
visual. Jacky
"Ratna, kapan aku bisa balik ke Jakarta?" Raisya agak khawatir memikirkan pekerjaan.
"Besok. Kata dokter bisa dipindahkan. Kita berdoa ya Sya.. kamu cepat sembuh! Sekarang kamu bedrest aja dulu! Biar tulang retak kamu cepet pulih lagi Sya!" Ratna memberikan motivasi agar Raisya cepat sembuh.
"Terima kasih ya Rat! Gue banyak merepotkan elu!" Raisya nampak berkaca-kaca menahan haru.
"Ga pa-pa Sya! Aku gak merasa direpotkan. Lain kali elu kalau ada apa-apa jangan main rahasia-rahasian ya! Kita gak tahu namanya manusia kan? Niat awalnya bisa jadi baik, ke sana nya bisa jadi malah dia jadi jahat. Salahnya kamu waktu itu pergi sendirian Sya! Coba kamu ketemu barengan si Jacky, elu bisa selamet Sya!"
"Sebenarnya gue pengen elu jujur sih Sya! Siapa sebenarnya pelaku yang mukulin elu? Elu kaya menyembunyikan gitu! Elu ada salah sama dia?"
Sebenarnya Ratna agak kecewa atas sikap Raisya sampai sekarang masih merahasiakan pelaku penganiayaan dirinya. Dia bersikukuh telah dirampok. Walaupun benar handphonenya hilang, tapi Ratna dan Jacky tak pantas percaya begitu saja.
"Iya gue akuin salah Rat!" Karena Raisya tidak mau Ratna membahas kepanjangan Raisya lebih baik meminta maaf saja.
Tling
Tling
Tling
Sebuah notifikasi terdengar masuk. Ratna melihat ada beberapa pesan masuk.
"Wah abang gue pulang Sya! Katanya dia pengen ketemu gue." Kedua ujung bibir Ratna terangkat, dia tersenyum melihat kabar kakaknya yang kerja di Australia sedang pulang ke Jakarta.
"Abang Hendrik Rat?"
"Iya Sya! Dia ngomel, katanya sudah bawa oleh-oleh malah guenya gak ada. Hi Hi.. " Ratna terkekeh melihat pesan-pesan yang dikirimkan kakaknya.
"Gue jadi pengen cepet balik ke Jakarta. Penasaran bawa apa dia?" Matanya masih fokus melihat layar handphonenya.
__ADS_1
Tak lama panggilan telepon masuk.
"Kakak... gue miss u... " Ratna merajuk manja pada Hendrik.
"Ah elu.. malah gue gak jadi suprise deh. Gak lucu ah!" Kesal Hendrik pada Ratna.
"He he.. kak... kangen."
"Lah elu kangen sama oleh-oleh nya kali. Sama gue nya mah enggak!"
"Dua-duanya lah."
"Elu di Bandung lama banget. Kata mamah ikut Raisya kok malah langsung cuti sih?"
"Iya. Awalnya sih mau healing aja! Malah gue nungguin Raisya di rumah sakit."
"Kenapa emang Raisya?" Hendrik kaget.
"Noh! Pengen lihat?" Ratna mengarahkan kamera handphonenya pada Raisya.
"Tau ada yang mukulin. Katanya sih dirampok." Ratna tak mau berspekulasi lain. Dia memilih alasan itu agar Raisya tidak beban memikirkan hal lain.
"Kakak ke Bandung aja ya! Kakak jadi khawatir gitu lihat Raisya. Elu juga di sana sendirian kan?" Hendrik jadi ikut khawatir.
"Gak usah kak! Bentar lagi temen gue dateng. Besok malah mau ditransfer ke Jakarta biar enak nungguin nya." Ratna melarang kakaknya yang baru datang untuk menyusulnya ke Bandung. Lagian abis jetlag harus istirahat.
"Ya udah.. tetep komunikasi! Kalau Raisya butuh bantuan calling kakak ya!"
"Iya deh kak! I miss u so much." Ratna memutus pembicaraannya dengan Hendrik sang kakak.
"Rat, kak Hendrik pulang dari Ausi?"
"Iya. Katanya sih baru sampai."
