Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Takdir Cinta


__ADS_3

Sarah ingin berteriak tapi harus pada siapa dia berteriak? Hatinya kini diserang sedih, kecewa, marah bertubi-tubi tapi dia dipaksa untuk menutupi semua rasa itu demi keadaan.


"Peter... " Hanya satu kata itu yang lolos dari bibirnya. Sahabatnya yang selalu menjadi tempat dia mencurahkan segala beban kini pergi dari hadapannya.


Sarah menelungkupkan mukanya di atas bantal ingin menangis. Hanya punggungnya saja yang terlihat naik turun tapi suaranya ditahan agar tak keluar.


"Kak... " Suaranya yang lirih menyadarkan Sarah yang sedang bersembunyi di balik bantal.


Sarah menyeka air matanya, sejenak mengambil nafas mengatur ulang emosinya. Lalu duduk melihat Raisya dengan senyuman yang dipaksakan dan mata merah yang sembab.


"Kakak.. " Cuman kata itu yang diucapkan Raisya. Walaupun Raisya tidak berbicara tapi dia mengerti apa yang sedang dialami Sarah. Hidup tiga tahun bersamanya membuat Raisya tahu sifat dan kebiasaan Sarah yang suka menyembunyikan masalah. Raisya memeluk erat Sarah berharap dia bisa meringankan beban yang sedang dipikul kakaknya.


Sarah mengusap lembut punggung Raisya. Dan memegang bahu adiknya untuk melonggarkan pelukannya.


"Raisya... tidurlah! Besok kita masih mempunyai agenda pekerjaan yang harus diselesaikan." Sarah tak mau adiknya tidur terlalu malam.


"Kakak.. ini masih siang aku juga belum mengantuk. Aku... ingin bicara dengan kakak." Raisya merasa penting untuk bicara dengan Sarah tanpa menunda sampai besok.


"Iya bicaralah!" Sarah menatap lembut Raisya.


"Kak.. bisakah kakak terus terang padaku apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Aku tak ingin kakak menanggung beban sendirian. Itu tidak baik kak. Kita kan saudara. Kita sudah melewati masa-masa sulit kita selama tiga tahun. Aku tidak mau kakak selalu menyembunyikan masalah dariku." Ucap Raisya dengan wajah memohon.


Hari ini hari yang berat yang dirasakan keduanya. Mulai pekerjaan, masalah Peter yang meninggalkan mereka, ditambah dua laki-laki yang saling adu jotos.


"Sudahlah semua baik-baik saja!" Lagi-lagi Sarah berbicara berlawanan dengan hatinya.


"Tidak kak Sarah. Aku sudah sering kakak mengatakan baik-baik saja padahal aku tahu kakak tidak sedang baik-baik saja." Raisya tak mau lagi Sarah menyembunyikan masalah.


Sarah terdiam, kedua bola matanya memutar bingung harus mengatakan apa pada Raisya.

__ADS_1


"Kak.. aku tadi mendapatkan pesan dari Peter. Sepertinya kalian habis bertengkar ya? Aku telepon balik tapi tidak bisa. Aku tadi menyusul ke kamarnya Peter ternyata sudah pergi meninggalkan kita." Raisya tertunduk sedih. Selama ini Raisya diurus dan selalu dimanja oleh Peter. Dia bukan hanya sebagai penolongnya saja tapi lebih sekedar itu dia adalah seorang abang yang sangat bertanggungjawab dan penuh kasih sayang.


"Tidak. Kita tak mungkin terus menerus bergantung padanya Raisya. Jadi tadi kakak habis perpisahan dulu sama Peter. Kok sama aku tidak kak? Aku akan kembali ke Amerika kak sehabis kerja di Bali selesai." Ucap Raisya tidak mau berpisah dengan Peter.


"Sya.. kakak mohon.. Biarkan Peter dengan kehidupannya. Dia harus mempunyai kehidupannya sendiri." Sarah tidak tahu harus berkata apa untuk mencegah Raisya bertemu Peter lagi. Sedangkan sekarang Sarah sedang ditekan oleh mantan mertuanya.


"Baik kak.. kalau itu yang kakak inginkan." Raisya berkata semu kecewa.


"Sya.. " Sarah memanggilnya ragu. Sejuta kata tercekat dalam tenggorokannya.


"Apa kak?" Raisya menatap Sarah serius.


