
Sarah dan Ratna sudah berkeliling mendatangi beberapa rumah sakit, tapi tak ditemukan pasien yang bernama Raisya. Bukan hanya lelah fisik tapi hati juga.
Keduanya duduk bersandar di kursi lobi. Kemana lagi ya kita harus mencari. "Apa ada orang lain yang menolongnya?" Sarah agak frustasi mendapatkan pencariannya yang nihil.
"Bisa jadi kak." Jawab Ratna tak mau berkomentar banyak khawatir menambah beban Sarah.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih kak? Kok bisa Jacky menjatuhkan talak sama Raisya. Sampai sekarang aku masih mudeng kak. Apa ada masalah besar diantara mereka. Apalagi ini kan baru hari ke tiga pernikahan mereka." Sejak ketemu dengan Sarah, Ratna belum bisa ngobrol panjang atas rasa penasaran nya tentang Raisya.
"Mmm.... kakak. juga heran Rat. Kenapa adik kakak selalu saja diuji masalah. Kakak juga jadi kasihan melihat hidupnya seperti itu. Beberapa kali diuji tapi dia masih tetap kuat. Tapi entah sekarang, kakak khawatir terjadi sesuatu dengan Raisya. Bagaimana kalau dia nekad bunuh diri?" Sarah melibat ke arah Ratna mengungkapkan kegundahannya mengenai Raisya.
"Jangan begitu kak. Aku jadi takut. Kita doakan semoga Raisya baik-baik saja. Allah pasti menolong orang baik. Aku yakin kak, Raisya orang nya baik banget, jadi gak mungkin Allah akan membiarkan Raisya begitu saja."
"Iya. aamiin. Mudah-mudahan begitu ya Rat. Kakak juga sempet bingung mendengar Raisya hamil. diperkosa Ferdi sewaktu meninggal nya ayah. Kakak malah tahu dari mas Adam. Dan mas Adam tahu dari Jacky. Raisya tidak menyembunyikan aib itu dari suaminya, dia berusaha jujur. Tapi kenapa kakak terlambat tahu. Kakak jadi marah sama adik tiri kakak itu. Bisa-bisa nya menodai adiknya sendiri." Sarah akhirnya terus terang.
"Astaghfirullah.. masa iya sih kak? Aku jadi ikut kesal. Pengen deh melaporkan orang kaya gitu biar mendekam di penjara selamanya. Atau disunat aja tuh biar tau rasa." Ratna kaget juga marah mendengar kabar tentang Raisya seperti itu.
"Iya. Rencananya Raisya ingin menggugurkan kandungan nya. Tadi pagi diantar Jacky periksa ke rumah sakit. Eh pas ditinggal Jacky katanya kepergok Ferdi sedang mencumbu Raisya. Menurut pengakuan Raisya, dirinya tidak sadar diperlakukan seperti itu." Terang Sarah sambil. menghela nafas.
"Kok bisa sih kak?" Heran Ratna sambil menatap. Sarah serius.
__ADS_1
"Dia punya ilmu totok. akupuntur juga acupressure. Sepertinya dia menggunakan ilmunya untuk memanfaatkan Raisya. Jadi Jacky salah faham. Dia kira mereka saling menyukai sehingga menjatuhkan talak sama Raisya." Sarah menyesalkan tindakan Jacky yang gegabah. Kalaulah Jacky bisa sabar, mungkin urusannya tidak akan seperti ini.
"Oh.. begitu kak. Aku juga sih agak kurang respect sama Jacky kak. Dia orang nya pendendam. Emosi nya tidak stabil. Kakak bisa lihat waktu dulu Jacky menikahi Sherly dia malah pergi dari pelaminan. Kalau dia sadar atas pilihannya seharusnya dia punya komitmen yang kuat untuk menyadari pada takdir yang telah digariskan. Aku jadi menyesal kak telah mendukung Jacky menikahi Raisya. Kalau tahu begini mungkin aku akan mencegah Raisya untuk mau menerima lamaran Jacky." Ratna tertunduk. Ada banyak penyesalan yang dia rasakan selaku sahabat. Dia tak mampu menjaga sahabatnya dengan baik sehingga jatuh pada pilihan tidak tepat.
