
"Udah lah Rat.. pagi-pagi itu harus bahagia. Biar dapat amunisi buat kerja seharian." Raisya pura-pura tegar.
"Tapi beb... Gue aneh aja. Kalau memang dia aslinya jutek sih gak aneh. Kan kita biasa akrab beb." Protes Ratna melihat keanehan sikap Jacky.
Tettt..
Suara klakson mobil mengagetkan Ratna juga Raisya yang sedang berjalan dipinggiran parkiran.
"Ya ampun.. orang kaya banyak laga!" Ratna memegang dada sambil merutuk mobil yang baru saja melewatinya.
"Waduh gawat!" Sekarang giliran Raisya kaget melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil Mercy.
"Yang.. " Raisya menarik tangannya menahan langkah Ratna agar tidak meneruskan ke arah lift yang ada di area basement.
Keduanya melihat dua laki-laki tampan sedang berjalan menuju lift beriringan. Tapi Ratna dan Raisya malah melongo melihat mereka.
"Hayu ah.. gue gak mau kesiangan beb.. " Ratna malah berjalan melewati Raisya memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Raisya malah berdiri mematung. Entah apa yang dipikirkan Ratna saat melihat dia orang laki-laki itu. Tapi yang jelas Raisya tak ingin bertemu langsung dengan laki-laki yang menamparnya, apalagi harus satu ruangan sempit yang bernama lift.
"Selamat pagi.. " Bibir seksi Ratna tersenyum manis pada Nathan. Nathan hanya melirik sebentar, tidak menjawab sapaan Ratna. Ketiganya masuk ke lift membalikkan badan, otomatis dengan jelas ketiganya melihat wajah Raisya yang masih mematung tak jauh di depan lift. Tak lama pintu pun menutup, tapi tak satu pun dari mereka mau menahan pintu masuk malah membiarkan Raisya di luar pintu lift tertinggal.
Lift pun naik. Ketiga orang yang ada di dalam lift merasakan lift itu berjalan naik seperti melambat.
Masing-masing diam seribu bahasa dan mereka berbicara dengan bahasa pikiran masing-masing.
Tling
Pintu terbuka begitu angka 15 menyala. Seseorang keluar dari lift tanpa menyapa. Padahal dari ketiga orang itu sama-sama kenal, tapi mereka seperti asing.
Tling
Pintu tertutup kembali menuju lantai 25.
"Laporannya sudah kau selesaikan?" Nathan menanyakan tugas pada Ratna yang kemarin dia perintahkan.
"Sudah pak! Ini pak!" Ratna menyodorkan lembaran kertas laporan yang tadi malam Ratna kerjakan bersama Raisya.
Sambil menunggu pintu terbuka Nathan membacanya.
"Kita akan keluar lagi hari ini melanjutkan mengunjungi gerai-gerai cabang."
"Baik pak!" Ratna tersenyum senang. Dia merasa bosnya itu tidak membahas kejadian kemarin pagi. Entah dia tak mengenal dirinya karena kemarin pagi dia tak berani menampakkan wajahnya atau memang sudah memaafkan. Yang jelas dari kemarin bosnya tidak membahas kejadian insiden itu.
Tling
Nomor 25 nampak menyala lalu pintu itu pun terterbuka. Keduanya pun masuk ke ruangan divisi pemasaran secara beriringan.
Raisya akhirnya masuk pintu lift setelah orang yang ditakutinya sudah terlebih dahulu masuk. Raisya menatap dirinya sendiri di antara pantulan bayangan dinding lift.
__ADS_1
Beberapa kali Raisya mengambil nafas lalu mengeluarkannya kasar.
Tling
Pintu terbuka di lantai 15. Tandanya dia harus keluar dari dalam lift untuk masuk ruangan kerjanya. Raisya pun tanpa ragu berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Assalamu'alaikum." Sudah kebiasaan Raisya selalu mengucap salam ketika masuk ruangan.
Raisya masuk lalu berjalan mendekati kubikelnya. Tapi matanya malah melihat Jacky yang sedang di dalam ruangannya duduk mengamati layar komputer.
Raisya lalu menarik pandangannya dan masuk ke kubikelnya.
