__ADS_2