Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Rasa gula-gula mercon


__ADS_3

"Wah.. saya malah yakin dok!" Raisya menahan tawa ingin menjahili dokter Ferdi. Entah apa yang dirasakan Raisya, meski baru kenal dia merasa nyaman bicara dengannya.


"Oh ya?" Dokter Ferdi sudah siap-siap ge -er.


"Ya.. saya yakin dokter cowok playboy." Raisya tertawa.


"Oh my god." Dokter Ferdi menepuk jidatnya.


"Aku kira apa... " Dokter Ferdi tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Kedua netra saling beradu pandang. Dokter Ferdi merasa ada getaran yang turun ke hati.


Krekkk..


Suara pintu, membuyarkan perhatian keduanya. Pintu ruangan kembali terbuka. Jacky masuk ke dalam ruangan, sontak kedua pasang mata melihat ke arah pintu. Jacky pun melihat ke arah keduanya, dia tak lantas duduk tapi menaruh kresek camilan di atas meja. Setelah itu di berjalan ke arah toilet.


Jacky menyadari diri mungkin bau asap rokok dari bajunya akan tercium kuat jika dia menghampiri keduanya. Jacky merasa harus memperbaiki penampilannya agar tidak terlihat kusut.


Jacky membasuh mukanya lalu bercermin. Dia mengelap bagian yang basah dengan handuk lalu membuka kemeja bekas tadi bekerja di kantor agar tidak lagi dipakainya. Selain bau rokok, keringat yang menempel pun agak tidak nyaman di badannya.


"Apa aku mandi saja ya?" Jacky keluar toilet lalu mengambil baju ganti. Lalu kembali masuk toilet hendak membersihkan diri.


Gerak-gerik Jacky tidak lepas dari perhatian Raisya juga dokter Ferdi.


"Dia akan menginap di sini?" Dokter Ferdi agak mengkhawatirkan perasaan Raisya yang mungkin saja kapan-kapan bisa jatuh ke tangan adik iparnya itu.


"Sepertinya begitu." Raisya baru menebaknya juga.


"Apa perlu aku temani?" Dokter Ferdi menawarkan dirinya untuk menemani Raisya.

__ADS_1


"Ah.. gak usah. Itu akan membuat kita sama-sama tidak nyaman." Raisya sebenarnya tidak nyaman juga kalau Jacky berada di ruangan menunggunya, padahal ada perawat yang sudah siap dua puluh empat jam siap melayani.


"Wah.. kalau kamu bedua dengan dia malah aku tak nyaman." Dokter Ferdi sama-sama tidak tenang melihat keberadaan Jacky ada di ruangan Raisya.


"Dia kan masih keluarga.. kami sudah lama kok bersama." Raisya ingin melepaskan ketidak nyamanannya.


"Oke.. kamu sudah makannya?" Dokter Ferdi melihat nasi tim yang ada di meja sudah hampir habis, meski ada sedikit sisa.


"Sudah." Jawab Raisya pendek.


"Baik aku bereskan ya!" Dokter Ferdi membawa mangkuk lalu menyimpannya dalam nampan. Lalu membawa susu agar di minum Raisya.


"Susunya dihabiskan!" Dia menyodorkan segelas susu ke tangan Raisya. Raisya pun menerima susu itu dan meneguknya. Setelah itu dia kembali menyodorkan gelas susu yang sudah kosong.


"Good girl!" Ucap dokter Ferdi sambil membawa gelas itu dan menaruh gelas itu bersamaan dengan mangkuk di atas nampan.


"Tidak aku kenyang." Tolak Raisya yang perutnya sudah kekenyangan.


"Baik. Aku rapihkan dulu ya mejanya!" Dokter Ferdi melipat meja makan yang tadi dipasang di atas paha Raisya. Dia melipatnya dan menaruh kembali di tempat sebuah lemari tempatnya berasal.


Dokter Ferdi duduk di kursi dekat tepian kasur. Dia melihat ada bekas susu di seputar bibir Raisya. Dia berdiri mengambil tisu yang berada di atas nampan.


