
Hari weekand biasanya Raisya menghabiskan waktu dengan Arsel dan kadang-kadang dengan Michel juga. Seperti hari ini Arsel diantar sopir sedangkan Michel diantarkan Jacky dengan membawa segala aneka makanan juga cemilan lainnya yang dianggap bisa membuat Raisya senang.
Sengaja Jacky mengantarkan Michel ke rumah Raisya agar dia bisa bertemu dan bisa mengobati rindunya meski hanya bisa melihat nya tanpa bisa menyentuhnya.
"Eh.. kak Michel masuk yuk! Mama sudah masak. dari tadi pagi." Sambut Aisyah yang membukakan pintu.
"Terima kasih tante." Ucap Michel ramah. Dia langsung berlari ke dapur mencari Raisya yang sudah dianggap sebagai ibu kandung nya sejak kecil. Hati Michel tetap sangat menyayangi Raisya meski dia kini sudah tinggal bersama Sherly.
"Ma.. " Michel langsung memeluk Raisya dari belakang. Rasa rindunya seolah terobati begitu dia memeluk Raisya. Hari week and adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu Michel agar bisa bertemu dengan Raisya. Seminggu rasanya seperti setahun karena saking merindukan bertemu dengan mama yang telah membesarkannya dengan tulus.
"Eh.. sayang.. sudah sampai?" Raisya memutar tumit untuk membalas gadis bermata biru putri dari mendiang suaminya. Tak lupa dia mematikan kompor agar masakannya tidak gosong. Dipeluknya dengan erat dan diciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Arsel mana ma?" Michel tidak melihat Arsel.
"Ada sama paman Anwar. Dia seneng banget kalau Arsel datang jadi langsung diajak jalan-jalan." Jawab Raisya yang harus membagi kebahagiaan dengan pasangan yang belum memiliki anak itu dengan memberikan gak asuh putranya jika datang. Dia bersyukur mempunyai orang-orang baik di sekelilingnya.
"Wah.. udah lama?" Tanya Michel yang mang datang agak terlambat setelah tadi menghabiskan waktunya dengan Sherly terlebih dahulu.
"Ya sebentar lagi juga pulang. Kan mau makan bareng." Ucap Raisya menguraikan pelukannya.
"Mbak ini disimpan dimana?" Tanya Aisyah yang membantu membawakan oleh-oleh bawaan Jacky.
"Sebagian boleh ditata di meja makan separuh lagi boleh disimpan di meja keluarga. Kalau yang basah-basah masukin saja ke kulkas." Pinta Raisya yang sudah tahu bahwa itu dibawa Jacky.
"Wah..sudah ready nih masakannya." Ucap Jacky duduk di kursi makan yang hampir saja air liurnya menetes karena aneka makanan yang sudah terhidang di atas meja makan.
Raisya hanya tersenyum tipis. Tidak menanggapi sedikitpun pembicaraan Jacky.
__ADS_1
"Ayo duduk sayang! Kamu sudah cuci tangan?" Tanya Raisya pada Michel.
"Belum ma." Jawab Michel.
"Cuci dulu sayang. Sebentar lagi kita makan bareng ya! Nunggu Arsel datang sama paman Anwar." Raisya pun membuka kain celemek yang menempel di badannya. Dan menggantung kain itu di atas kastop. Lalu mencuci tangannya bareng dengan Michel.
"Apa kabar mommy kamu sayang?" Tanya Raisya menanyakan ibunya Michel.
"Alhamdulillah sekarang membaik ma. Sesudah terapi ada kemajuan. Selera makannya juga meningkat. Mama belum tahu ya kalau Michel bakal punya adik lagi?" Michel berbicara sambil berbisik.
"Oh ya?" Raisya agak melebarkan matanya mendengar Sherly sedang hamil. Ada rasa sakit yang Raisya rasakan saat ini mengingat kehadiran perempuan itu menggantikan posisinya di samping Jacky. Tapi apa mau dikata, takdir juga yang menentukan. Raisya segera menepis rasa yang pernah hadir di hatinya. Tidak mudah memang melupakan orang yang pernah dicintai apalagi saat ini selalu saja jadi bayang-bayang dalam kehidupannya. Rasa madu yang akan segera direguk dipaksa untuk dibuang, itu benar-benar menyakitkan. Meski Raisya selalu ketus ketika bertemu dengan Jacky, tetapi di dalam hatinya masih bersarang sesuatu yang indah ketika kebersamaannya dengan Jacky. Dan itu tidak mudah Raisya lupakan.
