Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Curhat


__ADS_3

Anak-anak begitu senang makan di rest area. Selain bisa bermain mereka pun bisa mengisi perutnya. Dibantu baby sitter anak-anak makan dengan lahap di tempat khusus.


Sementara Raisya duduk bersama Ratna juga Irwan di tempat makan.


"Kamu mau cerita Sya sama aku?" Ratna memulai pembicaraan setelah melihat Raisya duduk termenung.


"Aku bingung Rat.. " Bibirnya bergetar.


"Bingung kenapa?" Penasaran Ratna tak bisa ditahan lagi.


"Tadi.. tuan Robert memintaku untuk menikah kembali dengan Nathan. Nathan Rat.. " Kalimatnya tergantung. Dia tak kuasa jika menahan kenyataan kalau benar-benar Nathan memang diprediksi tidak panjang umur. Akhirnya Raisya terisak tak bisa menahan rasa sedihnya.


"Sya.. " Ratna mengelus punggung Raisya yang sesenggukan.


"Kamu menyukai Nathan?" Irwan bertanya akan perasaan Raisya saat ini pada Nathan.


"Aku... tidak tahu." Raisya menyeka air matanya.


"Mmm.. Kamu takut? Atau ragu?" Irwan kembali melayangkan pertanyaan. Melihat kondisi Raisya seperti itu membuat pasangan suami istri itu juga ikut prihatin. Apalagi kondisi Nathan yang sekarang sedang sakit memang membuat Raisya dilema. Ditolak takut terjadi apa-apa. Diterima takut hal-hal yang terjadi di masa lalu terulang lagi.


"Sya.. kamu mending istikharah! Bukannya aku menggurui ya, biar hati kamu tenang Sya!" Ratna mengingatkan sahabatnya itu. Biasanya Raisya yang sering mengingatkan Ratna, entahlah mungkin saat ini Raisya sedang futhur alias imannya sedang turun.


"Iya Rat. Terima kasih kamu sudah mengingatkan." Raisya baru menyadari kekeliruannya. Seharusnya disaat seperti ini dia harus lebih dekat pada Allah, bukannya bingung sendiri.


"Mending sekarang kamu makan! Biar kamu ada tenaga buat berpikir. Nanti selepas sampai di rumah kamu bisa bicara sama orang tua kamu. Bisa jadi orang tua itu suka ada pepatah bijak." Irwan mengingatkan Raisya untuk memperhatikan makannya. Jangan sampai dengan adanya masalah dia menjadi abai pada kebutuhan untuk tubuhnya sendiri.


"Iya Wan Terima kasih." Raisya segera menyiapkan makanan yang telah dipesan agar tubuhnya mendapatkan tenaga.


Setelah semuanya selesai makan, mereka kembali naik mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tuanya Raisya.


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit mereka pun sampai di tempat tujuan. Mobil pun terparkir di depan halaman rumah.

__ADS_1


"Emak.." Para bocil-bocil berlarian begitu mobil itu sudah terparkir dengan aman dan pintu dibuka oleh Nathan.


"Ya ampun... mereka benar-benar sudah tidak sabar." Ratna berdecak. Kedua mahmud masuk mengikuti bocil yang sudah duluan menerobos masuk rumah.


"Eh.. incu emak... " Ibunya Raisya begitu senang melihat ketiga anak lucu itu datang berhamburan mendekati tubuhnya. Ketiga anak itu saling berebutan memeluk tubuh perempuan paruh baya yang tak lain adalah ibunya Raisya.


"Muah.. muah... muah." Kecupan bergilir diberikan untuk ketiga bocil itu. Mereka terlihat senang menerima kecupan dari neneknya. Dan ketiganya pun membalas mengecup pipi ibunya Raisya yang senang dipanggil emak oleh cucunya.


"Assalamu'alaikum." Raisya, Ratna juga Irwan menyusul masuk. Lalu mencim punggung tangan ibunya Raisya dan tidak lupa cipika cipiki.


"Waalaikumsalam... Kumaha kalian sarehat?" Tanya ibunya Raisya pada semuanya.


"Alhamdulillah.. mah sehat. Mamah sehat?" Raisya masih memeluk tubuh ibunya manja.


"Alhamdulillah sehat Sya.. " Ibunya mengelus kepala Raisya dengan lembut.