__ADS_1
"Maafin gue ya Rat! Jadi elu nungguin gue di sini." Setelah mendengarkan Ratna tadi di handphone perasaan Raisya merasai tidak enak sama Ratna.
"Ih ga pa-pa Sya! Itung-itung gue liburan. Sejenak bebas tugas kerja. Gue bisa namatin drakor disini kan? Coba kalau gue kerja? Sampai di rumah capek banget. Weekend lu tahu sendiri gue bisa tidur seharian. He he.. " Ratna terkekeh menertawakan kebiasaannya yang super santai tanpa beban.
"Elu udah cukup umur. Jangan dibiasain kaya gitu! Kalau elu nanti punya suami report sendiri kalau terlalu santai." Saran Raisya yang melihat kebiasaan sahabatnya itu yang masih ke kanak-kanakan.
"He he.. gue mesti nyari suami yang tipe-tipe rajin ya Sya! Gue belum siap kayanya Sya. He he.. mending gue jadi istri kedua suami elu aja ya?" Kepolosan Ratna yang kalau bicara tanpa dipikir dulu, seceletuknya tanpa beban.
"Amit-amit Ratna! Kamu mau jadi pelakor gue?" Kaget Raisya mendengar perkataan Ratna.
"He he.. kan elu sahabat gue. Lagian elu kan tipe-tipe dewasa. Jadi pantes kalau elu jadi istri ideal. Gue bantu dikit aja, jadi gak banyak tugas kan?" Entahlah apa yang dipikirkan Ratna saat ini dengan pemikiran seperti itu. Apakah dia belum mengerti atau memang gak mau tanggung jawab?
"Ratna kalau ngomong tuh dipikir dulu! Kata-kata adalah doa. Menikah tak semudah yang elu pikirin Ratna. Siap tidak siap kalau sudah waktunya pastinya kamu akan berhadapan dengan semua pernikahan. Elu mesti dewasa dan siap dengan semua itu. Sampai kapan elu bergantung sama gue sih Rat? Elu mesti juga mandiri dan bergaul dengan yang lain agar bisa bersosialisasi dengan orang-orang. Kapan elu bisa sembuh dari trauma, kalau elu sendiri terus-terusan kaya gitu?" Nasehat Raisya yang menyentuh hati sedang dicerna Ratna.
"Iya sih! Gue juga kayanya terlalu nyaman sama. elu. Jadi kadang gak bisa jauh-jauh sama elu Sya! Gak tahu kalau elu nikah ya Sya. He gue nanti bakal gimana ya?" Dahinya mengerut merenung apa yang akan dilakukannya nanti di kemudian hari.
"Iya belajar. Baca buku belajar ngaji Rat! Kalau hari Ahad tuh ikutan kajian biar elu ada input. Jangan molor mulu!" Sebenarnya Raisya ingin sekali tertawa tapi bibirnya masih terasa sakit jika tertarik
"He he iya. Ntar gue ikutan deh. Sebenarnya gue sih pengen ikutan. Cuman gue belum siap Sya pake hijab kaya elu." Keluh Ratna yang selama ini menghindari mengaji karena masih betah dengan penampilannya yang super model.
"Eh Rat, dengan pake hijab tidak mengurangi kecantikan elu lho! Elu sudah cantik mesti gak pake make up loh Rat. Elu mah meski bangun tidur juga sudah cantik. Jadi jangan khawatir jika elu pake hijab kecantikan elu berkurang. Yang suka elu bahkan bisa bertambah." Raisya berusaha meyakinkan Ratna untuk segera menutup auratnya.
"Iya deh Sya! Ntar gue pelan-pelan dulu. He he aneh nanti kalau ujug-ujug gue menutup hijab." Kilah Ratna masih membela diri.
"Ya gak aneh atuh Rat. Mau hijrah aja masa aneh. Der We kalau niatnya kuat mah!"
"Iya sih Sya!" Ratna mengiyakan apa yang dikatakan Raisya tentang hijab.
Kring
Kring
Kring
__ADS_1
Suara telepon masuk.
"Wah pak Nathan telepon nih! Gimana Sya? Kok gue deg-deg an. Mana si Jacky gak ada lagi!"