
"Maaf piringnya mau saya ambil. Mau saya simpan di belakang. Di sini anda tamu, bukan anak yatim. Biar adil kita ambil nasi baru lagi!" Raisya menarik piring yang ada di depan dokter Ferdi dan memberi piring yang baru.
Weis... kamu marah aja masih manis... bahkan bikin aku gula-gula
Dokter Ferdi malah semakin suka melihat Raisya jutek. Dia seksi banget kalau terlihat judes gitu. Bikin dokter Ferdi ingin meluk aja kalau Raisya kelihatan begitu.
Ah.. aku bisa gila... lihat kamu kaya gitu Raisya. Apa aku lamar sekarang aja ya? Biar bisa langsung bebas peluk-peluk kalau aku greget sama kamu.
"Ya udah terimakasih. Maaf sudah merepotkan." Dokter Ferdi tadinya ingin memberikan kesan baik, ternyata malah Raisya tidak menyukai sikapnya barusan, apalagi menyinggung masalah anak yatim. Dokter Ferdi tersenyum mesem-mesem begitu Raisya menyodorkan piring baru.
Ah.. Jadi gak sabar jadi suami beneran.
"Iya sama-sama." Raisya kembali duduk dan makan dengan tenang. Raisya tidak berani mengangkat wajahnya takut beradu pandang dengan dokter Ferdi. Dari ujung matanya dia melihat dokter Ferdi terus menatap lekat terus ke arah Raisya.
Ampun.. itu mata coba ditertibkan dokter! Biar tidak jadi dosa. Apa tidak bisa menjaga pandangan? Atau memang aslinya dokter Ferdi ini suka begitu ya? Aih.. malah senyum-senyum begitu lagi..!
Raisya merasa tidak nyaman dengan cara tatapan dokter Ferdi yang seperti itu. Seperti sedang menguliti Raisya.
"Maaf dokter.. apa dokter tidak ada kegiatan di week and?" Raisya ingin tahu kenapa dokter Ferdi sampai nekad menyusulnya ke Bandung. Apa tidak ada kesibukan. Padahal setahu Raisya, dokter Ferdi orang sibuk.
"Ya tergantung. Kadang mengontrol klinik. Kadang juga mengisi seminar. Ya.. kebetulan minggu ini saya cansel beberapa jadwal." Jawabnya santai.
"Kenapa mengcansel? Apa tujuan anda datang kesini?" Tidak habis pikir kenapa juga harus membatalkan kesibukannya demi datang ke Bandung?
"Mmm.. kenapa ya? Lah kenapa juga kamu tidak menjawab pesan dan telepon aku? Coba kalau kamu jawab, aku gak akan jauh-jauh menyusul kamu kesini. Apa coba alasannya kamu sampai tak menjawab?" Dokter Ferdi ingin tahu alasannya kenapa Raisya seperti itu.
"Maaf dokter. Saya sedang banyak masalah. Saya tidak mungkin berhubungan dengan laki-laki asing sementara di rumah, adik suami saya sedang mengalami musibah. Belum anak saya juga. Banyak yang harus saya pikirkan dokter." Raisya mencoba mencari alasan agar bisa diterima dokter Ferdi.
"Aku tahu kamu mau menghindar dari aku. Apa yang kamu takutkan?" Dokter Ferdi mendekatkan wajahnya pada Raisya.
Raisya mengerutkan dahi.
Apa maksudnya?
Raisya melihat dokter Ferdi.
__ADS_1
"Apa kamu takut jatuh cinta ya?" Tanya Dokter Ferdi menohok perasaan Raisya.
Seketika itu juga menunduk. Pipinya yang putih merah merona.
Ini nih.. yang aku gak suka. Bikin aku tak berdaya dan sulit menghindar. Bagaimana caranya agar dokter Ferdi tidak terus-terusan seperti itu. Lama-lama benteng pertahanan aku bisa runtuh juga. Ah...
Raisya merutuki dirinya sendiri melihat sikap dokter Ferdi yang terus maju tak patah arang, mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
"Mmm.. Raisya. Kalau ayahmu dimana? Apa masih bekerja?" Dokter Ferdi penasaran juga tentang ayahnya Raisya.
"Ayah saya lagi sakit. Ada di kamar." Ucap Raisya pelan.
