Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Siapa kamu sebenarnya


__ADS_3

Aisyah pun siap-siap berangkat setelah mencatat beberapa keperluan Raisya.


Tadi setelah suaminya mengizinkan untuk menggunakan kartu debit milih Raisya, Aisyah segera menanyakan beberapa keperluan yang ingin dibeli Raisya. Dia berencana pergi belanja sesuai kebutuhan yang diinginkan Raisya saja. Tak mau jadi fitnah dia akan membedakan kapan harus belanja untuk kepentingan keluarga dan kepentingan untuk Raisya.


"Mbak.. gak pa-pa ditinggal sendirian?" Aisyah menanyakan pada Raisya. Raisya yang sedang menonton di ruang keluarga mengangguk perlahan.


"Saya gak bakal lama kok! Ini makanan sama minumnya sudah saya siapkan buat mbak Raisya di meja. Biar mbak Raisya bisa nonton sambil makan." Aisyah sudah menyiapkan beberapa makanan untuk Raisya agar nanti pas ditinggalkan pergi belanja Raisya bisa makan dan minum dengan tenang.


"Mmm." Jawab Raisya singkat. Matanya kembali melihat layar televisi.


"Mmm... mbak Raisya handphonenya nyala?" Aisyah penasaran karena sejak Raisya tinggal tak pernah sekalipun terlihat Raisya menggunakan handphonenya.


"Gak." Jawab Raisya pendek. Sepertinya memang tak ada semangat apapun untuk Raisya. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan santai tanpa gangguan apapun.


"Mmm.. baiklah. Saya berangkat dulu ya mbak. Assalamu'alaikum." Ucap Aisyah setelah melihat respon dari Raisya yang datar-datar saja. Aisyah berusaha memahami kondisi emosi ibu hamil yang mungkin moodnya naik turun. Dia pun sedang membayangkan mungkin kalau dirinya hamil pun tak jauh berbeda dengan Raisya. Lemes, pusing, mual juga mood yang tak bisa ditebak.


Aisyah pun memesan taxi online. Sebelum berangkat dia pun tak lupa memberitahukan suaminya bahwa dia berniat pergi ke mall untuk belanja keperluan Raisya. Suaminya membalas pesan Aisyah dengan pesan 'hati-hati'


Sesampainya di mall, Aisyah memilih baju-baju untuk Raisya pakai sesuai list yang diinginkan Raisya. Setelah selesai belanja baju dia pergi ke toko sepatu sandal dia membeli sepasang sepatu juga sandal tipis yang kira-kira cocok untuk ibu hamil. Setelah selesai berbelanja baju, sandal dan sepatu, Aisyah pergi ke supermarket membeli makanan juga cemilan yang dibutuhkan oleh Raisya termasuk susu ibu hamil dan buah-buahan. Aisyah merasa senang sekali belanja kali ini seolah dirinya yang sedang mengalami kehamilan. Entah kenapa dia begitu senang juga bahagia, padahal yang hamil adalah Raisya. Dia seolah sedang sama-sama menunggu kedatangan seorang bayi lahir ke dunia.


Setelah selesai belanja Aisyah pun memesan taxi online. Dia berniat akan mengambil uang tunai sesuai permintaan Raisya nanti di gerai bank agar bisa lebih tenang.


Setelah semua belanjaannya masuk ke dalam mobil Aisyah pun menyuruh sang sopir untuk mampir di sebuah Bank dan menyuruhnya menunggu.


Aisyah pun masuk ke dalam sebuah gerai mesin ATM dan mulai memasukkan kartu debit Raisya. Tertera di layar permintaan untuk memasukan kode pin atas kepemilikan kartu debit. Aisyah pun memasukkan sesuai apa yang telah diberikan Raisya dalam secarik kertas kecil padanya.

__ADS_1


Sebelum menarik saldo, Aisyah memastikan dulu jumlah saldo tabungannya terlebih dahulu agar saat penarikan bisa aman. Aisyah menekan tombol informasi saldo dan muncul lah angka-angka yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Mata Aisyah terbelalak kaget. Di balik cadar nya dia sedang menganga karena tak percaya isi saldo Raisya sampai sebanyak itu.


Jari telunjuk Aisyah sampai bergerak menghitung digit yang tertera di depan layar.


