
Setelah dua hari berada di rumah sakit Raisya sudah diperbolehkan pulang. Aisyah selama dua hari pula setia menunggu Raisya.
"Mbak.. maaf bukan saya kurang sopan. Kalau mbak selama ini tinggal dimana? Biar saya dan mas Anwar mengantarkan mbak ke tempat tinggal mbak." Aisyah mencoba bertanya perlahan-lahan agar tidak menyinggung perasaan Raisya.
"Saya tinggal menumpang. Dan saya tidak mau kembali ke sana. Saya akan mencari kost an untuk saya tinggal sekarang." Jawab Raisya yang memang selama ini tinggal di rumah mertuanya.
"Oh.. tapi... mbak kan masih kurang sehat. Bagaiamana untuk sementara tinggal dulu bersama kami. Kebetulan saya ada kamar kosong, kalau mbak Raisya mau boleh tinggal di sana." Aisyah agak mengkhawatirkan kondisi Raisya yang kini sedang hamil.
"Mmm... tapi apa tidak merepotkan? Jika kamarnya disewakan, akan saya sewa." Ucap Raisya.
"Buat mbak gratis. InsyaAllah kami ikhlas mbak." Aisyah sudah sepakat dengan Anwar untuk membawa Raisya ke rumahnya. Karena kemarin sewaktu ditanya Raisya mengaku tidak mempunyai keluarga. Sepasang suami istri itu benar-benar baik mau menampung dirinya tanpa embel-embel apapun.
"Terima kasih Aisyah, sudah mau menerima aku orang asing yang mungkin saja akan menyusahkan mu." Raisya tertunduk. Saat ini memang tidak ada tempat yang ingin Raisya datangi. Dia ingin istirahat sejenak dari kepenatan masalah. Bahkan jika ada dia ingin pergi jauh dan tak mau bertemu dengan orang-orang yang pernah ada di hidupnya. Tapi saat ini badan dan kondisi kesehatannya sedang lemah. Maklum hamil muda bawaannya pusing dan lesu, inginnya hanya rebahan.
"Mari mbak.. " Aisyah menuntun Raisya ke luar ruangannya setelah Anwar membayar lunas semua tagihan rumah sakit. Padahal saat itu Raisya ingin membayarnya sendiri, tapi sepasang suami istri itu tak tega membiarkan Raisya yang lemah membayar tagihan rumah sakit. Mereka tidak tahu bahwa Raisya mempunyai saldo yang cukup besar di dalam rekeningnya. Selain warisan dari kekayaan Nathan dia juga mempunyai uang saku besar dari tuan Robert.
Ketiga orang itu akhirnya sampai di depan halaman sebuah rumah kompleks sederhana. Anwar mengambil perumahan setelah menikah dengan Aisya lima tahun yang lalu.
Setelah menikah lima tahun, sepasang suami istri ini belum juga dikaruniai anak.
"Maaf rumah kami agak berantakan." Ucap Aisyah yang sudah dua hari ini tinggal di rumah sakit tidak sempat membersihkan rumahnya.
"Mmm.." Raisya tidak banyak bicara.
__ADS_1
"Ayo mbak duduk! Jangan sungkan anggap ini rumah mbak sendiri." Aisyah begitu ramah menyambut Raisya.
Raisya pun duduk mengikuti ajakan Aisyah. Anwar langsung pergi ke kamar nya untuk mengganti pakaiannya.
"Maaf mbak saya bawa air minum dulu buat mbak!" Aisyah segera ke belakang membuat tiga gelas air teh hangat manis. Aisyah membawa dua gelas ke ruang tamu sedangkan meninggalkan milik suaminya di ruang makan.
"Ayo mbak diminum dulu!" Aisyah menyuruh Raisya meminum air teh buatannya.
"Terimakasih." Ucap Raisya pelan. Dia pun menyeruput air teh manis buatan Aisyah sampai tandas. Ada perasaan nyaman di perutnya begitu menyeruput air teh itu.
"Mbak saya tinggal dulu ya! Saya mau menyiapkan kamar mbak agar bisa ditiempati. Mbak Raisya pasti lelah." Aisyah meminta izin pada Raisya dan melangkah ke kamar nya menemui suami nya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Aisyah ketika masuk ke dalam kamar.
