
"Kenapa? Ada yang salah dengan penilaianku?" Tanya Jacky penuh selidik.
"Sudahlah Jack.. lelah rasanya ketika kita harus menuntut orang lain seperti yang kita inginkan. Sebaiknya nikmati hidup seperti air mengalir. Biar hati kita penuh kedamaian. Kamu bisa mencari hidup kamu sendiri tanpa harus menutup hati kamu. Bukankah di Korea banyak gadis cantik? Selama tujuh tahun terakhir ini masa iya tidak pernah jatuh cinta Jack?" Irwan menghela nafas.
"Tau lah Wan... gue gak banyak teman kaya elu di sana. Ya.. kalau main-main sih banyak.. tapi tau lah orang sana kaya gimana? Pada seneng main gak serius menikah. Gue juga mau tobat Wan. Pengen hidup bener. Cariin dong calon istri buat gue? Rasanya gue udah lelah harus jalan sana-sini tanpa tujuan." Terang raut Jacky terlihat tak bersemangat.
"Beneran lu mau gue catiint jodoh Jack?" Ratna menimpali obrolan lalu duduk menyiapkan makanan buat suaminya.
"Serius gue mau hidup beneran. Cari cewek yang bisa nentremin hati gue. Kaya elu Wan dapetin si Ratna. Gue nyesel juga lo Rat kenapa dulu gue gak kawin aja sama elu ya?" Omongan Jacky sudah mengacau. Pikirannya yang tidak stabil terkadang bicara secelutuknya.
"Eits.. katanya mau tobat. Istigfar lu!" Irwan agak sewot mengomentari omongan Jacky.
"Lagian juga kalau elu kawin sama gue, kayanya dunia terus perang Jack. Gak kaya suamiku yang satu ini yang lebih dewasa dan menentramkan." Ucap Ratna yang mengakui kedewasaan Irwan telah menundukkan egonya selama ini. Ratna yang terbilang labil seperti Jacky sangat beruntung mendapatkan suami Irwan yang pengertian juga sabar menghadapi sikapnya yang sering kekanak-kanakan.
"Makanya gue udah nyerah Wan sama jodoh. Tapi gue gak mau dijodohin sama perempuan yang bikin gue semakin memperburuk kwalitas hidup gue. Hidup gue sudah amburadul, tapi gue masih punya harapan buat ke depan ingin lebih baik. Makanya sebagai teman tolongin gue.. Cariin jodoh buat gue Wan.. " Jacky nampak memelas. Seganteng Jacky tidak mungkin yang tidak mau. Tapi wanita yang bagaimana yang cocok bisa bersanding dengan duda ting ting ini.
"Jadi elu ceritanya minta ditaarufin?" Ratna gak menyembunyikan senyumnya.
"Iyalah.. terserah elu mau taaruf mau langsung juga gak pa-pa. Asal cocok buat membuat gue jadi lebih baik." Ucap Jacky serius.
"Mmm.. sebetulnya sih menurut aku, elunya dulu yang harus bener Jack! Kasihan juga kalau perempuannya baik, sholehah.. elu kagak pernah ibadah. Kan harus jadi imam bukan diimamin cewek. Bener gak yang?" Ratna melirik ke arah Irwan.
"Betul-betul. Itu baru bini gue." Irwan mengulum senyum sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Iya deh. Gue harus belajar ibadah. Bantuin cari guru!" Jacky memelas manja. pada Ratna sama Irwan. Seperti Jacky sudah benar-benar serius ingin berubah.
"Iya entar gue tanya-tanya buat privat elu. Beneran elu serius?" Ratna menatap Jacky untuk melihat sejauh mana keseriusannya.
__ADS_1
"Seriuslah.. gue mumpung ke Indo nih. Jadi bisa belajar." Jacky asik menyuap spageti dicampur ayam geprek kesukaannya.
Ratna dan Irwan saling memandang.
"Iya.. entar gue usahain ya InsyaAllah." Ucap Irwan sambil memikirkan kira-kira siapa yang bakal jadi gurunya Jacky.
Di lain tempat di rumah sakit sepeninggal Raisya, Nathan asik menonton bersama Michel lewat layar tabletnya. Dia sedang menonton film komedi. Michel bingung untuk menghibur ayahnya.
