
Nathan sibuk berbicara dengan beberapa kolega sehingga dia lupa kehadiran Raisya. Michel pun tadi diajak tuan Robert untuk menikmati beberapa hidangan. Rupanya kakek itu ingin menghibur Michel karena pernikahan Sherly tentunya akan membuat Michel bersedih.
Tak banyak yang Raisya kenal di pesta itu. Membuat Raisya agak jenuh. Dia memilah buah dan sayuran yang sudah menyatu dengan mayonaise untuk mengisi perutnya agar ada kegiatan yang bisa dilakukannya.
"Hai.. sendiri?" Raisya terhenyak menoleh ke sebelah samping kanannya. Ternyata laki-laki berjambang itu sudah mengubah penampilannya.
"Hai.. Jadi juga pergi kesini?" Raisya mencoba mengakrabkan diri dengan pria itu. Jambangnya yang seperti rahib kini dipotong dan menyisakan sebagian tipis di area pipinya juga dagunya. Dia terlihat gagah dan maskulin.
"Ya.. aku teringat seorang wanita yang ingin ditemani. Jadi terpaksa aku pergi juga akhirnya." Ucapnya santai sambil sama-sama menyiduk aneka salad di atas meja.
"Tidak takut? Wanita yang minta ditemani itu punya suami lho!" Bisik Raisya sambil tersenyum. Entahlah Raisya mendadak nyaman dengan Beny walaupun laki-laki itu sudah menggibah keluarga Alberto. Entah karena satu pemikiran entah karena dia pernah mengenalnya di masa lalu.
"Hhhmmm... takut? Tidak. Malah senang bisa mendampingi wanita secantik anda Raisya." Beny terkekeh menertawakan candaannya.
"Hhmmm.. Apa aku terlihat seperti wanita kesepian?" Raisya mendadak murung di tengah lautan manusia yang sedang menikmati pesta.
"Tidak. Malah anda terlihat ratunya malam ini. Lihatlah! Semua orang sepertinya sedang menggunjingkan anda." Beny yang tadi sempat menemani ibunya mendengar para sosialita membicarakan Raisya.
"Sejak kapan anda suka gosip?" Raisya memilah tempat untuk duduk sambil menikmati makanannya.
"Aku tidak suka bergosip. Apalagi membicarakan anda di belakang. Lebih baik aku menemani anda saja agar menjadi tranding topic di pesta ini." Beny tidak peduli kalau banyak mata menatap ke arah dirinya karena kedekatannya dengan Raisya.
"Ha..?" Raisya menutup mulutnya sambil menoleh pada Beny. Tak habis pikir apa yang membuat laki-laki itu benar-benar berani.
"Anda tidak mau berdansa?" Beny melihat beberapa pasangan sedang melakukan dansa dalam alunan musik klasik yang dimainkan para pemain orkestra.
__ADS_1
"Mmm.. tak tahu. Aku tidak terlalu suka." Raisya agak malas harus bergabung dengan beberapa orang di tempat itu untuk berdansa.
"Jangan begitu ratuku. Semua pria pasti kecewa melihat ratu malam ini tidak tampil. Bukankah suamimu menginginkan kamu menjadi pusat perhatian? Aku hanya ingin membantumu agar tidak jenuh." Beny sempat berbicara dengan ibunya tentang obsesi Nathan malam ini. Makanya dia sedikit tahu kenapa ibunya memilihkan gaun itu agar bisa menarik perhatian, sesuai permintaan pelanggan.
"Baiklah.. tak ada salahnya kita turun berdansa." Raisya akhirnya menyetujui permintaan Beny. Keduanya turun membaur ikut berdansa dengan pasangan-pasangan lainnya. Raisya tidak tahu kalau Nathan sangat pencemburu.
Banyak orang memberikan tepuk tangan begitu Raisya digandeng Beny berdansa. Mereka berdecak kagum melihat kelihaian keduanya dalam berdansa. Keduanya menikmati alunan musik yang mengalun lembut sebagai pengiring dansa. Mereka leluasa menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan meleok-leok bagai daun yang melambai terkena tiupan angin.
Sesekali Raisya dan Beny melemparkan senyuman, dan mereka sejenak melupakan kejenuhan pesta dan menikmatinya.
