
Nathan menatap kagum pada penampilan Raisya. Tapi dia gengsi untuk mengungkapkannya secara lisan.
"Reza kita pergi ke sekolah Michel!" Suara otoriternya kentara sekali.
"Baik pak!" jawab Reza.
"Asik.. aku bisa bilang sama teman-teman, sekarang aku punya bunda." Michel berjingkrak gembira.
"Apa bunda?" Raisya mengernyitkan dahi.
Michel langsung bergelayut manja di tangan Raisya.
"Tante.. mulai sekarang jadi bunda Michel.. yeee.." Michel kembali berjingkrak.
"Tidak... tidak Michel. Tante tidak bisa! Tante tak bisa jadi bunda Michel!" Tolak Raisya dengan sorot mata penuh tanya pada Nathan.
"Aku akan membayar mu sesuai tarip mu semalam. sejumlah uang akan masuk ke dalam rekening mu setelah tugasmu selesai. Kamu tetap akan jadi wanita bayaran sepanjang aku memerlukan mu." Ucap Nathan dengan tatapan mengancam.
"Tidak. Siapa kamu? Berani mengatur hidup aku? Kamu hanya atasan di kantor tapi bukan bos dalam hidupku. Aku punya kehidupan. Aku tidak mau, kamu semaunya mengatur." Raisya benar-benar jengkel dengan sikap Nathan. Kenapa sekarang dirinya harus terjebak dengan kehidupan dua orang yang ada di depannya.
"Ikuti! Atau kamu mau aku berbuat lebih? Sekarang berpura-pura lah jadi ibunya Michel! Kalau akting mu bagus, aku akan menambahkan sejumlah uang untuk kamu!" Nathan hanya mengukur semuanya dengan uang tanpa memikirkan bagaimana perasaan Raisya.
"Tidak mau!" Tolak Raisya.
Nathan menarik tangan Raisya lalu tanpa aba-aba telapak tangannya melayang menampar Raisya.
Raisya terhuyung.
"Pak!" Reza menahan Nathan agar tidak bertindak berlebihan pada Raisya. Nathan yang sudah lama. mempunyai gangguan emosinal sering terpancing jika dia kesal atau marah.
"Bu Raisya tidak apa-apa?" Tanya Reza mendekati Raisya. Dia sangat khawatir jika Raisya kena pukulan Nathan seperti dahulu.
__ADS_1
"Bilang pada bos psikopat mu agar bisa bicara baik-baik! Aku bukan budaknya! Apalagi wanita bayaran." Raisya memegang pipinya yang kena tamparan Nathan. Dia lalu berjalan melewati Nathan dan Reza hendak keluar dari halaman rumah besar itu dan berinisiatif untuk naik kendaraan umum.
"Tante... jangan tinggalkan Michel!" Anak itu langsung berlari mengejar Raisya ke luar pagar.
"Pak Nathan tunggu di sini! Biar saya yang menyelesaikannya dengan bu Raisya." Pinta Reza
Reza langsung berlari mengejar Raisya juga Michel.
Raisya yang mendengar panggilan Michel langsung menoleh. Dia menghampiri anak itu lalu berjongkok memeluknya untuk menenangkan.
Raisya tahu kalau sedikit saja Michel terluka maka bapak beruang akan mengeluarkan cakar dan taringnya untuk menerkam.
"Bu Raisya. Saya mau bicara dulu!" Reza agak terengah-engah.
Raisya lalu berdiri melihat Reza dan berdiri berhadapan. Sementara Nathan berdiri dari kejauhan memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Maaf Bu Raisya. Sebenarnya pak Nathan akan sibuk selama sebulan ke depan. Mungkin juga akan pergi ke Bali, Lombok dan juga tempat-tempat pariwisata menemani pak menteri. Dia membutuhkan bantuan anda untuk menemani Michel. Tapi dia tak pandai untuk meminta anda secara baik-baik. Terutama jika menyangkut Michel emosinya tidak stabil. Jadi kesannya memang seperti itu. Sebaiknya anda tidak menolak permintaannya. Saya yakin dia sebenarnya baik kok!" Ucap Reza pada Raisya.
"Baik darimana pak Reza? Baik dari Hongkong?" Raisya menjawab ketus.
