
Dua laki-laki itu saling memandang sinis.
"Hei.., mau sampai kapan kalian pada kaya gitu? Bukannya perkenalkan pertama itu harusnya ramah? Malah pada jutek!" Keluh Ratna yang mengamati kedua laki-laki itu saling adu serang dengan wajahnya yang paling garang.
"Ratna ngapain kamu bawa kakak kamu kesini? Aku kan hanya nyuruh kamu saja!" kesal Jacky sambil memakai sepatunya yang sudah siap-siap berangkat.
"Eh elu sembarangan nyuruh adik gue! Emang adik gue pembantu kamu apa?" Hendrik tidak setuju dengan sikap Jacky yang main suruh saja.
"Ya ampun. Masih pagi kalian kaya emak-emak arisan saja! Jacky kamu cepetan pergi! Gue. Puss.. Ratna menghentikan bicaranya ketika seseorang masuk ke dalam ruangan Raisya yang tak lain bos besarnya, Adam.
"He, selamat pagi pak Adam!" Ratna agak tergagap ketika melihat Adam masuk ke dalam ruangan Raisya.
"Pagi!" Adam masuk terlebih dahulu lalu diikuti oleh Sarah dari belakang.
Seseorang kaget melihat wanita yang dikenalinya, tiba-tiba ada di depan mata.
"Sarrrah... " Sontak mata Sarah menoleh pada asal suara yang memanggilnya. Adam pun yang sudah mendekati Raisya membalikkan badan melihat Hendrik juga Sarah.
Kedua mata mereka beradu pandang. Seolah mengembalikan memori mereka berdua di masa lalu yang sempat terkubur lama karena jarak dan waktu.
"Hendrik..kamu disini?" Sarah kaget melihat sosok laki-laki yang pernah hadir dalam hatinya dulu, tiba-tiba ada di depan mata. Mereka tidak bertemu dan hilang komunikasi.
"Iya aku lagi nungguin pacar." Hendrik seolah menemukan alasan untuk Sarah juga Jacky. Walau tanpa seizin dari Raisya.
"Oh.. pacar. Belum menikah?" Sarah hanya manggut dengan wajah tak senang.
"Kalian saling mengenal?" Adam mengamati interaksi antara Hendrik dan Sarah yang agak aneh.
"Eh pak Adam.. kenalin! Ini kak Hendrik, kakak saya pak! Baru pulang dari Australia." Ratna memecah kecanggungan. Belum sempat mencairkan suasana antara Jacky dan Hendrik, kini datang tanpa di duga Sarah yang saling mengenal antara Hendrik.
"Kak, ini pak Adam bos di perusahaan. Ini bu Sarah, istrinya pak Adam." Ratna mengenalkan semua orang asing yang ada di ruangan itu pada Hendrik.
"Kenalin Hendrik, kakaknya Ratna." Hendrik berdiri lalu menyalami Adam yang terlihat kalem dan berwibawa.
"Saya Adam, atasan mereka di kantor." Adam menyalami Hendrik.
__ADS_1
"Kalian saling mengenal?" Adam melihat silih berganti pada Sarah dan Hendrik.
"Kami teman Sma." Hendrik menjawab lebih cepat dari Sarah.
"Oh.. wah..pas sekali ya! Kaya reuni." Adam tersenyum ramah tanpa menaruh curiga sedikitpun.
"Maaf, saya hanya ingin menengok bu Raisya yang katanya sakit. Kebetulan saya mengantarkan istri saya yang bekerja di rumah sakit ini. Jadi sambil mengantarkan sambil menengok juga." Adam menjelaskan alasannya.
"Oh.Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk menengok!" Hendrik menjawab Adam sambil tersenyum palsu.
"Bagaimana bu Raisya? Sudah membaik?" Adam melihat ke arah Raisya menanyakan keadaan Raisya.
"Alhamdulillah.. sudah lebih baik pak!" Jawab Raisya sambil sedikit membungkukkan badan tanda hormat.
"Syukurlah kalau begitu! Cepet sembuh ya! Saya sangat membutuhkan bantuan bu Raisya yang mempunyai ide-ide cemerlang." Puji Adam tanpa dibuat-buat.
"Ya, syukur lah, saya turut senang, bu Raisya. Doa saya, cepat sembuh seperti sediakala." Ucap Adam.
