Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Gerogi


__ADS_3

"Iya aku Hendrik. Kamu kaget?" Hendrik membuka kaca mata hitamnya dan melihat Raisya. Sorot matanya yang sedang memancarkan kerinduan terlihat jelas.


Raisya masih melongo melihat sosok laki-laki yang sudah lama tidak bertemu.


"Kak... Hendrik... Wah.. sudah lama banget ya kita gak ketemu. Apa. kabar kak?" Raisya tersenyum. sumringah melihat kakaknya Ratna tiba-tiba ada di hadapannya.


"Baik Sya. Kamu?" Hendrik dengan ciri khasnya pura-pura cool agar membuat penasaran para wanita, membuat saya tariknya semakin mempesona.


"Alhamdulillah baik kak. Aku baik." Perasaan Raisya entah kenapa tiba-tiba merasa senang melihat kehadiran Hendrik di depannya.


"Anak kamu?" Hendrik menunjuk Arsel.


"Oh iya.. ini anak saya kak. Ayo salim sama om Hendrik!" Raisya semu malu. Dia menyuruh Arsel cium tangan pada Hendrik.


Arsel menurut menciun punggung Hendrik.


"Sebentar ya kak saya antar anak-anak dulu!"


"Mmm.." Hendrik hanya bedehem saja.


Raisya mengantarkan ketiga anak itu masuk ke gerbang sekolah. Hendrik masih mematung melihat punggung Raisya yang sedang mengantarkan ketiga anak itu masuk ke gerbang sekolah. Setelah ketiga anak itu masuk, Raisya berjalan mendekati Hendrik yang belum bergeser dari tempatnya berdiri.


"Kapan sampai di Jakarta kak?" Raisya berusaha ramah pada Hendrik mengingat kebaikannya.


"Mmm.. kemarin." Jawabnya pendek.


"Oh.." Raisya hanya ber oh ria.


"Kamu free hari ini?" Tanya Hendrik.


"Maksud kakak?" Raisya belum mengerti maksud pertanyaan Hendrik.


"Habis ini kamu mau kemana?" Hendrik memperjelas pertanyaannya.


"Tidak, kemana-mana kak." Kalau tidak ada acara biasanya Raisya lebih banyak menunggu di sekitar sekolah mengingat jam sekolah anak PAUD dan Tk tidak terlalu lama. Ya kadang-kadang juga Raisya sambil berbelanja agar tidak terlalu suntuk.


"Mmm... bagaimana sambil nunggu kita jalan-jalan? Simpan saja mobil kamu! Nanti kita kan kesini lagi." Hendrik yang berencana antar jemput si kembar ingin mengajak jalan-jalan Raisya sambil menunggu jam sekolah selesai.


"Baiklah." Raisya menyetujui ajakan Hendrik.


Keduanya berjalan menuju mobil Hendrik terparkir. Hendrik terlebih dahulu membukakan pintu untuk Raisya.

__ADS_1


"Terimakasih." Jawab Raisya karena Hendrik sudah membukakan pintu untuk Raisya.


Lalu Hendrik memutari mobilnya untuk membuka handle pintu sebelah kanan dimana bagian kemudi berada. Hendrik masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke arah Raisya lalu dengan secepat kilat dia mencondongkan badannya ke arah Raisya lalu berhenti sejenak di depan wajah Raisya. Tentu gerakan cepat Hendrik membuat Raisya terkejut dan mendadak jantungnya berdegub kencang manakala wajah mereka sudah tidak ada jarak. Itu membuat canggung Raisya dengan pikiran yang entah apa.


"Maaf.. sabuknya belum terpasang." Ucap. Hendrik mencairkan kekakuan.


Ya ampun kak Hendrik.. aku kira kakak mau apa? Ternyata hanya sabuk. Aku sampai parno.


Untungnya kata-kata itu hanya bergema dalam. hati.


"Kenapa wajahmu merah Raisya?" Hendrik menatap wajah Raisya dari samping. Pipinya yang putih nampak jelas kemerah-merahan menahan malu dan perasaan ge-er yang baru saja lewat.


"Eh.. gak pa-pa kok kak.. " Raisya replek memegang pipinya.


"Kenapa kamu deg-degan?" Hendrik sepertinya ingin membuat Raisya tak berdaya.


"Eh enggak kok kak." Raisya menoleh ke arah Hendrik.


