Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sama-sama sendirian


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan diriku? Emosi apakah ini?" Nathan menutupi alat pendeteksi emosinya dengan sebelah tangan. Tak ingin ada orang yang mengetahui alat ini bekerja. Jika dia sedang memakai lengan panjang mungkin Nathan tak perlu mencemaskan karena tertutupi. Tapi berbeda dengan saat ini, lengan bajunya tangan pendek dan alat itu pasti terlihat menyala dengan jelas. Dan ini kali ke dua alat itu memunculkan warna pink setelah dia bermasalah dengan wanita itu di apartemen Sarah.


"Daddy.. ayuu.. katanya mau ke pantai. " Rengek Michel.


"Eh.. iy iya." Nathan tersadarkan dengan rengekan Michel.


"Arneta.. Ayo.. bukannya kita akan berjalan-jalan?" Nathan berbisik di telinga Arneta yang sedang asik diantara penonton yang sedang melihat syuting.


"Tunggulah di luae! Aku akan menyusul kalian. Ini kesempatan langka. Aku ingin berfoto dulu!" Arneta malah menyuruh Nathan menunggu di luar hotel. Dia sedang menunggu giliran akan meminta berfoto dengan artis yang sedang syuting seperti pengunjung lain lakukan.


Nathan tidak bisa memaksakan diri. Dia akhirnya membawa Michel ke luar hotel sambil menunggu Arneta selesai berfoto.


"Apa daddy serius dengan tante Arnet?" Michel yang masih berusia 7 tahun dipaksa untuk memikirkan masalah orang dewasa. Kalau dilihat dengan dalam, sebenarnya anak ini banyak menyimpan luka dan trauma.


Masih membekas bagaimana dia harus menyaksikan perempuan yang mulai mengisi hidupnya harus tergeletak karena jatuh dari tangga yang berakhir dengan kematian. Belum selesai sampai sana anak kecil ini harus mengurus ayahnya yang terkena depresi berat. Sekarang malah dia harus beradaptasi dengan perempuan yang dipilih sebagai calon ibu sambungnya ke depan.


Michel tidak punya pilihan selain harus mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa. Selama dia mengenal Arneta, dia tak sedikitpun peduli bahwa dirinya ada. Bahkan perempuan itu hanya memperdulikan ayahnya saja. Dia tak ubahnya seperti sebuah lagu. 'Ibu tiri hanya cinta ayahku saja'


Liburan kali ini Michel seperti kambing conge. Dia hanya akan berbicara kalau ditanya dan hanya sebagai penonton kemesraan yang dilakukan orang dewasa yang sedang melakukan penjajakan persiapan ke jenjang pernikahan.


"Kenapa? Michel meragukan daddy?" Nathan yang setelah mengalai depresi lebih sibuk memikirkan kesembuhan dirinya ketimbang bagaimana memikirkan perasaan anak kecil itu.


"Tidak. Aku hanya bertanya saja." Ucap Michel tertunduk. Semenjak Nathan menjalin hubungan dengan Arneta, Michel berubah menjadi pendiam dan lebih banyak murung.


"Hei.. aku sudah selesai berfoto dengannya." Pekik Arneta kegirangan.


Nathan hanya tersenyum tipis dan terdiam.Tak mau mengomentari apa yang baru saja Arneta lakukan. Semenjak sembuh dari depresi Nathan lebih banyak mengatur emosinya termasuk keegoisannya dalam mengatur pasangan. Dia tidak terlalu dominan.


Begitupun dengan Michel, anak itu tak mengubah gestur tubuhnya selain menunduk.


"Kamu pengen lihat selebgram yang tadi berfoto denganku?" Arneta saking senangnya memperlihatkan foto dalam layar itu ke dekat Michel.

__ADS_1


Michel menoleh lalu sepasang bola matanya melihat layar pipih yang ada di depannya.


Deg


Jantung Michel seperti tertumpu benda berat. Dia mengenali wajah perempuan yang baru saja berfoto dengan Arneta. Bibir munggilnya bergerak.


"Bukankah dia tante Raisya?" Ucap Michel. Kalimat itu membuat Arneta terkejut mendengar reaksi Michel.


"Kamu mengenalnya?" Arenetta melebarkan matanya ke arah Michel dengan wajah penuh tanya.


