
"Maksud kamu?" Nathan menatap tajam pada Reza dengan rasa kesal.
"Siapa yang telah menganiaya Raisya sampai begini pak?" Reza memperlihatkan foto-foto yang dikirim Ratna pada Reza. Entahlah Reza bertanya karena tidak tahu atau sedang menguji Nathan.
"Sudahlah sekarang kamu bekerja!" Nathan menatap sekilas foto itu lalu membuka layar komputer nya. Tidak menanggapi Reza lebih lanjut.
"Tapi pak! Saya mohon jangan libatkan saya! Saya tidak bersalah apapun!" Wajah Reza yang biasa kalem sekarang malah terlihat cemas setelah menerima foto kiriman dari Ratna. Reza berkata seperti itu seolah dia sudah tahu bahwa Nathan pelakunya. Selintas kemarin Reza melihat Raisya waktu dibawa memakai blankar. Tapi karena waktu itu Reza terburu-buru dan ragu, akhirnya dia memutuskan pergi mengurus pemindahan Michel.
"Kamu bisa tidak fokus bekerja?" Sebenarnya kepala Nathan pun agak berdenyut memikirkan hal itu. Dia sedikit banyak juga kepikiran sama, atas perbuatannya pada Raisya.
"Baik pak!" Reza berlalu dari meja Nathan. Dan kembali ke mejanya dengan semua kebingungan. Seumur dia bekerja, baru kali bosnya arogan seperti itu. Kini ruangan itu hening tak ada suara, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Semua orang yang ada di ruangan itu seolah terlihat tenang padahal hatinya bergejolak panas dan siap kapan saja meledak. Ketenangan yang menghanyutkan bahkan ibarat setenang air di sungai bawahnya berarus deras. Meresahkan.
Irwan mengirimkan chat lewat komputer pada Ratna.
"Lu gak masuk Rat?"
"Hooh."
"Wah.. gersang lagi kita. Pada ngadu pedang gak ada cewek."
"Dasar mesum akut!"
"Eh, elu ngapain cuti sih? Bukannya elu kemarin ikut Raisya ke Bandung? Itu gak cukup apa?"
"Belum. Masih kurang."
"Lah gajian elu bakal langsung nguap Rat!"
"Bodo amat! Uang, uang gue! Kenapa ikut riweuh sih?"
"Kali aja elu butuh gue buat ngabisin gitu!"
"Thanks! Gue gak butuh cowok matre dan kere seperti Lu pada!"
"Sembarang aja! Siapa yang kere? Yang pantes jadi kere tuh ikan. Bukan gue Ratna!"
"Udah kerja! kerja! Keburu lapuk lu! Si bos kayanya melototin elu Irwan!"
__ADS_1
"Iya. Masa iya juga dia meremin gue Rat!"
"Udah dulu! Gue mau kerja jarak jauh nih! Biar cuti gue gak sia-sia."
"Eh.. elu cuti berapa lama sih?" Irwan masih saja keukeuh menghubungi Ratna.
"Semau gue! Gue dapet dispensasi khusus dari si bos."
"Elu dusta Rat! Mana mungkin bos killer kaya dia ngasih dispensasi!"
"Tanya aja pak Reza kalau gak percaya."
"Emang elu kuat gituh entar dikasih kerjaan numpuk?"
Dari kemarin aja gue udah kerja kok di Bandung sama bos."
"Wah? Beneran?"
"Iya. Sial banget gue. Dikira mau liburan malah gawe!"
"Syukurin! Makanya ngajak gue! Aman loh semalam dunya."
"Dunya hayalan elu kali!"
"Iya pak!" Jawab Irwan tak mau mendapatkan masalah, dia cepat menjawab.
"Sekalian daftar model yang periode lalu dan surat kontraknya!"
"Baik pak!" Irwan langsung berdiri meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah Nathan.
"Pak sekarang mau rapat sama pak Adam?" Reza bertanya pada Nathan tentang schedulenya hari ini.
"Iya. Aku menunggu Irwan membawa sample produk."
"Baik saya akan hubungi pak Adam kalau begitu." Reza mengatur pekerjaan Nathan agar cepat selesai satu-satu.