"Mmm." Michel memeluk Raisya. Dia tahu bahwa perempuan di depannya terlihat berkaca-kaca. Meski tidak berkata tapi mata bicara.
"Sudah.. ayo kita duduk!" Raisya pura-pura senyum untuk menyembunyikan semua perasaan yang sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya Jacky telah menemukan syurga nya bersama Sherly. Kalaulah dia dulu tidak hamil karena kecelakaan, mungkin sekarang dirinya lah yang sedang mengandung.
"Mama.. " Arsel berlari mendekati Raisya lalu memeluknya. Wajah tampan dan lucu itu membuat tiap orang gemas kalau melihatnya.
"Duh anak mama darimana?" Raisya langsung mengangkat tubuh Arsel dan menciumnya.
"Ah.. geli ma.. " Arsel tertawa menahan geli. Raisya malah terus saja menciumnya karena gemas melihat anak laki-laki nya yang sudah satu minggu ini tak dilihatnya.
Jacky yang melihat kedekatan Raisya dengan Arsel terus saja menatapnya. Dia merasa bahagia melihat perempuan yang dicintainya itu tersenyum bahagia jika didekat putranya.
Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Seandainya dia tidak bercerai, mungkin dia tiap hari akan selalu melihat pemandangan indah ini bersama. Sesal memang tidak datang diawal. Jika sudah begini rasanya Jacky ingin kembali ke masa itu. Dimana dia merasakan bahagianya bersama Raisya meski sangat sebentar. Tapi kenyataannya waktu yang sebentar itu tak bisa mudah hilang dari ingatannya.
"Ayo cuci tangan dulu sayang. Sama ammah Aisyah." Aisyah menyapa Arsel untuk membantunya mencuci tangan.
__ADS_1
"Cuci dulu ya sama tante. Nanti kita makan bareng disini semuanya." Raisya menyerahkan Arsel untuk digendong oleh Aisyah. Aisyah sangat senang sekali mengasuh Arsel. Dia sudah menganggap nya seperti anaknya sendiri. Bahkan ketika week and mereka selalu menggelar kasur bersama di ruang anak agar bisa bercengkrama bersama.
"Ayo duduk dekat sama kakak!" Raisya menarik kursi untuk Arsel.
"Ayo kita makan! Jangan lupa berdoa!" Para laki-laki mengambil lebih dahulu lalu diikuti Raisya dan Aisyah mengambil nasi lauk pauk. Tak lupa Raisya mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Michel dan Arsel. Mereka makan khusyuk bersama di atas meja makan dengan menu masakan yang telah disediakan oleh Raisya juga Aisyah.
"Mbak jadi akan pergi tugas ke luar kota?" Anwar melihat ke arah Raisya. Dia bertanya memastikan kabar yang diterimanya dari istrinya Aisyah.
"InsyaAllah." Jawab Raisya singkat.
Jacky yang mendengar pembicaraan antara Anwar dan Raisya ikut bicara.
"Memangnya kamu mau berangkat kemana?" Tanya Jacky sambil melihat ke arah Raisya.
"Kalimantan." Jawab Raisya dengan tidak menatap Jacky.
"Kapan kamu berangkat?" Tanya Jacky tiba-tiba merasa khawatir.
"Senin."
"Memangnya apa yang dilakukan kamu disana?" Jacky penasaran dengan tugas Raisya disana. Setahu dia, Raisya sebagai staff keuangan.
"Mengaudit anak perusahaan di sana." Jawab Raisya jujur.
"Berapa lama kamu di sana?" Jacky ingin memastikan berapa lama Raisya akan bekerja di luar pulau.
"Ya.. sampai selesai. Tidak tahu berapa lamanya di sana." Jawab Raisya sambil mengunyah makanan.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja dari perusahaan itu. Jika kamu ingin bekerja, kamu bisa bekerja di perusahaan papih. Menurut aku perusahaan itu tidak cocok untuk kamu. Perusahaan itu terlalu beresiko tinggi." Jacky yang sudah mencari tahu tentang perusahaan yang kini memperkerjakan Raisya agak khawatir akan keamanan perusahaan itu.