"Maafin kakak ya!"


"Kak.. ada apa? Kalau ada yang kakak ingin katakan, katakan saja kak! Aku siap menerima apapun konsekuensinya. Aku tahu kakak selalu menyembunyikan masalah dariku."


"Kak.. tidak mungkin aku membenci kakak. Kakak sudah berjuang banyak untuk aku." Raisya telah mengetahui banyak perjuangan Sarah dalam membantunya untuk seperti sekarang ini. Apalagi dia telah menolong dirinya ketika kecelakaan itu terjadi.


"Kamu tahu Nathan itu siapa?"


"Kata kakak.. dia adik mantan suami kakak." Ucap Raisya tanpa mengingat sedikitpun siapa sebenarnya Nathan.


"Betul. Dan kamu sekarang harus menikah dengan nya Sya!" Sarah dengan berat harus menyuruh Raisya menikah dengan Nathan.


"Apa???" Raisya terhenyak kaget mendengar Sarah menyuruhnya menikahi laki-laki yang disebutnya mesum.


"Iya Raisya."


"Tapi kenapa kak? Alasannya apa kak? Bukankah selama ini kakak juga menghindari keluarga mantan suami kakak? Kenapa sekarang aku harus menikahi laki-laki itu?" Raisya tak bisa menerima begitu saja perintah Sarah.

__ADS_1


"Kamu tahu kan Jacky?"


"Iya.. laki-laki mesum bersaudara itu adik dari mantan suami kakak." Raisya agak sedikit manyun.


"Iya keduanya adik dari mantan suami kakak. Jacky akan menikahi sebentar lagi. Dan sangat berbahaya jika kamu tidak segera menikah dengan Nathan."


"Kenapa kak? Kenapa aku harus menikah pria itu dari sekian banyak laki-laki. Apa tidak ada lagi laki-laki yang bisa menikah denganku kak?" Raisya tidak setuju harus berakhir ditangan laki-laki yang belum lama ini ditemuinya. Apalagi kesan pertama saja sudah buruk.


"Iya. Kamu bisa saja menikah dengan laki-laki lain tapi kedua laki-laki itu akan terus-terusan mengejar kamu Raisya. Terpaksa kamu harus memilih Nathan agar menghentikan perebutan kamu."


"Kenapa mereka harus memperebutkan aku kak?


"Kalau keduanya tahu kamu sebenarnya, mereka tidak akan berhenti mengejar kamu. Dan itu sudah kamu lihat sendiri mereka berkelahi dan Jacky sudah mencurigai kamu Raisya."


"Kak... tolong jelaskan padaku. Jangan ada yang ditutupi lagi! Aku memang tidak bisa mengingat mereka. Tapi mereka pasti mengingat aku kak. Sekarang aku minta kakak berkata jujur. Apa hubungannya mereka denganku?" Rasa kepenasaran Raisya begitu besar. Apalagi kejadian tadi membuatnya kesal.


"Sebenarnya.. Kamu adalah calon istri Nathan."


"Apa??" Dada Raisya seperti tertonjok benda besar mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Sarah.


"Kamu.. kecelakaan di rumah Nathan sewaktu turun dari tangga. Dan kejadian itu membuatmu koma dan hilang ingatan. Semua demi kebaikan kamu Raisya. Aku yang memutuskan membawamu ke Amerika dan meminta mertuaku membuat kematian palsu kamu Raisya."


"Itu aku lakukan demi keselamatan kamu. Sepeninggal kamu, Jacky dan Nathan masuk rumah sakit rehabilitasi untuk penyembuhan kejiwaan mereka karena tidak siap ditinggalkan sama kamu Raisya."


"Mereka percaya bahwa kamu sudah meninggal. Bahkan sampai saat ini juga mereka masih mempercayai hal itu. Jacky akan menikah dengan Sherly yang nota bene adalah ibu kandungannya Michel. Jika kamu tidak segera menikah dengan Nathan, kamu akan menjadi bahan rebutan antara Nathan dan Jacky lagi. Apalagi kalau mereka tahu siapa kamu sebenarnya."


"Aku pusing kak. Kenapa ibunya Michel bisa menikah dengan Jacky? Dan sekarang aku harus menikah dengan Nathan?"


"Mereka mencintai wanita yang sama."

__ADS_1


__ADS_2