Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Pangeran kodok


__ADS_3

Raisya dan Jacky keluar restoran. Mata Jacky seperti menangkap mobil yang dia kenali.


Mungkinkah dia juga ada disini?


"Cepetan gue udah ngantuk banget!" Raisya mengajak Jacky yang masih berdiri mematung.


"Eh iya ya." Jacky tergagap. Keduanya masuk ke dalam mobil dan mengarahkan mobilnya menuju kostan Raisya.


"Ra.. sampai!" Jacky melihat ke samping.


"Eh.. tidur." Jacky menggelengkan kepalanya. Melihat Raisya benar-benar tertidur pulas.


"Ra... kamu mau turun tidak?" Jacky terpaksa menggoyangkan bahu Raisya. Dia khawatir terlalu malam dia membangunkan Raisya agar bisa istirahat di dalam kostannya.


"Hhhmm sampai ya..?" Raisya mengucek matanya yang masih lengket karena rasa kantuk yang lumayan berat.


"Sudah.. dari tiga puluh menit yang lalu." Jacky menjawab.


"He he.. maaf ketiduran." Raisya membuka Safety beltnya hendak keluar dari mobil.


"Ra... " Jacky melihat Raisya.


"Apa?" Raisya dengan sisa kantuknya melihat Jacky.


"Mana handphonenya?" Jacky meminta handphone pemberiannya.


Tanpa menunggu lama Raisya membawanya dari tas kerja lalu menyodorkan pada Jacky.


"Eh.. elu jangan dulu turun!" Jacky melarang Raisya turun dari mobilnya.


"Kenapa?" Raisya menatap heran.


"Sebentar. Gue mau aktifin handphonenya. Lu kalau gak dipaksa mana mau." Keluh Jacky.


"Serah lu deh! Cepetan gue udah gak kuat nih!' Raisya sudah tak sabar untuk melanjutkan tidurnya.


"Giliran maunya aja minta cepetan!" Jacky menyodorkan handphone yang baru saja diaktifkan.


"Pake! Jangan ilang lagi!" Jacky mengingatkan Raisya.


"Ya udah gue masuk ya. Assalamu'alaikum!" Raisya turun dari mobil Jacky dan tak menoleh lagi ke belakang. Sekarang yang dia pikirkan ingin cepat tidur kembali.

__ADS_1


"Tuh anak.. gak peka banget!" Jacky hanya bisa menggerutu melihat Raisya masih datar menanggapi perhatian dirinya. Jacky melajukan mobilnya ke mansion dimana dia tinggal setelah memastikan Raisya benar-benar masuk ke dalam kostannya.


Sementara Nathan setelah keluar dari restoran benar-benar kehilangan jejak karena terhalang oleh beberapa mobil di depannya sehingga tidak tahu kemana mobil Jacky mengarah. Karena kehilangan maka Nathan memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan membawa perasaannya yang dongkol.


Sesampainya di depan gerbang, rumah sudah terlihat sepi. Bahkan beberapa lampu sudah terlihat dipadamkan. Nathan tidak segera turun dari mobilnya. Dia duduk sambil menatap rumah besar itu dengan hati yang kesepian. Dia menunduk menjatuhkan kepalanya di atas setir. Memejamkan matanya barang sebentar lalu mengangkat kembali kepalanya.


Nathan keluar dari mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Ditatapnya sebuah pintu dengan aksen pink. Lalu perlahan dia membukanya. Dia melihat gadis kecil sudah meringkuk di atas ranjang barbienya yang berwarna ungu. Nathan berjalan mendekati ranjang Michel. Ditatapnya lamat-lamat lalu diusapnya pucuk kepala Michel dengan lembut.


Michel menggeliat sebentar lalu kembali tidur sambil memeluk handphone Raisya.


Segurat rasa sedih muncul di hati Nathan. Setelah dua tahun berpisah dari Sherly, fokusnya hanya bekerja. Perhatian pada Michel pun banyak terabaikan. Wajar saja jika Michel haus perhatian dan butuh sosok keibuan. Begitu melihat Raisya entahlah anak itu seperti tidak mau lepas darinya.


"Maafin daddy ya sayang... " Seucap kata keluar dari bibir Nathan.Mau bagaimana lagi sampai sekarang perasaan Nathan belum bisa move on dari Sherly. Bayangannya terlalu kuat melekat di kepalanya.


