
Nathan langsung bergegas pergi menuju sekolah Michel. Tadinya akan dijemput Sopir tapi karena Michel demam, akhirnya Nathan panik dan dia pergi bersama Raisya untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Raisya merapihkan kembali pakaiannya yang tadi hampir saja kehormatannya direnggut. Kini hidup Raisya tak sebebas dulu. Rasanya seperti ada rantai yang mencekik dirinya.
Untung panggilan tadi diangkat Nathan, kalau tidak entahlah Raisya tak berani memprediksi apa yang akan terjadi dengannya. Sekarang Michel akan Raisya gunakan sebagai tameng agar Nathan bisa dikendalikan. Hanya itu yang dipikirkan Raisya sebelum menemukan solusi lain.
Selama perjalanan Raisya maupun Nathan terdiam. Nathan yang fokus menyetir pandangannya lurus ke depan. Dia mengambil kecepatan di atas rata-rata agar cepat sampai si sekolah Michel. Sedangkan Raisya sedang menyusun strategi agar laki-laki psikopat yang ada di sampingnya tidak membahayakannya lagi. Jalan satu-satunya dia harus mendekati Michel agar Nathan bersimpati.
Setelah 30 menit melajukan mobilnya, Nathan sampai di depan area parkir sekolah Michel.
Raisya dan Nathan jalan berdampingan layaknya pasangan suami istri. Michel terbaring di ruang kesehatan yang ada di sekolah.
"Selamat datang ayah bunda." Nita yang sudah berada di ruang itu berdirinya menyambut keduanya.
"Bunda.. " Michel merengek begitu melihat Nathan dan Raisya datang.
"Cup.. Cup.. Cup.. Sayang.. ini bunda." Raisya langsung menghampiri Michel dan memeluknya. Badannya terasa panas menyentuh kuli Raisya.
"Maaf Bu anak saya kenapa?" Nathan ingin menanyakan awal mula Michel sakit. Karena tadi pagi Michel terlihat sehat dan ceria.
"Tadi pas istirahat jam 10, Michel mengeluh pusing. Saya bantu untuk duduk. Ternyata suhu badannya sudah mulai hangat. Setelah saya bawa ke ruang kesehatan badannya terus naik. Saya belum berani memberikan obat takutnya Michel mempunyai alergi. Sebaiknya orang tuanya segera membawa Michel ke dokter agar penanganannya tepat." Saran Nita.
"Iya baik. Terima kasih. Saya pergi dulu bu!" Ucap Nathan pada Nita selalu guru walinya Michel di sekolah.
"Iya pak. Semoga Michel cepat sembuh ya!" Nita memberikan doa untuk Michel agar lekas sembuh.
"Iya terimakasih." Nathan mendekati Michel lalu mengangkat badannya.
"Yuk sayang kita ke dokter dulu!" Ucap Nathan.
Nathan juga Raisya membawa ke rumah sakit keluarga yang kemarin pernah merawat Michel kemarin.
"Wah... kenapa lagi nih anak cantik sudah datang lagi kesini?" Cicit Sarah memeriksa Michel.
"Tadi di sekolah badannya panas." Ucap Nathan cemas.
"Oh. Ayo coba A.. aunty mau lihat mulut Michel!" Sarah menyuruh Michel membuka mulutnya. Lalu dengan bantuan senter Sarah melihat sekitar dalam mulut Michel.
"Seperti radang tenggorokan. Amandelnya lumayan besar. Ga pa-pa ya. Banyak minum sama makan buah dan sayuran dulu. Mungkin aktivitas bermainnya lumayan tinggi sedangkan minumnya agak kurang jadi bisa saja Michel mengalami dehidrasi." Ucap Sarah.
"Gak parah kan Kak?" Tanya Nathan penasaran.
__ADS_1
"Tidak. Kalau makan sama minumnya bagus tiga hari juga membaik. Asal istirahat saja!" Cicit Sarah meyakinkan Nathan.
"Oh.. " Nathan mengangguk mengerti.
"Lah.. kamu kesini lagi Raisya? Apa kabarmu?" Sarah yang dari tadi memeriksa Michel belum menyapa Raisya.
"Baik dok! Alhamdulillah." jawab Raisya.
"Kalian akur?" Sarah tersenyum melihat Nathan dan Raisya berdampingan. Karena sebelumnya mereka seperti musuh sampai-sampai harus menyewa ruang khusus.
