
Sebulan sudah tak terasa Nathan meninggalkan Michel. Ini hari terakhir dia tinggal di Bali setelah berkunjung ke beberapa tempat. Untuk melakukan pemotretan juga kerjasama dengan pemerintah. Dia berhasil menaikkan daya beli konsumen yang cukup besar atas pembelian produk branded yang lumayan mahal.
Gerai-gerai baru pun dibuka atas permintaan konsumen di beberapa daerah untuk memenuhi kebutuhan belanja mereka.
Nathan sedang memilah dan memilih barang untuk oleh-oleh di sebuah butik ternama di kota Denpasar. Seumur hidupnya baru kali ini dia mampir untuk membeli barang perintilan khas kota Bali, beberapa baju juga asesoris perempuan.
"Wah barangnya bagus-bagus pak Nathan." Ucap Reza yang sama-sama sedang memilih barang untuk oleh-oleh.
"Hhmm." Hanya deheman yang diberikan Nathan karena dia sedang fokus memilih barang.
"Wah.. itu buat siapa pak? Bagus banget motifnya, sutra lagi." Cicit Reza yang sepertinya sedang senang mendapatkan traktiran dari Nathan. Tidak senang bagaimana, semua oleh-oleh yang Reza beli masuk dalam billing Nathan. Semuanya ditanggung Nathan.
Nathan hanya melirik sebentar lalu kembali memberikan barang-barang yang dianggapnya cocok pada pelayan butik.
"Bapak sudah selesai belanjanya?" Reza melihat paper bag sudah banyak menumpuk. Pastinya Reza akan repot untuk menata barang-barang Nathan ke koper.
"Hhhmm." Nathan seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Dimana aku harus mencari toko perhiasan dengan batu khas bali?" Nathan teringat waktu Hendrik memberikan sebuah cincin pada Raisya. Entahlah hari ini acara belanjanya jadi panjang hanya untuk memilihkan barang-barang wanita.
"Oh ada pak. Jika pak Nathan sudah selesai belanjanya disini. Nanti saya akan antar ke tempat yang bapak mau. Di sana juga banyak pilihan pak. Turis mancanegara sering memesan perhiasan khas Bali dari sana." Ucap Reza sangat antusias.
Barangkali dengan dia mengantarnya ke sana dia bisa kecipratan dibelikan perhiasan untuk oleh-oleh buat ibunya. Kebetulan Reza belum mempunyai pacar.
__ADS_1
"Mmm. Antar aku ke sana sekarang dan bawa semua ini ke dalam mobil! Aku akan membayar dulu billing nya." Ucap Nathan sambil mengeluarkan sebuah kartu debit.
Reza dengan senang hati dibantu pelayan membawa semua barang belanjaannya ke dalam mobil. Walaupun Nathan arogan tapi dia loyal untuk perihal materi. Selama Reza menemani Nathan tidak sedikit dia kebagian bonus uang untuk jatah di luar jam kerjanya.
Heran.. pak Nathan membeli segini banyak oleh-oleh buat siapa? Apa untuk mbak Ina? Itu gak mungkin. Atau untuk dikirim ibunya Michel? Ah itu pun aku tak tahu. Kelihatannya dia antusias membeli barang-barang wanita.
Reza bermonolog.
Setelah selesai memasukkan semua barang. Nathan dan Reza pergi menuju toko khusus perhiasan khas Bali.
Di sana banyak aneka pilihan bahkan bisa memesan sesuai dengan selera pembeli.
Nathan memilih sebuah kalung dengan berhiaskan batu khas Bali. Sengaja dia memilih warna biru karena menurutnya orang yang akan diberinya sering memakai baju warna itu. Kalung itu terlihat mewah apalagi dengan rantai lilitan emas putih yang berkilau di kalung itu.
"He iya Pak. Saya ingin membelinya untuk ibu saya." Reza memilih barang sama yaitu kalung.
"Ya sudah gabungkan saja!" Pakai kartu ini!" Nathan memberikan sebuah kartu untuk membayar barang yang dibelinya.