Nathan mengecup lembut kening Michel lalu berdiri meninggalkannya.


Nathan pergi ke lantai 2 dimana kamarnya berada. Membuka pakaiannya lalu mandi dan diteruskan berganti pakaian tidur.


Nathan membaringkan tubuhnya di atas kasur berusaha memejamkan matanya menuju mimpi.


####


"Eh.. anak daddy udah bangun. Jam berapa ini sayang? Daddy kok masih ngantuk ya?" Nathan mengucek matanya melihat jam digital di atas nakas.


"Waduh udah jam 7. Daddy mandi dulu ya sayang." Nathan bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, dia menyiapkan penampilannya untuk bersiap kembali pergi bekerja. Dia pun turun menuju meja makan untuk sarapan pagi.


"Wah Michel sudah cantik." Sapanya melihat Michel sudah rapih dengan bajunya yang tak biasa.


"Daddy.. Michel boleh ikut bekerja sama daddy gak?" Michel dengan wajah memelas ternyata sudah siap-siap ingin ikut berangkat bersama Nathan.


"Michel.. main aja kaya kemarin. Daddy di kantor lagi banyak pekerjaan. Nanti kalau Michel ikut Daddy gak bisa fokus bekerjanya." Nathan sedang berusaha membujukMichel.


"Michel mau baik kok daddy... gak bakalan ganggu daddy kerja. Michel boleh ikut kan Daddy..?" Wajah nya kini terlihat memelas.


"Ina.. bawa Michel dahulu!" Nathan menyuruh Babysitter Michel untuk membawa Michel menjauh dari Nathan. Karena sulit sekali kalau Michel sudah menempel dan Nathan akan pergi bekerja.


"Michel.. yuk main ikan lagi di kolam belakang!" Ajak Babysitter pada Michel agar Nathan bisa berangkat tanpa ditempel Michel.

__ADS_1


"Gak mau.. aku mau disini aja! Michel tahu daddy gak mau ngajak Michel." Wajah itu cemberut tak mau bergerak sedikit pun dari kursi.


"Michel.. daddy minta tolong deh please.. !" Nathan sudah kehilangan kata-kata merayu Michel.


"Daddy... Michel janji mau baik. Mau main sama suster tapi mainnya pengen di kantor daddy. Michel janji gak bakal rewel." Matanya menunjukkan kesungguhan.


"Mmh baiklah. Ina siapin perbekalan Michel! Kita berangkat sekarang!" Nathan tak mau datang kesiangan ke kantor. Dengan berat akhirnya mengiyakan permintaan Michel.


Sementara itu Raisya yang sudah bangun lebih pagi kini sudah siap berangkat.


Tling.


Suara notifikasi terdengar dari handphone baru.


"Aku sudah ada di depan."


"Wah beneran dia menjemput?" Raisya bicara sendiri. Tak lama kemudian dia langsung keluar dari kostannya melihat mobil Jacky sudah terparkir.


"Elu serius antar jemput gue Jack?" Raisya masih berdiri.


"Masuk buruan. Udah siang nih!" Jacky meminta Raisya segera masuk.


"Oke pangeran!" Raisya masuk ke dalam mobil.


"Gak ditambahin kodok lagi kan?" Jacky menyela.


"Gak ah. Takut!" Raisya duduk manis tanpa mau berdebat.


Tak lama kemudian mereka sampai di area parkir kemudian keduanya turun dan berjalan menuju lift.


Tanpa mereka sadari Nathan dan Michel berjalan di belakang mereka berdua.


Begitu masuk ke dalam lift seseorang menahan pintu agar tidak segera menutup. Keduanya berbalik badan.


"Tantee... " Michel langsung memangil Raisya dengan wajah bahagia begitu mereka bertemu pandang di depan pintu lift.


Raisya hanya menatap Michel tanpa memberi sambutan.


"Waduh... anak ular udah dateng lagi." Jacky menggerutu pelan.


Michel langsung melepaskan tangannya lalu mendekati Raisya sambil mendongak.

__ADS_1


"Tante sudah sembuh?" Michel menatap Raisya dari bawah.


"Berisik!" Jacky menarik tangan Raisya.


__ADS_2