Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Usaha


__ADS_3

Ratna : "Gue belum kenal beneran sama elu Wan? Tetiba elu ngajak nikah.


Irwan : "Oke. Kita bisa saling mengenal mulai sekarang Ratna. Kalau elu merasa tidak cocok. Elu bisa bilang tidak. Kita jalani dulu aja pengenalan ini. Tapi bukan pacaran ya! Gue gak mau merusak hubungan yang mau gue lanjut. Biar kita saling nyaman aja. Mulai dari sekarang gue mau nanya. Tipe laki-laki idaman elu kayak gimana sih? Tujuan hidup elu tentang keluarga bagaimana? He he BH elu gede gak?"


Ratna : "Ih mesum!"


Irwan : "Maksud gue biaya hidup elu Ratna?'


Ratna: "Oh.. itu. He he."


Irwan : "Kalau gue sendiri sih sebelumnya sudah banyak merhatiin elu. Tinggal gue mau kenalan sama keluarga elu. Tapi gue yakin keluarga elu baik. Denger elu barusan cerita. Tinggal elu yang harus mengenal siapa gue dan keluarga gue. Elu banyak PR nya Rat. Kalau elu pengen serius. Tapi kalau dari sekarang, elu udah gak cocok sama gue. Ya... Gue tinggal nyari calon lagi."


Ratna : "Gue pikir-pikir dulu Wan. Soalnya gue... aslinya awam mengenal laki-laki. Jadi gue harus cerita dulu sama kakak gue dan Ortu juga. Biar ada masukan buat gue. Gue sih gak nolak ya.. tapi mau usaha dulu."


Irwan : "Ya bagus kalau elu mau serius. Pasti ada jalan. Tapi kalau elu gak cocok sama gue, tinggal elu putusin aja. Biar gue gak nunggu-nunggu. Gue mau seriusan. Selain umur juga kebutuhan... he he."


"Nah gitu Rat. Pembicaraan gue sama Si Irwansyah. Menurut pendapat elu gimana sih si Irwan?" Ratna ingin meminta pendapat temannya agar Ratna bisa mendapatkan masukan untuk keputusan ke depannya.


"Apa ya? Gue bingung Rat. Menurut gue sih ya.. selama gue kenal sama Irwan satu divisi, ya dia orangnya tanggung jawab kalau bekerja. Nyaman kalau diajak ngobrol atau sharing pendapat. Terus memang orangnya nyablak ya.. he he. Tapi dia orangnya sih tidak munafik. Bicara apa adanya. Yang gue tahu segitu Rat. Omongan gue jangan elu pakai sebagai pegangan. Gue lihatnya dari sisi luar aja. Karena gak kenal jauh sama Irwan. Beda kalau sama si Jacky, karena kita banyak inten, sedikit banyak sih sifat baik dan buruknya gue tahu.


"Tapi ya.. kalau melihat pembicaraan elu barusan dia tipikel laki-laki seriusan lho! Bukan tipe laki-laki main-main. Bisa aja kan dia nembak elu tapi ya cuman butuh sekadar jadi pacar. Mending kalau udah ada warning gitu, ya dikenali aja lebih jauh. Kan kata dia juga kalau gak cocok boleh mutusin Rat! Jadi gak beban di elu nya juga.


"Iya bener juga sih! Tapi ngefek juga gak sih ke kerjaan? Kan namanya hubungan pasti lah ada cekcok nya ntar kerjaan kita pengaruh gak sih?" Ratna terlihat khawatir.


"Kalau menurut gue ngaruh juga. Buktinya kemarin waktu si Jacky baper, gue ditugasin job dia seubrug. Ya pastinya ada tapi tergantung orangnya juga sih."

__ADS_1


"Ya udah aku nanti mau sharing juga sama kak Hendrik. Dia kan cowok, terus dia juga lagi cuti, jadi gue bebas minta tolong buat menilai si Irwan kaya gimana." Ratna seolah mendapatkan ide untuk meminta bantuan Hendrik menilai Irwan.