"Iya, saya ucapkan terimakasih kasih pak atas doa dan kebaikan bapak untuk mampir menengok saya kesini!" Jawab Raisya mengucapkan terimakasih.
"Mari, saya tinggal dulu semuanya, kebetulan sudah jam kantor." Adam melihat jam yang melingkar di tangannya. Sarah hanya diam mematung setelah kaget bertemu Hendrik di ruangan itu.
'Kenapa kamu ngusir aku?" Jacky mendengus kesal.
"Gak baik di pagi hari sudah masang muka jutek gitu! Itu bos sudah pergi. Ini bawahannya malah masih diem aja!" Ratna tahu kalau Jacky sedang kesal. Entah karena kehadiran Hendrik atau karena hal lain.
"Gue berangkat dulu ya Ra. Awas loh kalau macem-macem!" Ancam Jacky pada Hendrik dengan wajah tak senang.
"Hei..gue gak macem-macem. Cukup satu macem aja! Elu bocah jangan belagu ya sama pacar gue!" Hendrik mendekati wajah Jacky seperti mau berkelahi.
"Kakak.. ih jangan malu-maluin aku kak!' Ratna menaikan intonasi bicaranya untuk melerai keduanya.
"Tuh denger adikmu malu!" Jacky seperti menemukan kata yang tepat untuk Hendrik.
Jacky langsung berangkat, keluar dari ruangan, menyusul Adam.
__ADS_1
"Kakak kenapa sih? Kok arogan gitu! Lagian kenapa juga harus ngaku-ngaku pacar Raisya segala sih? Playboy kakak kambuh ya? Gak bisa aku biarkan kakak kaya gitu sama Raisya." Ratna cemberut melihat sikap Hendrik yang arogan.
"Heh.. justru kakak lagi menjaga Raisya dari pria-pria playboy. Jadi kakak harus tahu laki-laki yang deket sama Raisya tipenya kaya apa?" Bela Hendrik pada Ratna, modus.
"Hhh.. keluar dari lubang buaya masuk ke kandang kudanil." Ratna meneruskan menyuapi Raisya.
"Eh kenyang Rat!" Raisya menyudahi makannya.
"Iya. Gue masukin ke kulkas ya! Biar nanti bisa dimakan lagi siang. Ntar gue angetin di microwave." Ratna memasukan wadah-wadah yang dibawanya ke dalam kulkas.
"Kakak kenal sama dokter Sarah?" Ratna mendekati Hendrik yang sedang membuka layar handphonenya.
"Kenal apa pacar?" Ratna yang tahu kakaknya playboy sejak sekolah agak kepo dengan istri bosnya.
"Hhmm..aku liat dia mirip Raisya ya. Dia versi hijabnya." Hendrik melihat ke arah Raisya.
"Iya gitu? kok jawabannya itu sih kak? Aku nanya kak Hendrik pernah pacaran sama dokter Sarah tidak?" Ratna mengulang pertanyaannya.
"Wah cewek mana sih yang gak jatuh cinta sama gue?" Hendrik tersenyum licik mengingat masa lalunya yang selalu dikelilingi wanita-wanita. Dan menjadi top boy di sekolahnya.
"Sombong amirrr!" Ratna memanyunkan bibirnya mendengarkan kesombongan kakaknya yang sudah selangit jika ditanya ketampanan dan soal hubungannya dengan wanita-wanita.
Raisya terkekeh menertawakan Hendrik juga Ratna. Gak kebayang punya kakak yang super pede kaya kak Hendrik dengan sejuta pesona yang membuat tiap wanita iri.
''Eh hampir lupa nih, kakak mau bikin kejutan." Hendrik teringat sesuatu. Dia mendekati ranjang Raisya. Ratna berdiri mengikutinya.
"Apaan tuh kak?' Ratna penasaran melihatnya.
"Pilih mau yang mana?" Hendrik menyodorkan dua cincin berlian yang cantik.
"Ini buat kita?" Mata Ratna begitu berbinar melihat benda berkilau yang dikeluarkan Hendrik.
"Aku coba yang ini." Ratna memilih salah satu lalu mencobanya.
Hendrik langsung membawa yang satunya lagi lalu mengambil tangan Raisya.
__ADS_1
Srotttt
Suara pintu terdengar didorong keras. Muncul Nathan sambil menggendong Michel. Matanya langsung tertuju pada tangan Raisya.