"Maaf.. ada ini." Dokter Ferdi mengelap bekas susu yang berada di sekeliling bibir Raisya. Sontak membuat Raisya kaget dan dadanya berdegub kencang. Entah apa yang sekarang Raisya rasakan. Rasa-rasanya dia baru pertama kali merasakan hal ini. Berupa kelembutan, perhatian dan satu lagi... rasa baru seperti gula-gula ala mercon. (Ada loh.. gula-gula kalau dikemut dia meletup-letup di dalam mulut) Rasa itulah yang sekarang Raisya rasakan, manis.. meletup-letup di dalam jantungnya.


Meski dia pernah dengan Jacky, dia belum pernah seintim itu. Selama ini kebersamaan dengan Jacky hanya sebatas hubungan seperti teman. Dan dengan Nathan? Jangan bilang kalau dia pernah diperlakukan lembut, yang ada kasar dan kekerasan. Lalu dengan Hendrik? Mmm.. malah dirinya seperti dilecehkan. Lalu bagaimana perasaannya dengan dokter Ferdi? Mmm.. jawab jangan ya readers? Ya.. dia baru merasakan hal baru dengan dokter Ferdi. Hatinya seperti mengendap-endap, lalu meletup-letup, dan selanjutnya seperti menaruh harap.


Dokter Ferdi yang pernah pengalaman jatuh cinta, detik ini hatinya seperti dejavu. Ya merasakan hal yang sama. Tangannya yang lembut menyentuh bibir Raisya seolah sedang mengalirkan energi listrik ribuan volt ke jantungnya.


Rasa berdebar-debar dan keringat dingin mulai berani keluar dari seluruh pori-porinya. Sejenak netra keduanya saling mengunci. Wajah mereka begitu dekat karena pergerakan dokter Ferdi yang sedang membersihkan bibir Raisya.

__ADS_1


Krekk..


Suara pintu toilet terdengar spontan membuyarkan lamunan dua insan yang sedang saling memanah. Pandangan Jacky langsung tertuju pada keduanya. Raisya dan dokter Ferdi langsung berdehem, dan saling menjauhkan wajahnya. Wajah keduanya bersemu merah merona.


"Sakit." Satu kata yang sedang di gaungkan dalam. hati Jacky. Melihat pemandangan tadi mata Jacky serasa ditusuk dan hatinya seperti terluka. Kenapa bisa Raisya dan dokter Ferdi sedekat itu.


Lalu selama ini? "Tangan aku bahkan belum pernah menyentuh bibir dia. Jangankan menyentuh, bahkan berpegangan tangan pun Raisya selalu menolak, dan aku selalu menghormati prinsipnya."


Lalu sekarang apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa Raisya bisa membiarkan tangan dokter Ferdi menyentuhnya. Kalaulah dia tidak segera keluar dari toilet, sepertinya mereka akan lepas kendali. Itu yang sedang dipikirkan Jacky.


"Sihir apa yang sedang dikirim dokter Ferdi pada Raisya? Sampai Raisya tidak berkutik seperti tadi." Jacky bergumam sendiri.


Jacky tak ingin memperlihatkan ketidak senangannya pada mereka kali ini. Dia berjalan santai seolah tidak melihat adegan tadi. Lalu menaruh handuk di rak besi menyisir rambutnya di depan cermin lalu dia melangkah mendekati sofa dan duduk.


Sesuai janjinya dia akan membiarkan Raisya semaunya. Dia hanya akan duduk jadi pengawas saja. Dengan begitu, dia berharap Raisya akan meminta maaf dan mendekati lebih dahulu.


"Aku bawa obat dulu ya! Habis itu kamu makan obat herbalnya agar saya tahan tubuh kamu bisa meningkat." Dokter Ferdi memecah kecanggungan diantara mereka.


"Baik dok." Raisya menjawab dengan gugup.


Dokter Ferdi keluar ruangan dan pergi menuju ruang apoteker herbalnya. Meresepkan beberapa obat dan menyuruh perawat mengantarkan ke ruangan Raisya.


Perawat pun datang ke ruangan Raisya.


"Selamat malam bu Raisya. Saya mengantarkan obat ini. Silahkan dimakan dulu obatnya!" Perawat itu menyodorkan obat herbal yang sudah dikemas dalam bentuk cairan dan memudahkan pasien untuk menelannya.


Raisya meneguk obat herbal itu dengan sekali teguk.


"Pahit." Ucap Raisya sambil menggidikkan bahunya spontan.

__ADS_1


__ADS_2