
Di pagi hari itu semua orang sudah semangat. Agar tidak terlalu panas sengaja Raisya dan yang lainnya sudah siap-siap sejak pagi.
Pagi ini Anwar membawa mobilnya Raisya agar mobilnya lebih nyaman di bandingkan mobil kepunyaan Anwar.
"Gimana anak tampan sudah siap?" Tanya Anwar menoleh ke belakang.
"Ciap paman." Arsel begitu semangat. Dia terlihat gembira begitu kemarin Anwar akan mengajaknya ke kebun binatang. Karena selama ini anak itu belum pernah mengunjungi kebun binatang.
"Mbak.. kalau Michel bagaimana? Apa dia jadi ikut?" Tanya Aisyah menanyakan Michel.
"Katanya sih jadi. Tadi mbak sudah kirim pesan kita akan berangkat jam 7 pagi. Biar gak panas sampai sana. Mungkin kita bertemu disana nanti biar tidak saling menunggu." Jawab Raisya. Sebenarnya dia pun sedang menunggu kabar dari Michel.
Kring
Kring
Kring
Raisya mengambil benda pipih dari dalam tas tentengnya.
"Baron?" Raisya agak mengernyitkan dahi. Dia bertanya-tanya ada apakah gerangan sang bos menelpon di hari libur.
Raisya menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaikum." Sapa Raisya sambil menempelkan pada telinganya.
"Waalaikumsalam Raisya. Kamu lagi dimana? Aku ada di depan rumah kamu." Baron bertanya dari seberang telepon.
"Oh.. bapak ke rumah saya?" Tanya Raisya membuat semua orang yang ada di mobil melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Iya. Ini sudah parkir di depan rumah." Jawab Baron yang dari tadi memijit belt tapi tak juga dibuka.
"Maaf pak. Saya sedang di perjalanan." Jawab Raisya yang terlihat bingung dengan kedatangan atasannya yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
"Oh.. kamu sedang ada di luar?" Tanya Baron kembali.
"Iya pak. Kebetulan anak saya ingin pergi ke kebun binatang. Jadi kami tidak ada di rumah." Jawab Raisya memberitahu tujuan kepergiannya.
"Oh.. apa boleh kita bergabung?" Tanya Baron yang sejak semalam agak kewalahan menghadapi anaknya yang mau bertemu dengan Raisya. Terpaksa pagi-pagi sekali dia pergi ke rumah Raisya meski sebenarnya dia sangat malu harus bertamu sepagi itu.
"Bergabung?" Lagi-lagi Raisya kebingungan. Apa. maksudnya dengan kata bergabung yang dikatakan atasannya itu.
"Iya. Ini Nuri dan Imelda pengen bertemu kamu. Jadi.. apa boleh kita bergabung dengan kalian pergi ke kebun binatang?" Baron yang direngekin Nuri dari sampingnya begitu pusing menghadapi permintaan putri ke duanya itu.
"Oh... ya boleh-boleh saja pak. Kita mau ke kebun binatang Taman Safari. Kalau mau bapak menyusul saja. Saya juga belum jauh kok. Baru sekitar lima belas menit meninggalkan rumah." Ucap Raisya tak bisa menolak.
"Oh.. baiklah. Kita segera menyusul. Nanti kita bertemu di sana ya!" Ucap Baron sambil mengusap rambutnya melepaskan kebingungan yang sejak tadi malam menderanya. Sejenak dia bisa bernafas lega menghadapi rengekan putrinya itu karena ingin bertemu Raisya sejak semalam.
Raisya nampak gelisah.
"Bagaimana ini?" Gumamnya lirih.
Anwar yang mendengar Raisya bergumam melirik dari kaca spion depan.
"Ada apa mbak?" Tanyanya sambil melihat ke jalanan.
"Gak pa-pa." Raisya tak bisa menceritakan kegalauan hatinya. Bagaimana piknik kali ini akan menjadi moment yang menyenangkan kalau sampai Jacky dan Baron bertemu? Itu yang kini ada dalam pikiran Raisya. Kalau dirinya saja yang menghadapi itu tak masalah. Tapi bagaimana kalau anak-anak yang tidak tahu apa-apa. ikut menyaksikan? Bukan hanya malu, tapi itu akan menjadi kenangan buruk bagi mereka.