"Iya saya minta maaf Bu! Pak Nathan sangat sensitif jika menyangkut Michel. Saya harap anda bisa mengikuti kalau anda tak ingin terlibat kekerasan seperti tadi. Dia tak suka dibantah bu." Terang Reza.
"Pak Reza.. tolong! Saya juga punya kehidupan dan masalah. Jadi bisakah pak Reza sampaikan pada pak Nathan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Saya harus bekerja sampingan mulai sore hari sampai jam 9. Mana mungkin harus menjaga Michel. Tolong pengertiannya!" Raisya berbicara dengan wajah memelas.
"Baik. Nanti akan disampaikan. Tapi untuk sekarang, mohon bu Raisya! Kita pergi bersama untuk pergi ke sekolah Michel. Karena kalau tidak sekolah akan repot juga harus menjaganya seharian. Bu Raisya pura-pura jadi bundanya Michel. Tiap hari saya akan memasukan jumlah uang ke rekening anda sebagai upah menjaganya. Bagaimana?" Ucap Reza agar Raisya mau mengikuti keinginan Nathan.
"Baik.Tapi tolong jangan sampai mengganggu kerja saya nanti di sore hari. Saya akan malu kalau kinerja saya tidak profesional." ucap Raisya.
"Iya nanti akan saya bicarakan dengan pak Nathan. Sekarang mari kita kembali! Saya akan antar anda untuk pergi ke sekolah Michel. Selanjutnya kita akan pergi ke kantor bersama.
Raisya mengangguk. Michel tersenyum mendengar Raisya mau mengantarkannya ke sekolah. Tangannya yang mungil meraih tangan Raisya, sambil berjalan dia menggoyang-goyangkannya.
__ADS_1
"Pak Nathan sebaiknya anda duduk di depan agar bu Raisya nyaman mengantarkan Michel!" Reza berbisik begitu sudah mendekati Nathan.
"Siapa dia harus mengatur duduk segala?" Tolak Nathan.
"Pak saya mohon! Saya sudah berusaha sebaik mungkin agar dia bisa mengantar Michel. Kalau bapak seperti itu, Michel akan mogok sekolah lagi dan akan merepotkan bapak sendiri." Saran Reza yang sudah pusing melihat sikap bosnya yang benar-benar arogan dan keras kepala.
Nathan langsung membuka pintu depan lalu masuk ke mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Suara itu cukup membuat Reza menggidikkan bahunya. Kalau bukan karena tugas tuan Robert untuk jadi asisten Nathan mungkin Reza sudah mengundurkan diri sejak kemarin.
"Mari bu Raisya!" Reza membukakan pintu mobil belakang untuk Raisya juga Michel.
Raisya pun masuk dan duduk berdampingan. Mobil itu pun melaju pergi ke sekolah Michel.
Tiba sudah mobil itu di depan halaman sekolah Michel. Raisya keluar dari mobil begitupun Nathan. Dari gerbang sekolah para guru sudah menyambut para murid.
"Ayo salim dulu sama ayah bundanya!" Seorang guru terdengar memberi perintah bagi para murid untuk membiasakan sopan santun pada orang tua.
"Eh.. Michel.. Selamat pagi!' Seorang guru mendekati Michel.
"Selamat pagi!" Raisya dan Nathan kompak bersuara.
"Apa kabar sayang?" Guru itu melihat Michel.
"Baik." Michel menggenggam tangan Raisya.
"Bu guru.. kenalin ini bunda Michel. Namanya Bunda Raisya." Michel terlihat bangga memperkenalkan Raisya.
Raisya tersenyum tipis agak kikuk harus berbohong.
"Wah senangnya diantar bunda. Oh iya perkenalkan saya Nita guru wali untuk Michel. Senang mengenal anda!" Dia mengulurkan tangannya. Raisya menyambut uluran tangannya untuk bersalaman.
"Baik. Sekarang kasih semangat anak-anak dengan ciuman estafet!" Nita mengingatkan Nathan dan Raisya.
__ADS_1
"Apa?" Raisya agak risih harus berciuman estafet layaknya orang tua sesungguhnya.
"Ayo daddy.. cium. bunda!" Netra Michel menatap penuh harap pada Nathan.