"Lah itu kenapa tangan kamu ikut bergetar?" Hendrik jelas sedang menelanjangi perasaan malu Raisya.


"Eh.. kayanya lapar kak." Jawab Raisya bohong. padahal dia benar-benar malu dan deg-degan karena pergerakan Hendrik yang cukup intim.


"Oh.. aku kira kamu deg-degan karena kangen sama aku." Hendrik memakai kacamata hitamnya lalu melajukan mobilnya.


Raisya bicara dalam hatinya sambil melihat ke samping jendela mobil.


"Terus terang aku sempet pangling sama kamu." Hendrik mulai melancarkan mode playboy nya.


"Apa kak?" Raisya yang tidak fokus, tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Hendrik.


"Kamu cantik." Hendrik malah menggoda Raisya setelah membuat Raisya barusan tidak fokus.


"Mmm.. terimakasih kak." Raisya tertunduk malu mendengar pujian Hendrik.


"Kamu mau makan dimana?" Tanya Hendrik dengan gaya cool.


"Mmm.. dimana ya?" Raisya mendadak tidak ada ide.


"Ini masih pagi sih. Bagaimana aku ajak ke apartemen saja? Kebetulan jaraknya gak jauh. Kalau kamu lapar ada makanan kok di apartemen aku." Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Hendrik meminta jasa apartemen untuk membersihkan apartemennya dan menyuruh salah satu anak buahnya untuk berbelanja mengisi apartemennya agar siap huni.


"Mmm... bagaimana ya?" Raisya agak bingung untuk menolak. Karena apartemen itu sangat dekat dengan perusahaan Jacky. Entah kenapa. Raisya seolah takut ketahuan.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu takut aku macem-macem Sya?" Hendrik menebak kecemasan Raisya.


"Eh bukan begitu.. aku.. "


"Bilang aja kalau kamu canggung. Berarti kamu sedang ada perasaan sama aku." Hendrik langsung memotong kalimat Raisya. Hendrik yang sudah lihai dalam menundukkan perempuan selalu percaya diri akan kelebihan dirinya di hadapan perempuan manapun.


"Eh.. bukan kak." Lagi-lagi Raisya bicara absurd.


"Kamu.. bicaranya kaya bingung. Kamu beneran canggung ya?" Hendrik terus saja memojokkan Raisya.


"Tidak kok kak. Aku biasa aja." Jawab Raisya tidak ingin kelihatan ge-er.


"Baiklah kalau begitu kita nunggu di sana saja ya!" Dalam hati Hendrik dia sedang bersorak telah mendapatkan kemenangan.


Tak lama kemudian mobil itu terparkir di area basement apartment kepunyaan Hendrik.


Raisya buru-buru membuka sabuk pengaman yang menahan badannya agar tidak didahului Hendrik.


"Tenang aja Sya! Jangan buru-buru gitu! Kamu kaya sudah gak sabar." Entah apa maksud dari perkataan Hendrik mengatakan 'tidak sabar'


"Mmm... maaf." Raisya seperti mengiyakan apa. yang dikatakan Hendrik barusan.


Hmmm.. kamu keliatan banget gugupnya Sya. Tapi aku suka kamu kaya gitu. Bikin aku tertantang.


Pikiran Hendrik mulai nakal.


"Ayo.. " Ajak Hendrik langsung menggenggam tangan Raisya begitu saja.


"Maaf kak.. aku bisa jalan sendiri kok!" Raisya merasa canggung melihat sikap Hendrik. Meski Nathan pernah berbuat lebih dari itu, tetap saja Raisya tidak biasa bahkan merasa berdosa.


"Oh.. maaf. Aku kira Ratna." Ucap Hendrik modus. Padahal selam ini dia memang biasa melakukan pegangan tangan pada semua teman wanitanya tanpa canggung.


Raisya tersenyum tipis.


Keduanya memasuki lift. Hendrik menekan nomor sesuai lantai dimana apartemen miliknya berada.


Sunyi. Keduanya tak ada yang berani bicara selain mata mereka sedang melihat nomor di atas pintu yang terus berganti.


Ting


Pintu terbuka. Keduanya keluar dari lift lalu berjalan di sepanjang lorong dengan langkah santai.

__ADS_1


Hendrik menghentikan langkahnya begitu pintu apartemennya sudah ada di depannya. Dia menekan tombol kunci otomatis, lalu tak lama kemudian terbuka.


" Ayo masuk Sya!"


__ADS_2