Berbeda seperti kemarin sewaktu dengannya Raisya, Michel bisa bermain layaknya anak-anak bersama Arsel. Kadang mendengarkan cerita dari Raisya dan Ratna menceritakan masa mudanya dahulu yang tidak membosankan.
Krekk
Suara pintu terbuka, muncul tuan Robert dan Reza dari balik pintu.
Michel agak ketakutan begitu melihat sosok kakeknya yang agak galak. Nathan langsung memegang tangan anaknya walau genggamannya tidak terlalu kuat.
Setelah kemarin berbicara dengan dokter, tuan Robert rupanya menyesali perbuatannya. Stress merupakan penyebab utama Nathan drop. Sekarang dia berniat ingin memperbaiki kesalahannya.
Reza telah melaporkan keadaan Nathan juga Raisya. Dia baru mengetahui bahwa Raisya mempunyai anak dari Nathan. Tuan Robert benar-benar menyesali perbuatannya yang telah mengusir cucunya sendiri. Sejak hari ini dia akn mengabulkan keinginan Nathan juga Michel. Dia tak ingin kehilangan Nathan juga cucu tersayangnya.
Tuan Robert mendekati ranjang Nathan. Dia mengusap lembut Michel dan juga Nathan.
"Papih akan mengabulkan keinginan kamu menikahi Raisya dengan satu syarat. Kamu mesti cepat sembuh. Papih akan melamarnya untuk kamu." Tuan Robert ingin memberitahu Nathan sesegera mungkin agar Nathan senang. Dia berharap kesehatan Nathan akan membaik.
Nathan tersenyum bahagia. Michel menatap wajah ayahya, dia ikut senang mendengar kakeknya setuju akan meminangkan Raisya untuk ayahnya.
"Ayo dad.. cepet sembuh! Michel tak sabar ingin pergi menyusul ke Bandung." Michel dengan wajah berbinar mengajak bicara pada ayahnya.
__ADS_1
Nathan hanya mengangguk setuju.
"Reza siapkan segalanya! Begitu Nathan sembuh kita akan pergi ke Bandung melamar baik-baik pada keluarganya. Setelah kamu sembuh kita akan buat pesta besar-besaran." Ucap. tuan Robert yang bertekad ingin menebus kesalahannya pada Nathan juga Raisya yang telah memberinya keturunan laki-laki.
"Baik pak." Reza mengiyakan apa yang diperintahkan oleh tuan Robert.
"Michel.. kamu mau pulang?" Tanya tuan Robert yang ikut mengkhawatirkan keadaan anak itu karena terlalu lama tinggal di rumah sakit.
"Michel mau sama daddy di sini." Jawab Michel sambil melihatnya. Tangan Michel menggenggam erat tangan Nathan seolah meminta perlindungan. Michel belum percaya seratus persen pada kakeknya.
"Kamu gak capek?" Tuan Robert mengamati wajahnya detail. Khawatir anak itu kelelahan karena sudah hampir satu minggu tinggal di rumah sakit.
"Tidak." Michel menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau Michel masih mau tinggal disini. Nanti kakek bawakan keperluan Michel dan makanan yang Michel mau. Michel tinggal bilang saja sama om Reza." Ucap tuan Robert tak mau dia menelantarkan cucunya begitu saja meski di sana fasilitasnya sudah terjamin.
"Iya kek. Terimakasih." Ucap Michel dengan hormat.
Tuan Robert mengusap pucuk kepala Michel lembut.
"Kakek pulang dulu ya! Kamu cepet sembuh!" Tuan Robert memberi motivasi pada Nathan agar cepat sembuh.
Tuan Robert pun berlalu keluar ruangan tinggal Michel sendirian.
Michel perlahan memiringkan kepala dipinggiran kasur. Rupanya anak itu mengantuk. Nathan mengelus lembut kepala Michel.
"Assalamualaikum." Seseorang mengucapkan salam lalu membuka pintu. Nathan melihat tajam ke arah pintu ruangannya. Nampak wajah yang sudah dikenalinya masuk ke ruangan dan mendekatinya.
__ADS_1