Jacky yang menyadari bahwa Raisya tadi masuk ke dalam ruangan kerja, pura-pura tidak melihatnya. Padahal ujung kelopaknya sedang mencuri-curi pandang memperhatikan apa yang akan dilakukan Raisya berikutnya. Dia berharap Raisya akan masuk ke dalam ruangannya dan berbicara dengannya. Tapi perkiraannya meleset. Raisya malah melanjutkan berjalan ke kubikel dan tak terlihat sama sekali Raisya melihat ke arahnya.
"Sial. Dia masih sanggup tak melihatku!'
"Baik. Aku akan lihat sampai kapan dia kuat seperti itu. Aku ingin kamu datang padaku sampai memohon." Jacky bermonolog.
Tak lama kemudian Hesti masuk.
"Haloo.. ada orang disana?" Hesti berteriak kencang begitu dia masuk ke dalam ruangan kerja sambil melihat ke kubikelnya Raisya.
"Absen mbak... "Jawab Raisya dalam kubikelnya.
"Eh lu Sya.. " Hesti berjalan mendekati kubikel Raisya untuk memenuhi rasa penasarannya.
"He ada accident mbak.. " Sorot matanya masih menatap layar komputer.
"Emang kemarin anak siapa sih Sya?" Hesti penasaran juga menanyakan identitas anak itu.
"Gak tahu mbak." Raisya cuek bebek tidak mau mengambil pusing.
"Lu tahu kemaren babehnya dateng kesini? Wois itu cowok cakep abis...!" Hesti menggelengkan kepalanya masih terkagum melihat ketampanan Nathan.
"Ya udah kalau mbak mau, buat mbak aja.. " Lirih Raisya tanpa beban.
"Ya elah... gak lah Sya.. ntar gue disangka pelakor. Walau begini juga gue punya moral Sya. Mending nyari yang single, aman sentosa sejahtera." Jawab Hesti yang hanya mengagumi Nathan tanpa berniat apa-apa.
"Good." Raisya menjawab pendek.
"Ih aneh aku liat kamu Sya. Apa kamu emang gak rasa gitu sama dia atau sama... " Hesti diam-diam mengamati sikap Raisya.
"Udah deh mbak.. pagi-pagi jangan melihat yang aneh-aneh ntar gak bisa tidur!" Raisya masih saja datar menanggapi celotehan Hesti.
"Ya deh. Kalau elu baik-baik aja, gue alhamdulillah. Gue takut ada apa-apa loh Sya!" Hesti berlalu ke kubikelnya.
"Eh apa-apa an sih dia kirim pesan ke gue?" Hesti bengong melihat satu pesan yang isinya tugas buat Raisya.
__ADS_1
"Sya.. "
"Iya mbak.. "
"Ini si Jacky kirim tugas buat elu. Tapi kenapa ke gue kirimnya ya?" Hesti mempertanyakan kiriman Jacky.
"Oh..kirimin lagi mbak ke email saya! Saya gak megang handphone."
"Lah kemana handphone lu?"
"Ilang mbak. Kayanya sih kemarin jatuh." Sesal. Raisya.
"Oh.. terus gimana?"
"Ya gak gimana-gimana mbak."
"Ishh... elu tuh gimana? Ntar kalau ada yang penting gimana?"
"Bisa email sementara. Kalau masalah kerjaan kan kita masih disini."
"Serah lu deh! Ap tu yuuuu!" Hesti mengirimkan semua tugas yang mesti dikerjakan Raisya.
"Lah mbak.. gak salah?"
"Maksudnya?"
"Ini tugas mesti selesai sekarang. Gue mesti sampai jam berapa di kantor?" Keluh Raisya membaca intruksi yang diberikan padanya.
"Coba protes aja sama si Jacky!" Saran Hesti.
"Bu Mia belum datang ya mbak?"
"Tau, sekalian aja tanyain ke Jacky!"
Raisya terdiam merasa sungkan untuk menanyakan pada Jacky.
"Sya... "
"Hhhmm."
"Kenapa masih diem?"
"Gak pa-pa mbak!"
"Gak jadi protes?"
"Gak mbak."
__ADS_1
"Gue mesti bilang apa ya Sya? Good luck apa good look? He"