Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Khawatir


__ADS_3

Sepanjang makan bersama semua orang menikmati pesanannya masing-masing, kecuali Nathan dan Raisya. Mereka hanya terlihat mengaduk-ngaduk makanan tanpa ada yang masuk ke dalam mulutnya.


Rasa canggung dari keduanya terasa sekali. Irwan Dan Ratna sesekali memperhatikan keduanya, lalu saling berkomunikasi lewat pandangan ke arah suaminya.


"Eh.. Arsel mau gak suapin mama?" Ucap Ratna agar Raisya mengalihkan perhatiannya pada Arsel.


"Mau.. " Arsel dengan lucunya turun dari kursi sambil membawa ayam dan berjalan mendekati Raisya.


"Ma.. " Anak itu minta dipangku. Raisya langsung meraih badan Arsel dan mendudukan di pangkuannya.


"A.. ma.." Arsel menyebit ayam lalu mendekatkan ke mulut Raisya. Raisya segera membuka mulutnya dan menerima sebitan ayam dari tangan Arsel.


Nathan malah menghentikan tangannya dan menoleh ke arah Raisya yang sedang disuapi Arsel.


Melihat Nathan terus saja melihat ke arahnya, Arsel menyebitkan daging lalu menawari Nathan.


"Bos papa mau?" Arsel menyodorkan ayam sebitannya ke arah Nathan. Entah kenapa Nathan tidak menolak sama sekali malah memegang tangan Arsel dan mendekatkan daging itu ke mulutnya.


Nathan mengulum jari munggil Arsel ke dalam mulutnya bersamaan daging yang diberikan Arsel.


"Ih.. geli." Arsel tertawa sambil merasakan jari munggilnya yang telah dikulum Nathan. Ada perasaan aneh yang dirasakan Nathan begitu tangan munggil itu bersentuhan.


Apa anak itu mempunyai ayah yang berkulit bule? Apa setelah bercerai dia langsung menikah lagi? Secepat itukah dia bisa move on dariku?


Sementara Nathan hanya berbicara dengan pikirannya. Sedangkan Arsel terlihat bersemangat menyebit daging lagi dan siap menyuapi Raisya kembali.


"Ma.. A.. " Tangan mungil Arsel kembali menyodorkan ke arah Raisya.


Raisya menggelengkan kepalanya, menolak.


"Mama.. " Wajah Arsel merengut kecewa karena Raisya menolak pemberiannya.

__ADS_1


Nathan yang melihat penolakan Raisya, tak ingin mengecewakan Arsel yang sudah berbaik hati membagikan makanannya.


"Papa mau lagi sayang.. " Nathan tak sadar telah mengakui dirinya dengan panggilan papa dan sayang pada Arsel. Hal itu membuat Raisya terkejut dan ketakutan.


"Arsel.. makan sama papa Irwan lagi ya?" Raisya buru-buru berdiri dan akan mengembalikan ke tempat Arsel semula yang duduk di samping Irwan. Sikap Raisya membuat semua mata yang ada dimeja spontan tertuju ke arah Raisya.


Dan sudah diduga, Arsel langsung mengeluarkan jurus mautnya.


Huaw.. huaw.. huaw..


Tangisan itu tentu saja membuat telinga Raisya mendenging. Telinganya kesakitan setiap kali Arsel menangis seperti itu.


Melihat aksi Arsel seperti itu, Nathan langsung berdiri dan mendekat.


"Biar aku gendong Sya! Dia menolak untuk duduk di sana." Ucap Nathan yang replek mengangkat tubuh Arsel dari tangan Raisya. Arsel yang mendapatkan perlakuan lembut dari Nathan, langsung membentang tangannya, rela digendong Nathan.


"Arsel!" Raisya yang tak rela Arsel dibawa Nathan langsung membentak. Otomatis tangisan Arsel semakin kencang dan sekarang orang-orang mulai tak nyaman dengan kebisingan tangisan Arsel.


Raisya mendelik menatap Nathan.


"Aku bilang dari tadi.. kamu ngapain sih deket-deket? Bikin suasana keruh tahu!" Rupanya Raisya memang belum bisa berdamai sedikitpun dengan Nathan. Dia semakin takut kalau Nathan terlalu dekat akan mengetahui siapa Arsel sebenarnya. Dia takut Nathan malah mengambil Arsel darinya dan menyakitinya seperti dia sudah membuat Michel kabur.