"Ohh... sakit apa? Apa aku boleh menengoknya?" Dokter Ferdi jadi tidak enak hati, karena tidak tahu kalau ayahnya Raisya sedang sakit.
"Iya. Boleh. Bahkan setelah makan saya mau membawanya ke rumah sakit untuk kontrol." Jawab Raisya mengungkapkan niatnya. Berharap kalau dokter Ferdi tahu, dia bisa pulang lebih cepat.
"Maafkan aku Raisya. Aku kira... kamu tidak serius." Dokter Ferdi menyesali bahwa barusan dia tidak mempercayai Raisya karena dengan alasan-alasannya.
"Maksud dokter?"
Ih.. gak nyambung banget, ditanya apa jawab apa..
Sayangnya Raisya hanya bisa menggerutu di dalam hati.
"Ayo dong Raisya.. please!" Wajah tampannya memelas dengan hiba. Dokter Ferdi berharap hubungan dengan Raisya semakin dekat. Ya mungkin.. diawali dengan cara memanggil lebih dulu.
"Iya kak Ferdi." Jawab Raisya memantaskan panggilan dokter Ferdi dengan didahului kak.
"Lah.. kalau kakak.. kaya aku kakak kamu. Mending pakai mas aja! Biar kelihatan pas." Dokter Ferdi mengusulkan pada Raisya agar memanggilnya dengan panggilan mas.
"Mending kak atau dokter? Menurut aku panggilan itu lebih pantas buat kak Ferdi. Jadi mau gak? Kalau tidak, aku malah senang memanggilmu dokter saja."
"He.. iya deh.. segitu juga sudah ada perkembangan." Ucap dokter Ferdi menyudahi acara makannya.
"Sebentar aku ke depan dulu ya Raisya. Bawa alat-alat di mobil." Dokter Ferdi berdiri meninggalkan ruang makan menuju tempat parkiran untuk mengambil alat-alat medisnya yang selalu disimpan untuk cadangan jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya.
__ADS_1
Raisya pun membereskan meja makan. Lalu menyimpan sisa-sisa makanan ke dalam kitchen juga kulkas.
Setelah membereskan makanan, Raisya pun berjalan mendekati kamar ibunya. Terdengar samar-samar ibunya sedang berbicara dengan suaminya.
"Kata Raisya.. teman pak." Suara ibunya masih jelas terdengar oleh Raisya dibalik pintu.
Tok
Tok
Tok
Raisya mengetuk pintu.
"Masuk!" Suara ibunya menyuruhnya masuk.
"Assalamualaikum." Raisya memberi salam lalu masuk ke dalam kamar.
"Mah.. pak.. teman Raisya mau memeriksa bapak. Kebetulan dia seorang dokter. Sebelum kita ke rumah sakit, apa bapak bersedia diperiksa?" Sepasang mata Raisya melihat ke arah pak Kardi.
"Maafkan bapak Raisya! Jadi merepotkan kamu." Meski ayahnya tidak enak harus banyak merepotkan. Tapi dia sudah pasrah.
"Gak apa-apa pak.. yang penting bapak sehat. Nanti setelah bapak diperiksa, kita ke rumah sakit bersama-sama. Yak pak?"
Ayahnya Raisya hanya bisa terdiam tak mampu menolak bantuan Raisya.
Pak Kardi mengangguk.
"Kalau begitu Raisya panggilkan teman Raisya dulu ya!" Raisya keluar dari kamar lalu mendekati dokter Ferdi yang sudah duduk kembali di kursi tempat makan tadi.
"Kak.. bapak susah siap kayanya. Barusan Raisya sudah memberitahu bapak dan mamah terlebih dahulu.
"Baiklah." Dokter Ferdi lantas mengikuti langkah Raisya yang memasuki kamar ibunya. Baru juga Ferdi masuk ke kamar. Suara yang sudah dikenalnya dari dulu memangil namanya.
"Ferdi..." Pak. Kardi memanggilnya tanpa gelar pada dokter Ferdi. Dadanya begitu sakit, melihat sosok laki-laki yang selama ini diperjuangkannya kini ada di depannya.
__ADS_1
"Om... " Dokter Ferdi juga tak kalah kagetnya melihat sosok yang selama ini dicarinya malah ada di dalam kamar ini