"Baik Pak. Terima kasih banyak." Reza membungkukkan badan sambil menerima kartu pemberian Nathan.
Nathan berjalan keluar lalu duduk di halaman toko perhiasan sambil menyesap rokok.
POV Nathan.
__ADS_1
Entahlah apa niat Jacky mengalihkan Raisya ke divisi ku. Buatku sih oke-oke saja walaupun bu Mia bersikukuh mempertahankan Raisya buat aku tak masalah siapapun yang bekerja denganku.
Hari demi hari aku merasa seperti terikat dengannya. Apalagi Michel yang tak bisa terlepas dari Raisya.
Aku sangat kesal sekali dan emosi ku gampang naik susah dikendalikan. Beberapa kali aku terlibat penganiayaan akibat emosi ku tak bisa dikontrol. Ya.. ini kejadian pertama yang aku lakukan di Indonesia. Aku telah menganiaya perempuan itu. Aku sebenarnya merasa bersalah apalagi ketika Jacky membawanya satu ruangan dengan Michel. Itu benar-benar menyiksa batinku. Aku disiksa oleh perasaan bersalah. Sampai satu malam aku sengaja mengendap-ngendap untuk masuk ke ruangannya untuk melihat seberapa parah dia terluka. Begitu mendekati wajahnya aku merasakan desiran aneh yang masuk ke dalam tubuh ku. Apakah itu aku pun tak tahu. Sampai aku pun tak bisa mengendalikan diri tergoda untuk menyentuh bibirnya ketika tidur. Itu adalah kali pertama aku mencium seorang wanita. Rasanya benar-benar tak bisa dibayangkan.
Setelah ciuman itu aku selalu tak bisa melupakan bayangan perempuan itu. Meski aku sudah menipisnya. Walaupun aku sedang memikirkan Sherly entah kenapa malah wajah dia yang muncul.
Aku tak Terima dia dekat dengan laki-laki manapun. Aku seperti tidak rela jika dia sedang bersama orang lain.
Kali kedua aku malah menamparnya kembali setelah di rumah sakit dulu. Aku benar-benar tidak berniat menyakitinya, tapi aku tak suka kalau aku dibantah ataupun ditolak.
Setelah melihatnya menangis di dalam mobil ada rasa kasian dan penyesalan dalam diriku. Tapi aku tak tahu aku harus bagaimana. Sehingga aku sengaja menurunkannya agar dia tidak tersiksa satu mobil denganku.
Beniat mengurangi tekanan dia malah tidak masuk kerja. Aku sangat marah ketika mendengar dia sedang bersama laki-laki lain yang memaksaku ingin menemuinya di tempat kerjanya.
Dan lagi-lagi aku merasa sakit ketika dia mengucapakan akan keluar dari perusahaan dan memilih bekerja di kantor konsultan bersama laki-laki yang mungkin saja dia nyaman bersama mereka.
Aku tak terima hal itu. Dan aku tak mengerti dengan diriku sendiri, apa yang sudah menguasai diriku sampai-sampai aku lepas kendali ingin mem**** agar dia tak berani lagi melawa bahkan akan terikat selamanya denganku.
Untung saja panggilan itu datang sehingga otak warasku dipaksa kembali. Aku merasa bersalah pada dia. Sehingga Tuhan menghukum aku dengan demamnya Michel. Aku mudah panik jika menyangkut Michel.
Aku terpaksa meninggalkan Michel bersamanya walau sebenarnya aku malu telah menyakiti hatinya juga fisiknya. Dia kelihatan takut. Semenjak itu dia selalu penurut walau aku tahu dia menyimpan kebencian yang cukup besar padaku. Aku mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya berharap itu mengurangi rasa bersalah ku.
__ADS_1
Dan hari ini adalah hati terakhir aku bekerja jauh darinya. Aku seperti rindu ingin segera bertemu. Seumur hidupku aku belum pernah membeli barang sebanyak ini untuk seorang wanita. Aku sengaja membeli banyak barang untuknya semoga dia memaafkan kekurang ajaranku waktu itu.