"Nat.. itu istrimu!" Adam menunjukkan Nathan ke arah orang-orang yang sedang berdansa. Nathan yang sedari tadi mengobrol dengan beberapa kolega malah lupa telah meninggalkan Raisya.
Bola mata Nathan bergerak melihat ke arah orang yang sedang menari setelah Adam memberitahukannya.
Dadanya terasa kena tonjokan begitu melihat Raisya sedang menari dengan seorang laki-laki. Jantungnya mendadak berolahraga. Seluruh kulitnya seakan terbakar melihat kemesraan yang ditunjukkan sepasang penari dansa yang tak lain adalah istrinya sendiri. Ya.. walau dia tidak menganggap itu perkawinan yang normal tapi entahlah kalau melihat Raisya sekarang seperti itu dia malah seperti posesif layaknya suami betulan.
Nathan masih memakai gelang pendeteksi emosi. Gelang itu mendadak bergetar, menandakan bahwa dirinya sedang di level teratas emosinya.
Nathan mengambil nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan. Hal itu dilakukan beberapa kali untuk mengatur kembali emosinya yang sempat meninggi.
"Hah.. tidak mempan." Ucap Nathan mengeluarkan nafasnya secara kasar. Terapi yang biasa dilakukannya hanya sedikit menurunkan tempo detak jantungnya. Dadanya malah kembali bergejolak sesak karena menahan emosi besar.
Nathan lalu berjalan ke arah pelayan yang sedang membawakan minuman.
"Maaf.. aku minta dua gelas wine." Nathan menenggak langsung tanpa jeda minuman itu. Berharap minuman itu meredakan emosinya.
__ADS_1
Suara musik pengiring lambat laun-laun mengarah ke tempo cepat. Itu artinya sebentar lagi para pedansa bisa melakukan pertukaran pasangan dengan penari lainnya. Itu kebiasaan orang-orang barat jika sedang berdansa.
Begitu musik mempercepat tempo maka penari pun mengakhiri pasangannya dengan memutar sang perempuan dan melemparkan pada pasangan lain.
Greppp
Tak disangka Raisya langsung ditangkap dengan cepat oleh Nathan. Raisya terhenyak kedua mata saling beradu pandang. Kini tubuhnya dalam genggaman Nathan. Raisya melihat bola mata Nathan yang memerah, tanda suaminya sedang menahan marah besar. Hanya Raisya yang bisa menangkap kemarahannya itu sedangkan yang lain malah bertepuk tangan bergembira melihat ratu malam ini jatuh pada Nathan sebagai pasangan.
Beny yang memilih berdiri di pinggir tidak berminat berdansa dengan perempuan lain. Dia bertepuk tangan menyemangati Raisya yang sudah berada di tangan suaminya. Padahal hati kecilnya merasa gondok.
"Nikmati tariannya.. jangan sampai kaku. Menarilah dengan baik." Nathan berbisik halus di telinga Raisya dengan senyuman palsu.
Ya semua mata memang sedang memandang. Membuat para pasangan lain merasa iri dengan tampilan mesra mereka, apalagi saat Nathan membisikkan sesuatu di telinga Raisya. Itu terlihat seperti godaan pasangan.
Tempo musik kembali mengalun pelan seperti nina Bobo. Raisya lalu kembali berdansa dengan Nathan mengikuti tempo musik. Nathan menjatuhkan kepalanya di bahu Raisya. Satu tangan saling melingkar di pinggang dan satu tangan lagi saling memegang mengacung ke atas. Meliuk pelan ke kiri dan ke kananseperti menina bobokan emosi.
Semua penari mengakhiri tariannya begitu musik berakhir. Mereka bergerak ke pinggir. Di tengah-tengah lautan pasangan penari hanya meninggalkan Raisya dan Nathan. Mereka masih berdiri saling bertatapan. Entah arti tatapan mereka itu, yang jelas semua orang menerikakkan
"Cium.. cium.. cium.. "
Nathan yang sudah agak sedikit mabuk seperti dituntun oleh suara itu. Lalu dia memegang tengkuk Raisya memiringkan wajahnya lalu. ***** bibirnya dengan nafsu yang menggebu.
Aksi Nathan membuat orang melongo. Tontonan gratis dari keluarga Alberto membuat satu ruangan itu bergemuruh karena bisikan yang sama.
Bahkan sang pengantin pria pun terkena hipnotis melihat aksinya.
__ADS_1