"Mas air tehnya mau diambilkan?" Aisyah yang tak melihat suaminya keluar kamar menawarkan teh miliknya yang masih di ruang makan.
"Gak usah. Kamu duduk disini dulu!" Anwar mengajak istrinya duduk di tepian kasur.
Aisyah patuh mengikuti perintah suaminya duduk di sampingnya.
"Aisyah.. aku.. sebenarnya agak riskan membawa mbak Raisya kesini. Karena pastinya warga komplek akan bertanya-tanya akan identitas mbak Raisya. Nanti kita akan jawab bagaimana?" Anwar tadinya akan lepas tangan setelah menolong Raisya membawa Raisya ke rumah sakit. Tapi setelah Aisyah tahu kondisi Raisya yang tidak mempunyai keluarga dan hamil, perasaannya yang lembut tidak tega membiarkan Raisya terlunta-lunta.
"Mas.. kita laporan saja ke pak rt. Ceritakan saja sebenarnya. Dengan begitu nanti pak rt akan menjelaskan pada warga. Aku sih gak tega melihat mbak Raisya seperti itu sendirian di luar sana." Aisyah merasa iba melihat Raisya yang seperti orang linglung.
__ADS_1
"Mas rasa mbak Raisya punya keluarga. Tapi.. kayanya dia kabur dari rumah. Bagaimana kalau kita kasih kesempatan selama tiga hari di rumah kita, lalu kita carikan kostan buat mbak Raisya tinggal? Mas tidak mau ada fitnah Aisyah!" Ucap Anwar tegas.
"Baik mas. Nanti Aisyah yang bicara sama mbak Raisya. Kalau sekarang Aisyah mau siapin kamar belakang dulu agar bisa ditempati mbak Raisya. Setelah itu kita laporan ke pak rt." Aisyah harus mencari waktu untuk berbicara dengan Raisya. Karena melihat kondisi kejiwaannya Raisya terlihat lemah.
"Baik. Mas bantu." Anwar membantu Aisyah membawa sprei baru juga bantal guling yang ada di lemari. Keduanya ke luar kamar dan berjalan beriringan menuju satu kamar yang berada di belakang dekat garasi.
Setelah membersihkan kamar juga menggantikan sprei Anwar duduk di ruang makan. Sedangkan Aisyah kembali ke ruang tamu.
"Mbak.. kamarnya sudah saya siapkan. Ada baju ganti yang mungkin bisa dipakai mbak untuk istirahat. Mohon maaf setelah ini saya akan pergi ke pak rt untuk laporan. Biar keberadaan mbak Raisya di rumah ini bisa diketahui." Ucap Aisyah menerangkan niatnya.
"Aisyah.. maaf kalau saya jadi merepotkan. Mungkin saya harus cari kost-kostan secepatnya. Karena kalau terlalu lama tinggal di sini khawatir jadi fitnah." Untung nya Raisya mendahului Aisyah, sehingga Aisyah tidak repot-repot harus bicara lagi.
"Baik mbak. Jika itu keinginan mbak. Saya dan suami insyaallah akan membantu jika mbak Raisya ingin mencari kost-kostan." Semula Aisyah ingin Raisya tinggal di rumahnya. Tapi karena Anwar merasa riskan, Aisyah tak bisa memaksakan kehendaknya. Ada benarnya juga apa yang dikatakan suaminya. Bisa jadi niat nanti menolong, malah akan menimbulkan fitnah kedepannya.
Aisyah pun mengantarkan Raisya ke kamar nya yang sudah siap ditempati.
Di lain tempat Ratna dan Irwan masih sibuk mencari Raisya.
"Beb.. apa kita laporan aja ke polisi?" Ratna menoleh ke arah suaminya.
"Kita ngobrol dulu sama kak Sarah, jangan mengambil tindakan sendiri. Nanti kita bisa disalahkan." Jawab Irwan memberi saran.
"Aku jadi kesel sama Jacky beb. Tahu istri lagi hamil kenapa gak bisa sabar dulu! Kalau pernikahan mereka lanjut aku khawatir dia kaya Nathan. Gampang emosian." Ucap Ratna khawatir.
__ADS_1
"Sudahlah! Jangan banyak pikiran! Sekarang bagaiman caranya menemukan Raisya, itu saja dulu!" Irwan memberi saran agar Ratna fokus pada pencarian Raisya.