Aisyah menyentuh tangan suaminya yang diikuti dengan lirikan suaminya. Dengan bahasa isyarat Aisyah menanyakan apa yang sedang dipikirkan perempuan yang sedang duduk di belakang.
__ADS_1
Anwar hanya menggidikkan bahunya tanda dia tidak tahu apa-apa.
"Acel mau minum ma." Arsel yang merasakan tenggorokannya kering meminta minum pada Raisya.
"Oh ya sebentar ya!" Raisya pun merogoh tas yang ada di bangku belakang mencari botol air minum milik Arsel.
"Nih sayang! Raisya menyodorkan botol beserta sedotan air agar memudahkan Arsel meminumnya.
"Terima kasih ma!" Ucap anak itu yang sekarang terlihat lebih mandiri.
"Sama-sama sayang." Jawab Raisya menyimpan botol air itu tak jauh dari kursi agar mudah mengambilnya lagi.
"Ma.. ka Micel ikut ga ke kebun binatang?" Tanya Arsel yang ikut memikirkan kakaknya. Biasanya anak itu setiap week and selalu bersama. Momen itu dijadikan keakraban antara adik kakak yang kini hidup di rumah berbeda.
"Gak tau sayang.. mungkin nanti kakak menyusul. Sampai sekarang kakak belum mengabari mama, apa kakak mau ikut atau tidak." Jawab Raisya sambil mengelus pucuk kepala Arsel dengan sayang.
"Wah.. kasian kaka ma.. padahal kemalin kaka pengen ikut. Kenapa ayah malahin kaka ma?" Anak itu yang sudah mempunyai watak kritis tak bisa diam melihat kakaknya diperlakukan seperti itu.
"Bukan dimarahin sayang... tapi dinasehatin. Kakak kan punya tanggungjawab menjaga ibunya yang sedang sakit sayang.. jadi tidak bisa ikut dengan kita dengan bebas. Kakak mesti jaga ibunya." Jawab Raisya dengan penuh kelembutan. Rasanya dia pun tak tega melepas Michel berpisah dengan Arsel. Tapi bagaimana lagi? Toh ibu kandung nya lebih berhak atas anak itu ketimbang dirinya sebagai ibu tiri.
"Ma.. mama jangan sampai sakit ya! Acel sayang mama.. Acel gak mau belpicah sama mama.. " Arsel memeluk erat pinggang Raisya. Entah apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan anak itu sekarang.
Raisya memeluk Arsel. Aisyah melihat ke belakang melihat interaksi antara anak dan ibu itu. Suami istri itu ikut merasakan iba melihat keadaan anak dan ibu harus dipisahkan karena keadaan. Padahal anak sebesar itu masih memerlukan kasih sayang orang tuanya. Meski keluarga nya keluarga kaya tidak akan mampu memenuhi kasih sayang yang dibutuhkan Arsel yang masih berumur enam tahun itu.
Mata Raisya berkaca-kaca tak bisa menahan rasa sedih yang dia rasakan. Berpisah dengan anaknya karena keadaan yang memaksa mereka. Dia hanya diberi hak asuh ketika weekand saja. Tentu bukan tidak bisa menolak, tapi kekuasaan keluarga Alberto yang besar tak mampu Raisya lawan. Demi kebaikan, akhirnya Raisya pasrah menerima haknya yang diatur mereka.
"Arsel mau duduk di depan sama ammi?" Tanya Anwar sambil melirik dari arah spion. Laki-laki itu berusaha mengalihkan suasana sedih yang sedang dialami Raisya.
"Mau paman.. " Arsel melepaskan pelukannya dari Raisya. Arsel sangat senang sekali kalau dipangku sambil menyetir mobil.
__ADS_1
Arsel pun melangkah ke depan dan Aisyah membantu Arsel agar bisa duduk dipangkuan suaminya dan memasangkan kembali sabuk pengaman.
Arsel terlihat senang bisa duduk di sana. Wajahnya yang tampan langsung terlihat sumeringah. Raisya dan Aisyah tersenyum melihat Arsel yang bahagia bisa ikut menyetir.