"Ayo duduk! Mamah sudah masak, mau langsung makan?" Ibunya Raisya sudah siap-siap begitu mendengar kabar Raisya akan datang ke Bandung.


"Eh.. kumah atuh mamah sudah masak banyak." Wajah ibunya Raisya nampak kecewa mendengar mereka sudah makan. Bicaranya masih campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.


"Gak mah.. masih ada babak kedua. Nanti kan kita menginap pasti lapar lagi mah." Ratna langsung menjawab takut ibunya Raisya kecewa.


"Oh.. iya atuh kalau begitu mah. Mamah bawa puding sama bolu aja ya biar kalian bisa nyemil." Ibunya Raisya dibantu adik-adiknya Raisya sudah menyiapkan aneka cemilan.


"Wah..asik.." Irwan langsung menyiapkan puding yang sudah ada di atas meja.


"Kalian istirahat saja ya! Biar incu mamah yang ngasuh. Tuh Dira dari tadi sudah gak sabar pengen bawa Arsel lihat kolam." Tiga bocil langsung mengikuti pamannya menunjukkan kolam yang baru saja dibuatnya.


"Tapi mah.. Arsel jangan dulu terlalu capek. Dia baru keluar dari rumah sakit mah." Irwan malah mengingatkan ibunya Raisya tentang kondisi Arsel. Takutnya kalau kecapean nanti malah kambuh lagi.


"Innalillahi... kunaon si kasep masuk rumah sakit? Raisya, Naha gak ngasih tau mamah?" Ibunya Raisya kaget mendengar Arsel masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Iya mah. Kena gejala tipes." Raisya menjawab.


"Deudeuh teuing si kasep teh nya.. " Ibunya Raisya merasa kasihan sama Arsel.


"Ya udah mamah ke sana dulu biar Dira tidak mengajak Arsel motah dulu." Ibunya Raisya mau berdiri dari kursi.


"Mah.. " Raisya menahan tangan ibunya.


Ibunya Raisya menoleh, dia heran kenapa Raisya wajahnya langsung berubah murung.


"Mah.. ada yang pingin Raisya bicarakan sama mamah." Raisya sepertinya tidak mau menunda-nunda tentang masalahnya yang tadi dibicarakan dengan tuan Robert.


"Iya." Ibunya Raisya duduk kembali di kursi melihat Raisya dengan serius.


"Mah.. Raisya minta maaf sama mamah... " Ray memulai dengan permintaan maaf. Karena bisa jadi apa yang akan dibicarakan dengan ibunya sedikit banyak akan membuat beban orang tuanya.


"Iya aya naon Raisya? Sok carita ka mamah!" Ibunya Raisya bersabar ingin mendengar apa yang akan dibicarakan dengannya. Pastinya ini hal penting. Karena baru kali ini Raisya langsung bicara seperti ini.


"Mah.. ayahnya Arsel ingin rujuk sama Raisya mah. Sekarang ayahnya Arsel sedang sakit parah di rumah sakit. Menurut mamah Raisya harus bagaimana?" Raisya memegang tangan ibunya mencari dukungan dari sang mamah.


Hening


Ibunya Raisya tak lantas menjawab pertanyaan Raisya. Dia mengambil nafas untuk menenangkan hatinya yang baru saja kaget mendengar penuturan anaknya.


"Sya... " Ibunya Raisya mengelus lembut punggung Raisya. Dia tahu selama ini anaknya selalu saja menderita. Entah karena perlakuan dari dirinya, juga dari mantan suaminya yang pernah menganiaya Raisya sampai hampir mati. Ibu mana yang akan membiarkan anaknya dianiaya seperti itu. Ibunya Raisya akhirnya tahu penderitaannya selama ini karena Sarah banyak menceritakan tentang masalah Raisya selama di Jakarta. Itu membuat ibunya Raisya merasa bersalah selama ini.


"Mamah.. mau tanya sama kamu? Kamu sayang sama ayahnya Arsel? Kan kamu tahu dia seperti apa?" Ibunya Raisya kembali menanyakan tentang perasaan Raisya pada Nathan.


"Gak tau mah. Raisya agak takut mah." Raisya menatap wajah ibunya mencari kekuatan untuk hatinya yang sekarang sedang lemah.


"Mendingan kamu shalat dulu Sya!"

__ADS_1


__ADS_2