Baru kali ini ada obrolan yang bisa di bicarakan antara Michel dan Arneta.


"Ya.. dia adiknya aunty Sarah." Jawab Michel seadanya.


"Siapa itu Sarah?" Arneta melirik Nathan dengan penuh curiga.


"Dia mantan istri kakakku, Adam." Jawab Nathan untuk menepis kecurigaan Arneta.


"Sudahlah! Bukankah kita mau jalan-jalan?" Nathan mengingatkan tujuan awalnya keluar dari hotel untuk menikmati kebersamaannya jalan-jalan di kota Bali.


"Baiklah." Arneta menggandeng lengan Nathan lalu kepalanya menyandar pada bahu Nathan sambil berjalan. Lalu kedua berjalan ke depan tanpa menghiraukan bahwa ada satu manusia kecil yang terkesampingkan di belakangnya.


Michel berjalan di belakang keduanya. Dia tak mau merusak suasana kebersamaan dengan bersikap menuntut.


Padahal dia bisa saja memprotes pada daddynya, "kenapa tidak menggandeng dirinya di sebelah sampingnya yang satu lagi? Atau kehadirannya mungkin saat ini akan mengganggu aktivitas penjajakan mereka? Atau jangan-jangan bahwa dia lupa sudah mempunyai buntut?" Mengingat Nathan bukan lagi pria lajang yang bisa berjalan bebas kemanapun dia mau dengan kekasihnya, karena sudah ada Michel.


Cuman sayang.. Michel hanya menyimpan unek-unek dalam batinnya saja.


Benar saja. Langkah mereka yang panjang juga entah obrolan apa yang membuat keduanya terlena dan melupakan bahwa Michel berada dibelakang mereka.


Michel menghentikan langkanya menatap ke depan sedang menguji dua orang yang sedang asik melangkah. Apakah mereka akan sadar bahwa dirinya tertinggal di belakang? Kalau mereka sadar pasti mereka akan menoleh ke belakang mencari keberadaannya. Tapi kalau tidak Michel akan memilih untuk tidak mengikuti keduanya.

__ADS_1


Mereka berjalan semakin jauh meninggalkan Michel yang hanya berdiri mematung memperhatikan objek yang ada di depannya. Dan objek itu kian lenyap tak terlihat punggungnya, seiring jalan yang membelok.


"Bye daddy... bye tante Arneta.. selamat menikmati liburan." Michel melambaikan tangannya dengan senyuman palsu, padahal hatiy perih menyaksikan pemandangan itu. Ini bukan kali pertama buat Michel. Jadi dia sudah terbiasa dan dia memilih berpura-pura terlihat baik-baik saja.


Michel membalikan tubuhnya. Lalu tanpa sengaja menabrak orang yang tadi berada di belakangnya.


Bukk


"Awww" Orang yang berada di depannya meringis karena kakinya yang sedang memakai sendal terbuka terinjak oleh sepatu sport Michel.


"Oh.. maaf tidak sengaja." Michel yang menyadari kesalahannya langsung meminta maaf sambil mendongak. Karena tubuhnya terlalu pendek untuk menatap wajah yang ada di depannya.


"Kau.. "


"Eh.. tante..


Dua pasang netra saling beradu pandang.


"It's Oke!" Raisya tersenyum memandang Michel. Dia tak ingin anak kecil itu merasa sungkan padanya.


"Maafkan saya tante. Say.. " Suara Michel tertahan di udara karena Raisya langsung merangkul lembut pundaknya.


"Kamu sendirian?" Raisya tak melihat siapapun di dekat Michel bahkan pandangannya sedang mencari pria mesum yang pernah ditendangnya.


"Iya tante." Michel mengangguk.


"Mmmm.. daddy mu?" Raisya yang tahu anak kecil itu memanggil ayahnya dengan sebutan daddy, menanyakan keberadaan ayahnya.


"Lagi jalan-jalan." Jawab Michel pelan. Ada rasa sedih yang sedang Michel alami.


"Ohh.. jadi sekarang kamu sendirian dan tak ada teman?" Raisya ingin membuat suasana lebih nyaman. Karena dia tahu anak itu terlihat murung.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kau menemaniku makan? Aku juga sedang sendirian."


__ADS_2