"Ya baguslah Rat! Elu mesti manfaatkan kak Hendrik walau memang selama ini elu sudah menerima manfaat juga kan dari gaji kak Hendrik? he he.. " Raisya terkekeh.


"Lah Sya.. elu lapar kali? Ini makanan kok kaya sisaan sih?" Ratna melongo melihat beberapa menu tinggal sisa apalagi menu yang Ratna sukai.


"Denger elu cerita itu butuh energi besar Rat.. habis elu bawa sumpit bukan dipake nyomot. Malah terus aja kaya petunjuk ngaji iqro acung-acungan. Sekarang elu makan yang ada. Nih sama gue masih disisain kok! Nah yang itu malah masih banyak." Raisya menunjuk makanan yang cuman dicicipi saja.


"Ya.. itu kan yang kita suka. Yang masih banyak kita juga gak doyan." Protes Ratna melihat menu-menu yang menguap cepat dan yang masih banyak menumpuk.


"He he sorry.. ini aja makan! Kalau elu gak mau gue makan lagi! Mubadzir kalau udah dibeli gak dimakan." Raisya siap-siap nyomot lagi pake sumpitnya.


"Eh.. Jangan-jangan! Gue makan deh walau sisa. Gak pa-pa daripada gak sama sekali." Ratna langsung mengambil sisa-sisa menu yang tinggal sedikit lalu dengan cepat memasukkan ke dalam mulutnya takut diembat lagi sama Raisya.


Ratna hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya dan asik menyuapkan sisa-sisa makanan yang sudah dimakan terlebih dahulu oleh Raisya.


Raisya masuk terburu-buru ke dalam toilet tanpa mengindahkan perempuan yang baru saja keluar dari toilet sampai menubruk begitu saja.


"Hey calm girl.. " Wanita dengan tinggi hampir mencapai 180 itu melirik Raisya sebentar dan memberi saran untuk bersikap tenang.


"Maaf!" Raisya langsung masuk begitu saja dan mengunci pintunya karena tidak kuat menahan ingin pipis.


Wanita itu hanya menggelengkan kepala lalu mendekati cermin memperbaiki riasannya.


"Ah lega." Raisya keluar dari toilet dan berdiri di samping wanita yang penampilannya mirip seorang model internasional. Selain tinggi, wajahnya tidak pasaran. Dan satu lagi yang bikin Raisya kagum, kulitnya begitu mulus layaknya sudah diampelas. Ditambah bajunya yang begitu menempel mengikuti lekuk tubuhnya terlihat indah bagi siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


"MasyaAllah.. cantik abis!" Raisya berdecak kagum, bergumam dalam hatinya. Raisya berlalu mendahului wanita itu yang masih memperbaiki riasannya.


"Sya.. kita pulang sekarang yuk?" Ratna sudah selesai makan dan mengajak Raisya pulang.


"Hayu." Raisya langsung menyambar tas yang ada di sampingnya.


Ratna berdiri lalu keluar dari ruangan itu dengan bergandengan tangan.


"Sya lihat...! Bodynya aduhai." Ratna mengagumi wanita yang sedang berjalan di depannya dengan menggandeng seorang pria.


"Sttt." Raisya menempelkan telunjuknya di bibir. Mencegah Ratna untuk mengomentari penampilan wanita itu. Takut suaranya sampai ke telinganya.


"Sya kita ke kasir dulu!" Ratna mengarahkan Raisya berbelok untuk membayar makanan yang telah dipesan.


Wanita itu terus berjalan sedangkan Raisya dan Ratna tertinggal di belakang.


"Kemana wanita tadi Sya?" Ratna mengedarkan pandangannya mencari wanita yang sama, yang dilihat Raisya sewaktu di toilet.


"Ngapain kamu cari-cari dia sih?' Raisya seperti melayangkan protes.


"Gue kagum aja sih! Dari belakang aduhai gitu apalagi dari depan. Sya... itu!" Ratna menunjuk seseorang.



Yuk mampir di novel temen aku.. InsyaAllah menarik. Bagi readers mampir ya.. ☺

__ADS_1


__ADS_2