"Gak pa-pa Rat. Sudah takdir Raisya juga. Kita tak bisa tahu ke depan akan seperti apa nasib kita juga. Kakak selalu berdoa, semoga Raisya dalam keadaan baik-baik saja." Ratna dan Sarah saling berpelukan. Keduanya merasakan hal sama, selain bingung juga dirundung penyesalan.
"Sebaiknya kita pulang saja dulu Rat. Besok kakak mau meneruskan pencarian. Ini sudah malam. Khawatir kita malah ikutan sakit." Sarah dengan wajah lesu mengajak Ratna pergi dari rumah sakit yang ke empat dia kunjungi. Ratna tak menolak ajakan Sarah. Dan di pintu yang sama seorang perempuan bercadar masuk hendak menemani suaminya di rumah sakit. Tadi setelah mendapatkan kabar dari suaminya, dia langsung bersiap-siap dan pergi ke rumah sakit menggunakan taxi online.
"Assalamu'alaikum mas." Perempuan itu mencium tangan suaminya dengan penuh hormat.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sang suami mencium kening Sang istri. Terlihat wajah lelah di raut mukanya. Sejak pulang kantor tadi dia tidak sempat mengisi perutnya karena buru-buru ingin pulang. Apalagi ditambah harus menolong Raisya membawanya ke rumah sakit.
"Mas.. belum makan ya? Ayo makan dulu! Adek bawakan mas makanan dan baju ganti. Khawatir harus menginap di sini." Jawab Sang istri yang selalu siap siaga.
"Assalamu'alaikum." Sang istri masuk terlebih dahulu." Matanya langsung mencari pasien yang tadi diceritakan suaminya.
"Waalaikumsalam." Raisya menjawab pelan. Karena mendengar suara perempuan Raisya yang tadinya tidur miring membelakangi pintu kini terlentang melihat ke arah pintu. Matanya sedikit mengerung melihat seorang perempuan bercadar mendekati nya.
"Apa kabar mbak? Perkenalkan nama saya Aisyah, istrinya mas Anwar. Saya kesini sengaja menjenguk mbak." Dia tersenyum di balik cadarnya. Suara yang lembut terdengar begitu merdu di telinga Raisya.
__ADS_1
"Baik. Saya Raisya." Jawab Raisya pelan.
"Mas.. mau masuk?" Aisyah yang tahu suaminya menunggu diluar bertanya.
"Assalamualaikum." Suaminya kini masuk dengan membawa tentengan beberapa paper bag juga kanting plastik yang di dalamnya ada wadah susun berisi makanan.
"Mbak makan dulu ya! Saya membawa makanan lho! Sayang tadi saya masak, tapi mas Anwar ternyata disini. Jadi saya bawa saja kesini semuanya agar bisa dimakan." Tawar Aisyah pada Raisya.
Raisya hanya mengangguk.
"Baik saya akan buka dulu ya!" Aisyah menghampiri suaminya lalu membawa kantong plastik yang berisi makanan lalu dia mengeluarkan wadah susun itu ke atas meja. Dia membawa wadah yang terbuat dari rotan dan memberi alas dengan kertas nasi. Lalu dia menyiduk nasi juga lauk pauk untuk suaminya terlebih dahulu. Lalu menyiapkan menu yang sama untuk Raisya. Tak lupa dia memberi satu botol air mineral untuk suaminya agar minum terlebih dahulu sebelum makan.
Aisyah membawa makanan lalu duduk di kursi dekat ranjang.
"Mbak. Mau berbaring atau mau dibantu pakai bantal duduknya?" Tawar Aisyah dengan ramah.
"Aku mau duduk." Pinta Raisya.
Aisyah pun membantu Raisya dengan mengganjal punggungnya dengan bantal agar bisa bersandar dengan nyaman.
__ADS_1
"Ini minumnya mbak. Bismillah dulu!" Aisyah menyodorkan air mineral dengan sedotan. Raisya pun menerimanya dan mengisi kerongkongan nya yang dari tadi kering. Setelah itu dia kembali menyodorkannya pada Aisyah. Aisyah menyimpan di atas nakas.
"Bismillah. Aa.. mbak." Aisyah mendekatkan sendok yang sudah diisi nasi berserta lauk pauk ke mulut Raisya.