
Jacky sengaja menyembunyikan Raisya di belakang badannya, seolah sedang melindunginya.
"Tante.. " Michel menarik baju Raisya.
Raisya hanya bisa menatap Michel tanpa keluar sepatah katapun. Hatinya masih sakit mengingat perlakuan Nathan waktu itu.
"Hei..bawa anakmu! Jangan sampai dia nempel terus!" Jacky menegur Nathan untuk membawa Michel yang sudah memegang baju Raisya.
"Michel.. sini!" Nathan memangil Michel agar mendekatinya.
"Gak mau! Michel mau sama tante. Kata daddy kalau Michel baik, gak rewel, boleh ketemu tante." Rengek Michel menolak Nathan.
"Michel.. " Nathan membentak.
Huaw.. Huaw.. Huaw..
Tangisan Michel yang seperti gempa membuat seisi lift seolah mau jatuh. Mereka menutup telinganya tidak kuat mendengar tangisan Michel.
Raisya langsung menggendong Michel agar tangisannya berhenti dan tidak mengganggu pendengaran yang lain.
Benar saja, tangisannya mereda seketika. Michel seolah tahu untuk memperalat Raisya agar mau menggendongnya.
"Ra.. turunin!" Mata Jacky membesar, dia tidak senang Raisya Michel ada dalam gendongannya.
Michel memeluk erat leher Raisya dan tak mau sedikit pun melonggarkan pegangannya.
"Mau turun gimana, anaknya malah kaya gini?" Keluh Raisya menggerakkan kepalanya melihat Michel yang semakin mengeratkan pelukkannya.
Jacky langsung menarik Michel dari bahu Raisya dengan kasar. Mata Nathan menyalang melihat Jacky memperlakukan Michel seperti itu.
"Hentikan!" Nathan langsung mengambil Michel dari Jacky dan menggendongnya.
Huaw... Huaw... Huaw..
Michel kembali menangis walau tak sekencang tadi.
"Berhenti menangis atau daddy kembalikan Michel ke mommy?" Seketika Michel menghentikan tangisnya mendengar ancaman Nathan yang ditakuti anak itu. Terpaksa Nathan mengancam Michel walau kalimat itu paling dia hindari untuk diucapkannya.
"Jangan..!" Dada Michel naik turun menerima ancaman ayahnya. Michel sangat takut kalau kalimat tadi benar-benar terbukti. Dia menundukkan kepalanya di bahu Nathan mencari perlindungan untuk sebuah trauma yang pernah dialaminya.
Tling
Pintu lift terbuka tepat di lantai 15. Jacky menarik tangan Raisya dari dalam lift tanpa peduli dia sudah menyenggol bahu Nathan yang posisinya berdiri di depannya.
__ADS_1
Pintu tertutup kembali melanjutkan permintaan penghuni setelahnya. Nathan hanya bisa menatap kepergian Jacky dan Raisya dengan perawat entah.
Michel terlihat sedih. Disaat Michel menemukan seseorang yang dia sukai malah harus dipisahkan. Michel hanya tertunduk dengan membawa luka dalam hatinya.
"Biar suster gendong ya!" Babysitter mengambil alih tubuh Michel dari Nathan. Kali ini tidak ada penolakan.
"Lepasin Jack!" Raisya menarik tangannya dari genggaman Jacky. Jacky pun melepaskan genggamannya.
"Kenapa sih kamu jadi kasar begitu? Kasian dia! Dia hanya anak kecil. Seharusnya kamu jangan kaya gitu donk!" Protes Raisya yang sebenarnya tadi tidak tega melihat Michel diperlakukan seperti itu.
Jacky menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat Raisya.
"Ra... aku mohon deh. Elu jangan deket-deket sama mereka! Kamu sendiri tahu kelakuannya ke elu gimana? Gue gak mau elu diperlakukan seenaknya. Lagian ini kantor. Kamu jangan bikin ribet diri kamu sendiri deh!" Jacky ingin sekali marah pada Raisya yang terlalu polos menghadapi Nathan dan Michel.
"Lagian siapa yang deket sih Jacky...? Tadi kita cuman ketemu di lift. Tidak sengaja kan? Terus anaknya kan suka rewel. Tangisannya bikin gendang mau pecah. Jadi aku coba biar gak menangis aja sih!"
