Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tolong mengerti


__ADS_3

"Pih.. Raisya ingin pulang ke rumah ibunya. Bagaimana pih?" Istrinya tuan Robert menyampaikan keinginan Raisya yang ingin pulang ke Bandung.


"Mmm... aku bingung mih. Satu sisi papih juga gak tega sama Jacky dan satu sisi papih juga tidak bisa memaksa keinginan Raisya. Papih pikir dengan mengatakan Jacky di rumah sakit Raisya akan bertahan di sini mih. Tapi nyatanya, dia malah ingin pulang." Tuan Robert memijit-mijit keningnya. Persoalan yang sedang menimpa Jacky dan Raisya benar-benar membuat tuan Robert bingung.


"Iya. Mamih juga mengerti. Sebaiknya sih Raisya pulang dulu pih. Mental Raisya mungkin sekarang lagi rapuh pih. Nathan belum lama ini meninggal, terus dihadapkan dengan masalah Michel. Lalu sekarang harus menghadapi Jacky. Itu tidak mudah pih bagi perempuan yang berpikir dengan hati. Berbeda dengan seorang laki-laki yang berpikir dengan logikanya. Raisya butuh istirahat dari berpikir." Ada benarnya juga apa yang dikatakan istrinya. Karena semenjak kematian Nathan, Raisya belum diberi kesempatan untuk menghibur dirinya.


"Baiklah besok pagi papih akan bicara dengannya. Tapi papih ingin Raisya menengok dulu Jacky, agar Jacky tidak ngamuk-ngamuk. Tadi papih sempat bicara dengan dokter psikiater yang ada di rumah sakit kita, Jacky mengalami depresi paska gegar otak. Emosinya akan naik turun tanpa bisa dikendalikan. Terpaksa Jacky diberi obat penenang meski dosis rendah. Papih tidak mau Jacky ketagihan obat itu ke depannya." Terang tuan Robert pada istrinya.


"Ya terserah papih. Baiknya bagaimana, yang penting Jacky tidak stress begitupun Raisya. Mamih malah khawatir jika kita mengekang Raisya, malah dia akan pergi dari Jacky. Mamih tidak mau mengulang kesalahan mamih pada Sarah juga Adam." Istrinya tuan Robert jadi teringat kesalahannya pada Adam.


"Oh.. iya.. papih kenapa jadi inget sama Adam. Semenjak Jacky di rumah sakit papih belum sempat menelponnya mih. Papih mau telepon dulu Adam dulu mih." Tuan Robert seperti mendapatkan ide untuk menanyakan kabar anaknya yang sedang di Amerika.


Malam itu tuan Robert sepertinya asik berbicara dengan putra sulungnya, Adam. Dia mengabarkan bahwa kondisi perusahaan pun baik-baik saja. Dan ada satu yang membuatnya bergembira, yaitu hubungan Adam dan Sarah sedang dalam tahap rujuk. Itu membuat tuan Robert bisa bernafas lega. Pasalnya, Adam tidak mau menikah lagi paska bercerai dengan Sarah. Dia memilih hidup sendiri daripada harus menikah lagi. Adam sangat menyesali perbuatannya dan ingin menebus dosa-dosanya selama ini pada Sarah.


Begitupun dengan istrinya tuan Robert, mendengar anak sulungnya akan rujuk sepertinya dia sedang kejatuhan rejeki dari langit. Dia sangat bahagia mendengar kabar Adam kembali mau menikah. Itu sungguh penantian yang cukup panjang bagi keluarga Alberto. Dia sudah tidak mempermasalahkan kalau Sarah tidak mempunyai anak, toh keluarga Alberto sudah mempunyai dua cucu, yaitu Michel dan Arsel.


Di lain tempat Raisya sudah membaringkan tubuhnya. Arsel dan Michel sudah tidur di kamarnya masing-masing. Sejak Raisya dirawat, anak-anak nya jadi lebih mandiri, tidak lagi tidur menempel pada Raisya.


Kring


Kring


Kring

__ADS_1


Handphone Raisya terdengar berbunyi. Raisya melihat nama yang tampil di layar handphonenya.


