Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kecelakaan


__ADS_3

Hari itu mereka pun pergi ke lokasi pertambangan. Baron sedang survei lapangan memeriksa kondisi pertambangan.


"Ra.. kamu disini aja ya! Di sana panas. Biar aku dengan pak Baron saja yang masuk ke pertambangan. Lagian di sana rawan kecelakaan. Ini juga sedang memeriksa lokasi rawan." Jason melarang Raisa ikut masuk ke dalam terowongan dimana para pekerja tambang keluar masuk. Jason mengkhawatirkan Raisya jika dia ikut masuk ke dalam. Dan anehnya panggilan Jason sama persis dengan panggilan Jacky pada Raisya yang membuat telinga Raisya tidak asing. Entah tanda apa ini?


"Ya, aku di sini saja! Kayanya serem juga kalau ikut ke dalam." Raisya menurut patuh apa yang dikatakan Jason padanya. Dia duduk di post sambil melihat aktifitas lalu lalang di tambang batubara yang lumayan ekstrem.


Jason dan Baron pergi memantau kondisi pertambangan ditemani beberapa pegawai nya. Menurut laporan memang ada beberapa titik rawan yang harus diperbaiki agar kondisi pertambangan tidak membahayakan pegawai tambang.


Raisya duduk di post ditemani beberapa pegawai tambang yang sedang beristirahat setelah jam shift berganti.


"Nona sepertinya pegawai baru?" Salah satu pegawai bertanya pada Raisya.


"Betul. Saya pegawai pak Baron tang dibawa dari Jakarta. Tepatnya saya seorang audit pak." Raisya tak ingin membuat pandangan orang lain jadi berbeda bahkan curiga.


"Oh.. pantesan saja terlihat dekat." Orang itu menganggukkan kepalanya lalu kembali mengamati monitor di depannya.


"Bapak petugas apa disini?" Raisya balik bertanya. Dia ingin tahu apa yang dikerjakan laki-laki yang sedang memantau monitor di depannya.


"Saya pengawas. Tugas saya mengamati dan melaporkan kondisi pertambangan. Dari balik monitor ini saya mengawasi para pekerja juga kondisi dalam pertambangan yang dikira rawan ataupun tidak." Jawab laki-laki itu yang matanya sedang serius melihat layar monitor.


"Oh.. "


"Nah.. ini lift yang sedang dinaiki pak Baron juga pak Jason. Dan titik ini adalah beberapa pekerja dan ini kondisi terowongan." Laki-laki itu lancar berbicara meski Raisya tak bertanya.


"Oh.. begitu pak." Raisya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.

__ADS_1


"Waduh.. gawat!" Laki-laki itu panik begitu melihat sesuatu di layar menunjukkan hal yang membahayakan. Laki-laki itu langsung menggunakan speaker yang menghubungkan dirinya dengan pekerja tambang yang berada di lokasi pertambangan.


"Perhatian semua yang berada di titik 14 harap keluar!" Sebuah sirene ditekan untuk menyatakan lokasi dalam bahaya.


Raisya mengernyitkan dahi, "Ada apa pak?" Tanya Raisya panik. Jangan-jangan ada bahaya yang sedang mengancam di lokasi ya g sedang dikunjungi Baron dan kawan-kawan.


"Tolong langsung hubungi tim untuk evakuasi!" Laki-laki itu bukan menjawab, tapi malah menyuruh rekannya untuk menghubungi tim lain untuk menolong beberapa pekerja tambang.


Tak lama orang berhamburan dari pintu masuk dan beberapa alat berat didatangkan di lokasi juga tim medis untuk menolong para pekerja yang kecelakaan juga terjebak.


"Pak... bagaimana dengan pak Baron dan kawan-kawan?" Raisya setengah berteriak mengkhawatirkan kondisi mereka.


"Tenang! Kami sedang berusaha menyelamatkan semuanya." Jawab laki-laki itu kembali sambil memantau layar monitor dan mengarahkan orang-orang yang berada di dalam dan tim evakuasi. Semua terlihat sibuk dan panik melihat bahaya yang berada di lokasi titik rawan yang terjadi kecelakaan.