Akur? Gue lagi main sandiwara tau! Kalau gak begini gue bisa celaka kaya tadi di tangan psikopat ini!
Raisya bermonolog.
Raisya pura-pura tersenyum pada Sarah.
"Apa kabar Hendrik, Raisya?" Sarah seolah memancing kekeruhan.
Benar saja mata Nathan langsung menyorot tajam melihat Raisya. Seperti tak terima kalau Raisya dekat dengan laki-laki lain.
"Maaf dok! Saya tidak tahu kabar kak Hendrik. Mungkin dokter bisa telepon langsung jika ingin menanyakan kabarnya." Jawab Raisya jujur.
Dia tak ingin bicara yang akan memancing kemarahan Nathan.
Dasar beruang kutub. Langsung saja siap-siap nyakar!
Gerutu Raisya yang melihat sikap Nathan yang posesif. Sampai sekarang pun Raisya tak mengerti sikap Nathan. Apakah dia berbuat begitu karena Michel. Atau ada hal lain? Kalau karena Michel tidak mungkin sikapnya seperti yang sedang cemburu jika mendengar Raisya dekat laki-laki.
"Mmmh." Sarah hanya mengangguk.
"Kak Sarah aku titip Michel! Hari ini aku mesti ke Bali. Ada pekerjaan yang mesti dilakukan dengan menteri pariwisata." Cemas Nathan tapi tak berani meminta Raisya untuk membantunya.
"Baik. Tenang saja disini ada perawat juga mbak Ina." Ucap Sarah menenangkan Nathan.
"Aku mau sama bunda." Michel yang mendengar pembicaraan Nathan dan Sarah malah meminta Raisya.
"Iya bunda disini sayang." Ucap Raisya sambil membelai Michel penuh kelembutan.
"Hah? Bunda?" Mulut Sarah menganga heran melihat panggilan Raisya.
"Sejak kapan kalian seakrab ini?" Mata Sarah bergantian melihat Raisya dan Nathan.
__ADS_1
Tak ada satupun dari mereka yang bisa menjawab.
"Kalian sebaiknya memperjelas hubungan ini. Jangan sampai seseorang salah paham dan sakit hati." Saran Sarah pada keduanya. Sarah tahu bahwa Jacky sangat menyukai Raisya. Walau dia sendiri belum tahu kejelasan hubungan mereka seperti apa. Apalagi Jacky sedang tidak ada. Sarah khawatir jika Raisya selingkuh dibelakang Jacky. Apalagi hubungan mereka masih keluarga. Itu akan sangat rumit.
"Raisya, kamu tidak main api kan dengan Jacky?" Sarah tiba-tiba menjadi peduli dengan hubungan mereka. Padahal biasanya Sarah bukan tipe yang suka ikut campur urusan dalam negeri orang lain.
"Kak Sarah bisa tidak membahas itu di depan Michel!" Nathan melayangkan protes.
"Oke. Oke! Tapi gue harap kalian jangan main api! Ini bukan main-main. Jika Jacky pulang tahu kalian berhubungan bagaimana? Bukankah itu membuat hubungan kalian semakin jauh sebagai saudara." Ucap Sarah tak bisa membiarkan Nathan berbuat macam-macam.
Saudara? Maksudnya apa?
Raisya mengernyitkan dahi mencerna perkataan Sarah.
"Kak Sarah!" Bentak Nathan.
"Nathan! Kamu sadar. Kamu sudah punya anak. Kamu harus memikirkan panjang!" Sarah menaikkan intonasi bicaranya.
"Sudak kak. Aku pergi dulu." Nathan langsung pergi meninggalkan ruangan. Dia takut tak bisa mengendalikan emosinya.
"Dasar. Semuanya sama saja!" Dengus Sarah seperti emosi.
Raisya hanya mengamati sikap Nathan dan Sarah yang sedang sama-sama emosi.
Sarah melihat sekilas pada Raisya lalu keluar dari ruangan dengan wajah kesal.
Ada apa dengan mereka semua? Apa maksud dari perkataan dokter Sarah tentang Jacky juga Nathan.
Raisya hanya bisa bertanya-tanya.
Kring
Kring
Kring
Terdengar suara handphone Michel berbunyi.
Raisya segera meraih tas Michel dan mengambil handphonenya.
"Halo."
__ADS_1
"Aku kirimkan baju juga tas kamu ke rumah sakit!" ucap Nathan.