
"Kenapa? Bahkan kita belum menikmati malam pengantin kita bukan? Kalau kamu sedang tidak hamil waktu itu, mungkin kita sudah bercinta dengan leluasa." Jacky terus mendekati Raisya. Wajahnya kini sudah tertutupi kabut gairah terlarang.
"Tidak Jack! Aku tidak mau! Aku percaya kamu tidak akan melakukannya." Lirih Raisya sambil mundur ke belakang.
"Kata siapa? Aku lelaki normal Raisya. Apakah kamu tahu betapa menderitanya aku harus menahan diri bertahun-tahun hanya demi Nathan. Dan tiba giliran aku, si brengsek Ferdy malah menyentuhmu. Jangan salahkan aku Raisya! Karena kamu sendiri memilih jalan ini. Aku tak rela kamu harus disentuh laki-laki lain lagi. Bahkan aku bersabar untuk tidak melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Tapi sekarang? Hah... tidak. Aku tak mau mengalah lagi Raisya. Aku sudah meminta secara baik-baik, kamu malah menolaknya." Jacky menarik badan Raisya lalu me*****kasar.
Raisya tetap berontak mengerahkan semua tenaganya. Al hasil bukannya dia menang, malah badannya di dorong ke atas ranjang. Jacky tidak melepaskan pa"*** itu sedikitpun. Malah dengan kasar dia melepaskan kain penutup kepala Raisya yang tadi sudah rapi.
Deraian air mata Raisya meleleh dengan deras. Dia sedih kenapa nasibnya selalu saja sama. Sewaktu dengan Nathan dia disentuh dengan kasar, dan Ferdy pun malah memper** nya. Kini Jacky malah menambah deretan kenangan kelamnya.
Brakk
Pintu kamar dibuka paksa sampai engsel pintu pun terlepas.
"Raisya... " Suara baritonnya mengagetkan Jacky yang kini sedang menindih Raisya. Baron menatap ke arah ranjang yang kini sedang ditempati dua orang beda jenis kelamin yang
Tanpa aba-aba hantaman demi hantaman mengenai wajah Jacky. Tapi anehnya Jacky tak sedikitpun melawan serangan itu.
"Bos sudah!" Tedi langsung menahan Baron agar tidak memukul lagi Jacky yang seperti pasrah untuk dipukuli.
Aisyah segera memeluk Raisya dan membetulkan kerudung nya yang sudah lepas.
Raisya hanya sesenggukan menangis. Aisyah ikut bersedih karena tak bisa menolong banyak ketika Raisya diseret paksa oleh Jacky.
Untung Baron dan Tedi cepat datang setelah tadi Aisyah menelponnya.
"Kamu.. tidak apa-apa Raisya?" Tanya Baron yang masih mengepalkan tangannya dan menatap. perempuan itu dengan iba.
__ADS_1
Raisya mengangguk dengan berlinang airmata. Kali ini dia merasa beruntung. Jacky tak bisa melanjutkan perbuatan bejatnya. Dia tak menyangka kalau Jacky akan bersikap nekad dan kasar seperti itu.
"Bawa dia ke rumah sakit!" Baron menyuruh Tedi untu membawa Jacky yang sudah babak belur ke rumah sakit.
"Baik." Tedi memapah tubuh Jacky yang seperti pasrah.
"Lepaskan! Aku tak mau pergi. Ini rumahku, kenapa harus aku yang pergi?" Teriak Jacky memenuhi ruangan itu. Dia meringis kesakitan karena bibirnya bengkak dan berdarah dan wajahnya kini lebam dan sudah tidak berbentuk dihantam pukulan Baron.
"Rumahmu?" Baron mengernyitkan dahi. Dia berbalik melihat Raisya yang sedang menyeka airmatanya. Dia tidak mengerti kenapa Jacky mengatakan bahwa ini adalah rumahnya.
"Iya ini rumahnya. Sebaiknya sekarang juga aku pergi dari rumah ini." Raisya bergerak turun dari ranjang.
"Tidak Raisya... aku mohon.. jangan pergi!" Jacky malah meluruhkan badannya memohon pada Raisya agar dia tidak meninggalkannya.