"MasyaAllah. Ini gak salah hitung?" Aisyah bergumam. Untung di gerai saat itu tak ada siapapun selain dirinya.


Aisyah sempet menghela nafas dan berpikir.


Sebenarnya sih mbak Raisya? Tak mungkin kalau tak punya keluarga bisa mempunyai uang sebanyak ini? Mbak Raisya pasti orang kaya yang sedang kabur dari rumahnya. Lalu bagaimana nanti kalau keluarga nya mencarinya? Apa nanti kita akan terlihat menyembunyikan mbak Raisya?


Aisyah melamun memikirkan identitas Raisya. Suara alarm dalam mesin ATM menyala tanda permintaan perpanjangan waktu menyala. Aisyah pun kembali fokus ke layar dan kembali ke menu penarikan. Aisyah menarik sejumlah uang yang diminta Raisya. Setelah itu Aisyah kembali mengambil kartu setelah selesai transaksi.


Siapa Raisya sebenarnya?


"Maaf Bu.. sudah sampai." Sang sopir membuyarkan lamunan Aisyah.


"Eh.. iy.. iya." Aisyah gugup begitu sang sopir bicara bahwa dia telah sampai di alamat yang dituju.


Aisyah keluar dari mobil lalu membawa barang belanjaannya dibantu sang sopir.


"Terimakasih pak! Ini uang bensinnya. Kembalian nya untuk bapak." Aisyah memberikan sejumlah uang untuk ongkos taxi. Dia sengaja melebihkan uang ongkos untuk tips sang sopir.


"Oh iya bu. Terima kasih banyak. Semoga rejekinya tambah banyak." Ucap sang sopir bahagia mendapatkan uang tips dari penumpang.

__ADS_1


"Aamiin." Jawab Aisyah mengaminkan doa sang sopir.


"Assalamu'alaikum." Aisyah membuka pintu dan membawa semua belanjaannya ke ruang keluarga. Di sana terlihat sepi tak ada siapapun. Aisyah penasaran dimana keberadaan Raisya. Setelah menyimpan kantong plastik belanjaannya Aisyah segera mencari Raisya ke kamar nya. Terdengar sayup-sayup dari balik kamar Raisya, Raisya sedang membaca Al-Quran. Aisyah menghentikan langkahnya tak jadi masuk ke kamar Raisya.


Aisyah kembali ke ruang keluarga. Dia duduk untuk mengistirahatkan kakinya yang lumayan pegal. Di sandarkan bahunya ke belakang sofa dan dibukanya cadar penutup wajahnya agar dia bisa menarik udara sebanyak-banyaknya.


"Aisyah sudah pulang?" Suara Raisya mengagetkan Aisyah yang sedang duduk termenung.


"Eh.. mbak.. sini duduk!" Aisyah menepuk sofa di sampingnya agar Raisya duduk bersamanya.


Raisya pun duduk di samping Aisyah. Dia melihat banyak kantong plastik belanjaan yang masih berada di atas lantai, juga beberapa paper bag berisi pakaian juga sandal sepatu.


"Ayo mbak dilihat dulu pesanan belanja mbak. Mohon maaf jika selera saya tidak bagus." Ucap Aisyah sambil menyodorkan satu persatu barang yang dibelinya tadi di mall.


"Apa yang kamu beli pasti cocok." Raisya tak mau membuat Aisyah kecewa. Raisya membuka satu persatu belanjaannya dan melihatnya.


"Bagaimana mbak cocok tidak?" Aisyah melihat ke arah Raisya.


"Bagus. Semuanya bagus. Mbak suka." Raisya tak banyak protes pada barang yang dibeli Aisyah.


"Ih iya. Ini daftar belanjaan mbak dan struknya. Dan ini uang penarikan juga struknya." Aisyah menyerahkan semua bukti belanjaan dan juga uang tunai yang tadi ditariknya ke depan Raisya.


"Simpan saja! Mbak percaya kok sama Aisyah." Raisya tidak menerima struk juga uang tunai yang telah dibawa Aisyah.


"Ih jangan begitu mbak. Lihatlah dulu! Barangkali mbak mau memeriksa hasil belanjaan saya. Dan ini uang tunai ya mbak simpan kenapa harus dikembalikan pada saya mbak?" Aisyah tak mau menerima pemberian uang tunai yang diberikan Raisya.

__ADS_1


__ADS_2