"Dokter Ferdi... Ada apa malam-malam menelpon?" Raisya mengerutkan keningnya, mempertanyakan maksud dokter Ferdi menelponnya. Dadanya tiba-tiba diserang perasaan tidak menentu. Begitupun dokter Ferdi yang sejak siang terus gelisah, menunggu janji Raisya yang akan menghubunginya. Tapi sudah ditunggu sampai jam delapan malam tak kunjung ada. Terpaksa dokter Ferdi menelepon karena dia tidak tahan untuk menunggu terlalu lama.


"Assalamu'alaikum." Raisya menggeser tanda hijau untuk mengangkat dokter Ferdi.


"Waalaikumsalam Raisya." Dada dokter Ferdi dah dig dug tak beraturan begitu mendengar suara Raisya menjawab. Meski orang yang diajak ngobrol di seberang telepon tapi entah kenapa hatinya begitu tak karuan.


"Iya.. ada dok?" Raisya hanya bertanya seperti itu.


Lah.. bukannya tadi dia berjanji mau menelpon? Lah sekarang kok malah nanya ada apa?


Dokter Ferdi yang sejak tadi menunggu telepon Raisya jadi melongo mendengar Raisya berkata seperti itu. Tapi dokter Ferdi tidak mau membahas sesuatu yang membuat hubungan mereka merenggang.


Byuarr


Seketika juga pipi keduannya jadi merah merona. Untung saja mereka tidak bertemu langsung kalau tidak, keduanya pasti malu.


Raisya hanya terdiam mendengar ungkapan hati dokter Ferdi yang terlalu terus terang.


"Raisya... " Dokter Ferdi memanggil Raisya, karena tidak terdengar suaranya.


"Iya.. " Raisya menjawab dengan malu-malu. Inikah rasanya orang yang sedang jatuh cinta? Meski umur mereka sudah di atas 30an tapi kelakuannya sama saja kaya anak abg, menjadi lebay dan alay.

__ADS_1


"Kamu kok diem aja? Apa kamu tidak kangen sama aku Sya?" Dokter Ferdi semakin menggebu. Kalau boleh mungkin rasanya ingin memeluk Raisya, tapi apa daya selain jauh dokter Ferdi pun mempunyai batasana yang harus dia taati sebagaimana Raisya.


"Mmm.. " Raisya hanya bingung harus menjawabnya. Perasaan dia masih tidak jelas. Raisya menyukai dokter Ferdi tapi untuk mengungkapkannya lebih jelas dalam waktu singkat ini rasanya ada yang mengganjal dalam hatinya. Masa iya dalam waktu singkat langsung suka-suka an gitu? Kan gak lucu juga. Raisya memang terbilang tipe perempuan yang lama untuk menerima perasaan.


"Kok Mmm sih? Apa susah buat menyatakan rasa?" Dokter Ferdi rupanya tidak sabar juga mendengar timbal balik perasaan Raisya.


"Bukan begitu sih dok!" Raisya tak mau membuat tersinggung dokter Ferdi.


Kenapa urusannya jadi begini ya? Ah.. kampius deh gue.


Raisya hanya bergumam sendiri, dengan kebingungannya dalam menanggapi sikap dokter Ferdi.


"Jangan panggil aku dokter, panggil aku Ferdi aja. Boleh gak aku panggil kamu..sayang?" Dokter Ferdi tidak mau berlama-lama mengungkapkan rasa yang meledak-ledak seperti ini. Bahkan ini kali pertama buat dokter Ferdi seberani ini. Dulu waktu dia pernah menyukai seseorang, dia tidak seagresif sekarang.


"Gimana ya dok.. sepertinya jangan seperti ini deh!" Raisya tak ingin dokter Ferdi menaruh harapan besar padanya.


"Memang kenapa Sya? Aku tidak boleh menyukaimu? Atau jangan-jangan kamu tidak menyukaiku?" Dokter Ferdi mengerutkan kening. Kesannya memang seperti dokter Ferdi memaksan diri, dan seperti cinta bertepuk sebelah tangan.


"Bukan begitu dok... tolong mengerti keadaan aku sekarang dok... " Raisya yang tadinya hatinya berdebar-debar sekarang berubah menjadi ketakutan.


"Oke.. oke.. maafin aku ya! Aku kayaknya kurang mengerti kamu. Oke kita akan melakukannya dengan pelan-pelan. Yang penting kamu jangan nolak aku ya!" Dokter Ferdi langsung mengerti apa yang dirasakan Raisya.


"Dokter tahu sendiri, aku kan bukan perempuan yang free sekarang ini."

__ADS_1


__ADS_2