Tapi Raisya tak sedikitpun melihat Jacky, dia terus berjalan dan melangkah ke kamarnya. Raisya membuka laci lemari pakaiannya dan membawa surat-surat penting lainnya.
"Lepaskan! Kalian tidak berhak ikut campur urusanku dengan Raisya!" Teriak Jacky pada Tedi.
"Kamu... sudah berbuat lebih pak Jacky! Berhenti atau kami akan melaporkan anda pada pihak berwajib?" Tedi menggertak.
"Aku tak takut. Lapor sana!" Jacky malah tak takut gertakan Tedi.
"Sudah kita pergi saja dari sini! Jangan layani dia!" Raisya langsung menarik koper dan tas nya. Semua orang malah bengong melihat Raisya nekad pergi.
"Raisya.. " Jacky menarik tas Raisya menahan kepergian Raisya.
Untung Tedi segera melepaskan tangan Jacky dari cengkramannya.
__ADS_1
"Pak bos segera perdi dari sini! Biar saya hadapi pak Jacky." Tedi segera menyuruh Baron pergi bersama Raisya. Karena jadwal penerbangan sebentar lagi akan tiba.
"Baik. Aku serahkan sama kamu Ted!" Baron pun melangkah ke luar dari rumah itu dan membantu Raisya untuk masukkan tas-tasnya ke dalam mobil.
"Ayo!" Raisya dan Baron pun pergi dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sedangkan Tedi menahan amukan Jacky yang sedang meronta-ronta.
Aisyah segera menelpon Anwar agar segera pulang. Dia tidak bisa membantu banyak Tedi untuk menahan Jacky yang sedang mengamuk melihat Raisya pergi dari hadapannya.
Dan Raisya pun bisa bernafas lega bisa pergi dari rumah itu yang selama ini. dianggapnya sebagai rumah nya Anwar dan Aisyah. Ternyata mereka berdua sudah menyembunyikan fakta sebenarnya.
Rasa kecewa pasti ada. Tapi Raisya tidak pantas bisa membenci mengingat keduanya begitu baik. Pasti ada hal yang mereka hadapi mengingat keluarga Alberto sangat kaya dan berkuasa. Mereka bisa saja dalam ancaman.
"Kamu baik-baik saja Raisya?" Baron melirik sebentar melihat Raisya.
"Ya aku baik-baik saja. Terima kasih telah menolong ku. Kalau tidak.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya perlu memperbaiki penampilanku saja.' Ucap Raisya sedikit agak tenang setelah bisa pergi meninggalkan Jacky dengan bantuan Baron dan Tedi.
"Kalau kamu merasa belum siap, kita bisa pergi ke hotel dan menunda pemberangkatan." Ucap Baron yang masih mengkhawatirkan keadaan Raisya paska Jacky akan mem****.
"Tidak. Aku rasa lebih baik kita cepat pergi. Aku malah takut pak Jacky menyusul kita kalau berlama-lama di Jakarta." Ucap Raisya yang bisa memprediksi Jacky akan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Raisya.
"Baiklah kalau begitu. Kamu jangan khawatir, aku akan menyewa pengawal khusus untuk kamu Raisya." Baron tak ingin ada apa-apa dengan Raisya. Saat ini Baron lah yang sangat membutuhkan bantuan Raisya untuk mengaudit perusahaannya untuk menemukan penyebab kenapa perusahaan banyak merugi.
"Maaf jika sudah merepotkan bapak!" Ucap Raisya sambil menatap lurus ke depan ke arah jalanan yang terasa begitu lambat untuk Raisya.
"Tidak apa-apa selama aku bisa, aku akan membantumu." Jawab Baron sambil fokus menyetir.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai pun sampai di bandara. Baron segera menelpon anak buahnya yang lain untuk menyiapkan kedatangannya. Tak lupa dia telah menyuruh anak buahnya untuk menyediakan jasa kawal untuk Raisya selama Raisya bekerja dengannya. Demi keamanan dan juga ketenangan Raisya selama bekerja dengannya.
__ADS_1
Penerbangan bisnis telah dipesan. Raisya dan Baron telah menempati bangku high class dengan pelayanan eksekutif. Mereka duduk berdampingan yang hanya terhalang oleh skat khusus.