"Iya tapi si Michel nanti ketagihan sama elu Ra.. Gue gak mau elu jadi riweuh!" Jacky sebenarnya ingin membela Raisya dari kerepotan keduanya.
"Iya deh. Gue ucapin thanks. Tapi kalau bisa, sama anak kecil itu jangan main kasar. Bagaimana ntar elu punya anak kalau kasar gitu?" Raisya agak sedikit manyun.
"Ya enggak lah Ra.. gue bakal sayang!" Bela Jacky sambil menyusul langkah Raisya yang berjalan mendahuluinya.
"Gak percaya. Modelan elu bakal lembut!" Raisya kembali menggerutu.
"Gak percaya? Kamu boleh coba kok Ra.. punya anak sama aku!" Jacky menggodanya.
"Eh.. siapa lagi yang ribut? Gue cuman nawarin kok, mau enggak?" Jacky tersenyum mesum.
"Assalamu'alaikum." Raisya masuk ke dalam ruangan kerja.
"Waalaikumsalam." Hesti melongok dari dalam kubikelnya.
"Wah numben cepet akur! Dapet sogokan?" Hesti terkekeh melihat Raisya dan Jacky berjalan beriringan.
"Kerja.. kerja..!" Raisya melengos masuk ke kubikelnya.
"Wah... ini juga lagi kerja neng... bukan lagi nongkrong!" Balas Hesti sambil tertawa.
Jacky langsung masuk ke ruangannya begitu melihat Raisya tak memberi respon lagi.
Setelah membuka tas dan menyiapkan meja kerjanya Raisya menekan nomor bagian gudang dari mesin telepon kantor.
"Maaf saya Raisya dari bagian keuangan. Bisakah hari ini saya mengadakan rapat intern dengan staf gudang?"
__ADS_1
"Paling jam 9an setelah kami cek barang dahulu." Suara di seberang telepon menjawab.
"Baik! Siapkan dokumen yang akan kalian ajukan untuk satu periode ke depan beserta bugetnya."
"Baik!"
Raisya segera menutup telepon.
"Sya elu mau rapat sama bagian gudang hari ini?" Hesti yang kebetulan mendengar pembicaraan Raisya bertanya.
"Iya. Aku kemarin sudah ngasih pemberitahuan lewat email sama mereka. Aku mulai rapat sama mereka dulu kayanya." Jawab Raisya.
"Hati-hati loh Sya! Orang gudang orang-orang nya pada kasar. Bisa-bisa elu jadi bullyan mereka."
"Iya mbak. Aku pengen lihat juga sama kasus gudang yang udah beberapa kali ada penyimpangan. Aku harus turun langsung ke lapangan, kayanya buat membuktikannya." Raisya mengerutkan dahinya.
"Iya.Hati-hati aja! Jangan sampai mereka main kasar ke elu!" Hesti memperingatkan Raisya tentang kondisi kerja di lapangan.
"Aku pergi dulu ya mbak!" Raisya membawa dokumen juga laptop nya siap mengadakan rapat dengan tim divisi gudang.
"Iya.. goodluck end goodjob! Hesti memberi semangat.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Raisya berjalan menuju divisi gudang yang letaknya di area belakang perusahaan.
"Hei.. tadi yang telepon siapa?" Suara laki-laki setengah baya keluar dari dalam ruang kerjanya.
"Bu Raisya pak!" Sekertarisnya menjawab.
"Bukannya Bu Mia?" Dahinya mengerut
"Bukan pak!"
"Ya sudah siapin ruang rapat! Dan panggil beberapa staf masuk ke ruangan!"
"Baik pak!" Sekertarisnya langsung berjalan menuju ruang rapat. Dan tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di satu ruangan.
Raisya terlihat berjalan sendirian menuju ruang rapat. Lalu duduk di tengah-tengah mereka. Kebanyakan orang gudang adalah laki-laki jadi tak heran di ruangan itu hanya ada Raisya dan sekertarisnya saja yang perempuan.
"Silakan dimulai rapatnya!" Raisya mulai memimpin ruang rapat dengan mendengarkan laporan dari divisi gudang mengenai kebutuhan stok barang dan pengadaan barang.
__ADS_1
Setelah selesai mereka memberikan laporan Raisya berbicara kembali.
"Maaf bapak-bapak. Laporan yang bapak-bapak berikan dari tahun ke tahun hampir sama. Dan kesalahannya pun dipastikan sama juga." Raisya menganalisis data.