Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Perceraian


__ADS_3

Ketuk palu yang dipukul hakim di pengadilan, nadanya mirip sebuah proklamasi kemerdekaan. Dan detik itu juga belenggu yang menjerat lehernya lepas sudah.


Hari ini adalah hari kebebasan Raisya dari ikatan sebuah pernikahan. Talak satu telah dilayangkan oleh Nathan pada istrinya.


Raisya dengan bekal kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang tidak terlalu mancung, langsung keluar dari ruang sidang tanpa bersalaman dengan siapapun. Terlebih lagi pada mantan suaminya.


Dia sedang menyembunyikan sejuta rasa sakit yang ada dalam batinnya dari pandangan orang-orang.


Nathan menatap nanar mantan istrinya yang berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Seolah dia benar-benar ingin berpisah tanpa berpamitan.


Dia yakin bahwa perempuan itu telah membawa rasa pedih dan sakitnya bersamaan dengan langkah yang diayunkannya.


Ada rasa sakit yang menyesakkan dada Nathan ketika dia harus merelakan istrinya untuk berpisah, dan menjatuhkan talak demi kebaikan bersama.


Pernikahannya yang lebih muda dari umur jagung itu pun gugur lebih cepat, tepatnya baru dua minggu dari pernikahannya dia harus rela memutuskan talak karena perbuatannya sendiri.


Nathan menundukkan wajahnya dibalik kemudi, menangis sesenggukan menangisi perbuatannya yang kejam yang selalu saja diulang-ulang. Untungnya saja area parkir pengadilan sepi jadi tak ada yang mendengarkan tangisannya.


Setelah suasana hatinya agak baikan. Nathan menyeka matanya dengan tisu lalu menyalakan mesin mobil dan mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.


"Pak airnya." Bi Siti menyodorkan segelas coklat hangat di meja untuk Nathan.


Bi Siti ikut melirik sebentar melihat Nathan yang sedang memejamkan mata di sofa ruang keluarga.


"Terimakasih kasih bi!" Nathan membuka mata lalu mengambil gelas yang berisi coklat hangat.


Dia menyeruput minuman itu dengan perlahan. Ada rasa yang menenangkan bersamaan dengan masuknya air itu melalui tenggorokannya.


"Bi Siti masak apa?" Nathan yang belum mengisi perutnya sejak pagi sekarang perutnya merasa lapar.


"Bapak mau dibuatkan apa?" Bi Siti menawarkan Nathan untuk memilih menu masakan.


"Bibi bisa buatkan nasi goreng yang biasa Raisya buat?" Dengan wajah sayu Nathan meminta memasakkan nasi goreng yang dulu suka Raisya buat.


"Bisa pak."


"Bangunkan saya bi. Saya pengen tidur dulu!' Nathan melengos menuju kamar bekas Raisya.

__ADS_1


Diamatinya dengan detail semua yang ada di kamar itu. Nathan membuka lemari baju. Dilihatnya satu persatu baju-baju yang masih menggantung.


Tak banyak banyak baju yang dimilikinya. Karena semenjak dia berubah penampilan menjadi berhijab kembali Raisya belum sempat keluar rumah untuk membeli pakaian baru. Pakaian-pakaian yang menggantung pun itu kiriman Sarah.


Netranya beralih pada tas travel yang pertama kali ditentengnya sewaktu datang ke rumahnya. Nathan membuka tas itu. Di sana ada baju-baju yang dulu dibawanya sewaktu belum memakai hijab.


"Raisya maafkan aku.. hiks hiks hiks.. " Nathan teringat sewaktu memarahinya ketika memakai baju pendek dan mengatakan pelacur pada Raisya.


Nathan menutup tas itu. Rasa sakit dalam dadanya kini terasa perih. Ya.. segala sesuatu juga baru terasa kalau jika seseorang itu telah pergi.


Nathan berdiri lalu menutup lemari dan tertunduk di pintu lemari sambil sesenggukan.


Setelah itu dia berjalan dan duduk di tepian ranjang yang pernah ditiduri Raisya. Diusapnya sprei yang masih bersih dan rapih yang baru diganti bi Siti.