"Ini pak sample dari desainer kita. Dan ini surat kontrak dan profil yang bapak minta." Irwan menyerahkan barang yang Nathan minta.
"Irwan kalau foto-foto produk sudah kamu kontrol? Sesi pemotretan apa sudah selesai untuk periode sekarang?"
__ADS_1
"Sudah pak! Tinggal sesi pemotretan bersama model menunggu keputusan perusahaan." Irwan menyampaikan informasi pada Nathan.
"Baiklah kita langsung ke ruang rapat." Nathan langsung berdiri dan membawa berkas-berkas yang dibutuhkannya. Diikuti semua stafnya ke ruang rapat bersama.
Semua memasuki ruangan rapat tak terkecuali Jacky dan Adam juga tim desainer. Jacky mewakili dari staf keuangan. Dan Adam memimpin rapat kali ini.
"Mana Raisya?" Adam tak melihat Raisya di ruangan rapat.
Semua hening. Jacky menatap tajam pada Nathan dengan tatapan penuh dendam. Yang ditatap hanya melihat ke lain arah.
"Pak Jacky!" Adam melihat Jacky menunggu jawabannya.
"Dia sakit."
"Sakit?" Adam mengernyitkan dahinya.
"Baiklah kemarin bu Raisya mengusulkan beberapa idenya untuk tim pemasaran. Apakah ada yang bisa disampaikan pak Nathan?" Tanya Adam.
"Kami belum bisa memutuskan model yang mana yang akan digunakan, sementara dari pihak pusat masih ada kontrak model juga."
"Maaf Pak, saya memotong pembicaraan." Ketua tim desainer mengacungkan tangannya.
"Baik silahkan!" Adam mempersilahkan tim desainer yang dipimpin oleh Roy untuk mengungkapkan pendapatnya.
"Saya setuju dengan usul bu Raisya waktu itu. Saya rasa idenya juga masuk akal. Kenapa kita tidak coba model dari Asia. Bahkan untuk sekelaa Eropa saja sudah menggunakan model Korea dan itu terbukti berhasil. Produk kita juga cocok untuk pasar lokal dan luar. Kenapa kita tidak pakai model Korea untuk menaikkan pemasaran dan branded merk kita di pasar dunia. Sementara ini kita masih terikat kontrak juga dengan salah satu model Eropa yang telah dikontrak pusat. Untuk penambahan saja sih kita gunakan model Korea. Kita bisa jumpa Fans dengan para kaum elit dan pelanggan kita dengan mengundang mereka kesini, sebagai peluncuran produk baru."
"Bagaimana untuk pihak keuangan apakah bisa mengeluarkan budget untuk biaya peluncuran produk dan pemasaran?" Adam melihat Jacky.
"Menurut aku sih bisa. Selain kontrak mereka lebih murah dari para model Eropa, mereka juga berhasil mengangkat penjualan di beberapa negara. Kenapa kita tak mencobanya?"
"Tapi ada yang harus diputus juga kontrakya agar budget perusahaan tidak membengkak. Disini ada beberapa model yang kontraknya hampir habis. Silahkan dibuka!" Adam mempersilahkan semua anggota rapat untuk membuka file daftar model yang hampir habis masa kontraknya dengan perusahaan branded merk perusahaan keluarga Robert.
Nathan yang tadi tidak sempet membuka lembaran itu baru membukanya sekarang di forum rapat. Hatinya begitu terkejut melihat daftar profile para model yang siap di lepas kontraknya. Dalam lembar itu pula ada beberapa model yang masih masa perpanjangan kontrak. Sayangnya itu sudah ditentukan pusat.
Nathan melihat lamat-lamat salah satu model yang habis masa kontraknya dan tidak bisa diperpanjang masanya. Dia merasa kasihan dan malah memikirkan nasibnya bukan memikirkan bagaimana perusahaan ini ke depan.
"Bagaimana? Adakah usulan dari kalian untuk model yang akan dipakai perusahaan? Siapa diantara artis atau model Korea yang kira-kira daya jualnya lebih baik?"
"Duh manusia plastik!" Jacky bicara begitu saja.
__ADS_1
visual Ratna