"Ya Allah... semoga semuanya selamat!" Lirih Raisya dengan hati tak tenang. Matanya terus mengamati orang yang berlalu lalang berharap diantara mereka ada Baron dan kawan-kawan yang tadi masuk ke dalam.


"Maaf.. komunikasi putus. Sepertinya mereka terjebak di dalam." Ucap Laki-laki itu menduga rombongan Baron dan kawan-kawan terjebak longsor di dalam tambang.


"Ya Allah..." Raisya tak kuasa mendengar berita itu. Dia menutup wajahnya tak tahu harus berbuat banyak.


Raisya mondar-mandir dengan melafalkan doa-doa, berharap semuanya selamat. Pandangannya tertuju ke pintu dimana orang-orang keluar dari pintu tambang.


Raisya tanpa sadar, melangkahkan kakinya mendekati pintu itu ingin bertanya pada orang-orang yang selamat keluar mengenai Baron juga Jason.


"Maaf.. lihat pak Jason?" Raisya tak berhenti bertanya pada tiap orang yang keluar.

__ADS_1


Setiap orang yang ditanyai, jawabannya sama. Mereka mereka menggelengkan kepala. Tanda mereka tidak tahu dengan keberadaan dan kondisinya.


"Pak.. tolong.. selamatkan pak Jason dan kawan-kawan!' Raisya memelas dengan menitikkan air mata pada regu penyelamat yang akan memasuki terowongan.


"Iya.. ibu tenang ya! Jangan panik! Doakan mereka agar selamat!" Salah satu pimpinan regu penyelamat memberikan suport pada Raisya agar bersabar dan berdoa.


Bibir Raisya tak henti-hentinya melafalkan doa untuk keselamatan para pekerja terutama Jason dan Baron. "Ya Allah...Semoga mereka selamat, Tolong selamatkan pak Baron juga Jason dan kawan-kawan.." Kata-kata itu terus diulang-ulang nya sambil memeriksa siapa saja yang baru keluar dari terowongan dan siapa saja yang berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat.


Hati Raisya sangat takut. Apalagi dengan Jason. Entah perasaan apa yang baru saja hadir di hatinya. Meski kemarin-kemarin dia merasa biasa-biasa. Tapi kini ada perasaan takut kehilangan dan penyesalan menyelinap di hati Raisya.


"Mingir-minggir!" Seseorang menyuruh untuk memberi jalan. Ada tandu yang sedang digotong. Seseorang terbaring di tandu dengan wajah penuh debu dan luka.


"Pak Baron.. " Pekik Raisya sambil menutup mulutnya tak percaya melihat orang yang baru saja dikhawatirkan muncul ditandu dengan kondisi mengkhawatirkan.


Raisya mengikuti tandu pak Baron lalu bertanya pada tim penyelamat. "Dimana yang lainnya? Apakah anda melihat pak Jason?"


"Maaf Bu. Kami hanya bisa menolong apa yang bisa kami tolong. Karena kondisi di dalam sangat berbahaya jika kami masuk terlalu dalam." Jawab salah satu tim penyelamat.


"Tapi... mereka kan masih di dalam pak? Bagaimana apa masih bisa ditolong?" Tanya Raisya berharap tim itu masuk kembali menolong yang masih terjebak.


"Maaf Bu.. kami sedang menunggu bantuan sampai benar-benar kondisi di dalam bisa dipastikan aman." Jawab laki-laki yang sama.


"Apa?? Sampai kapan? Bagaimana kalau mereka mati?" Teriak Raisya panik.


"Maaf Bu.. itu sudah standar penyelamatan kami. Kalau dipaksakan akan bertambah korban. Kita menunggu alat-alat berat dan bantuan lainnya untuk memastikan kondisi aman untuk penyelamatan." Laki-laki itu nampak pasrah. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan standar umum. penyelamatan.

__ADS_1


"Ya Allah Jason... " Teriak Raisya lalu tak lama kemudian tubuh Raisya pun jatuh terkulai lemas, pingsan. Dia tak kuasa menahan beban kenyataan bahwa orang yang baru saja menyatakan cintanya terjebak di dalam terowongan dan kini belum bisa terselamatkan.


__ADS_2