"Iya.. maafin aku Sya.. biarin Arsel tenang dulu! Nanti aku serahin lagi ke kamu. Atau kamu duduk lagi kaya tadi gimana?" Nathan yang biasa kasar, entahlah sekarang sepertinya mulai berusaha melunak.


"Sya.. mending kamu duduk dulu! Jangan emosi begitu! Anak-anak jadi gak nyaman." Irwan menasehati Raisya, agar sikapnya tidak menjadi bahan tontonan anak-anak.


"Ya udah.. aku tunggu di luar. Takut aku mengganggu." Raisya malah melangkah pergi meninggalkan semuanya dengan membawa segala perasaan kesedihan juga kekecewaan yang menyelimuti hatinya.


Nathan menatap sendu Raisya. Niat ingin membantu malah berakhir membuat Raisya pergi.


"Mama.. mama... " Arsel yang tadinya menangis kencang perlahan malah menangis pelan sambil memanggil nama Raisya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Cup... cup.. sayang... Mau ke mama ya? Kita susul mama ya?" Nathan mengusap punggung Arsel berusaha menenangkannya dan langsung mengikuti Raisya dengan langkah cepat. Dia tak ingin ketinggalan jejak Raisya.


"Pa.. mama Raisya kenapa marah?" Rara penasaran dengan sikap Raisya yang tiba-tiba marah dan bertengkar dengan Nathan. Karena selama ini mereka hampir tidak pernah melihat Raisya marah seperti itu.


"Hei.. kalian makan saja ya! Jangan liatin mereka! Mama Raisya lagi ada masalah. Nanti juga kesini lagi kok." Ratna tak ingin kedua putrinya ikut-ikutan memikirkan permasalahan orang dewasa.


"Mmm... tante.. aku boleh menyusul tidak?" Michel ikut-ikutan cemas. Meminta izin untuk menyusul keluar.


"Gak usah.. biar om yang ke sana ya! Michel sama tante bantu jagain si kembar saja!" Irwan ingin menengahi permasalahan yang baru saja terjadi antara Raisya dan Nathan.


Sebenarnya sih masalahnya sepele, tapi karena ditanggapi berlebihan jadilah semuanya kacau. Irwan mengerti dengan sikap Raisya seperti itu, mengingat sikap Nathan padanya dulu memang kejam. Tak mudah bagi Raisya menerima Nathan dan memaafkannya begitu saja. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka lamanya.


"Sya... tunggu aku...!" Nathan dengan langkah panjangnya berusaha menyusul Raisya yang sedang keluar dari restoran.


"Ngapain sih kamu ngikutin aku terus?" Raisya sudah bersusah payah menghindari Nathan.


"Sya.. please.. kamu gak kasian sama anak kamu?" Nathan melihat Arsel sejak tadi menggapai-gapai Raisya. Tangannya ingin meraih Raisya. Arsel sudah sesenggukan menangis di gendongan Nathan karena ketakutan ditinggalkan Ibunya. Tangannya yang masih erat memegang ayam pun kini sudah sudah bercampur dengan air mata karena tadi sesekali mengucek matanya karena menangis.


Raisya menghentikan langkahnya lalu mendekati Nathan, sadar Arsel bersamanya.


"Maafin mama sayang.. " Raisya kembali membawa Arsel dalam pelukannya. Dia tak ingin Arsel ketakutan lagi karena sikap Raisya barusan.


Arsel langsung memeluk erat bahu Raisya. Tangisannya mulai reda.


Nathan spontan mengelus punggung Arsel. Sentuhan Nathan mampu menenangkan Arsel sehingga perlahan anak itu menjatuhkan kepalanya di pundak ibunya.


"Sya.. Arsel tidur." Nathan melihat mata Arsel perlahan meredup dan akhirnya tertidur.


"Duduk di sana dulu Sya!" Tanpa Raisya sadari bahunya sudah dituntun tangan Nathan ke arah kursi yang ada di depan restoran. Raisya mengikuti tanpa penolakan. Keduanya duduk di kursi bersebelahan.


"Aku bawakan tisu dulu ya! Kasian tangan Arsel kotor." Nathan langsung berlari ke mobilnya dan membawa tisu basah.

__ADS_1


Setelah itu Nathan kembali duduk lalu membersihkan tangan Arsel dan mulutnya bekas makan tadi.


__ADS_2