Sprei yang bernoda darah waktu itu telah dicuci bi Siti dan di buang agar tidak dijadikan barang bukti. Bukti kekejaman Nathan malam itu yang hampir saja merenggut nyawa Raisya lagi.


Nathan tidur meeingkuk di ranjang bekas Raisya sambil memeluk guling yang biasa dipeluk Raisya waktu itu.


###


Empat tahun kemudian


"He he Asel.. pingin itu ma.. " Seperti biasa Arsel senang main sekali dengan main mobil-mobilan yang ada arena permainan anak.


"Iya.. tapi mama tidak bisa Arsel. Nanti ya om Irwan ada Arsel boleh naik itu.


"Huaw.. huaw... huaw.. " Arsel menangia keras jika keinginannya tidak terpenuhi.


"Ya ampun.. nih anak mirip siapa ya?" Raisya kadang suka kesal dengan tangisan Arsel yang menggelegar seperti gempa bumi.


"Sebentar mama cari dulu om Irwan. Kamu tunggu di sini!" Raisya sedang mengedarkan pandangan mencari keberadaan Irwan dan Ratna yang sedang asik berbelanja.


"Duh kemana nih si Irwan. Giliran butuh malah pada gak ada." Raisya menekan nomor Irwan.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


"Wan.. tolongin gue!"


"Kenapa?"


"Nih si Arsel ngamuk-ngamuk pengen main mobil-mobilan. Aku kan gak tahu main game itu!" Pinta Raisya pada Irwan.


"Iya.. bentar gue ke situ ya!" Irwan langsung menutup teleponnya.


"Ada apa yang?" Ratna melirik Irwan yang sedang menemani belanja menanyakan suaminya.


"Itu... Arsel ngamuk. Ga pa-pa gue kesana beb?" Irwan minta izin sama Ratna.


"Iya ga pa-pa.. Gue ada mamah sama papah kok!" Ratna mengizinkan suaminya membantu Raisya.


Semenjak perceraiannya dengan Nathan, Ratna sama Irwanlah yang merawat Raisya. Sekarang Raisya membantu Ratna mengembangkan usaha onlinenya sedangkan Irwan masih bekerja di perusahaan Alberto.


"Arsel jangan nangis ya! Tuh om Irwan datang." Raisya melihat Irwan lari tergopoh-gopoh menyusul Raisya ke arena permainan.


Tangis Arsel seketika reda melihat Irwan menghampirinya.


"Eh.. anak papa jangan nangis begitu! Kasian dong mamanya." Irwan langsung menggendong Arsel.


Sejak kecil Arsel memang besar dengan Irwan juga Ratna jadi anak empat tahun itu sudah menganggap Irwan seperti ayahnya sendiri. Bahkan Irwan ingin Arsel memanggilnya dengan sebutan papa seperti anak kembarnya Rara dan Riri.


"Jangan terlalu lama Wan. Kasian Ratna tidak ada yang menemani!" Raisya tidak enak hati selalu merepotkan Irwan jika Arsel mengamuk. Hanya Irwan yang bisa meredakan tangisan maut Arsel selama ini. Entahlah.. padahal dulu Raisya pun pernah ada di posisi itu ketika Michel seusia Arsel.


"Gak pa-pa... Ratna nanti menyusul ke sini kok sekalian makan." Ucap Irwan menenangkan Raisya. Kebetulan tempat foodcourt letaknya bersebelahan dengan tempat arena permainan.


"Sya... " Panggil Ratna yang sudah sampai di tempat arena bermain.


"Eh.. sudah belanjanya?" Raisya menoleh pada Ratna.


"Kita pesan makanan dulu yukk! Kalau menunggu Arsel pastinya lumayan lama." Ajak Ratna.


"Kamu duluan aja! Aku gak enak sama Irwan." Tolak Raisya halus.


"Gak pa-pa.. dia mah seneng ada temen laki. Kalau sama si kembar gak mungkin main game. Senengnya pasti main boneka-boneka an." Ucap Ratna sambil menarik tangan ke tempat foodcourt.

__ADS_1


"Eh... kumaha ieu teh?" Logat Sunda Raisya langsung meluncur bebas.


Ratna bersama Raisya akhirnya masuk ke foodcourt dan memilih tempat untuk digunakan bersama.


__ADS_2