Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tamu tak diundang


__ADS_3

"Mamah. bapak mana mah?" Raisya mengedarkan matanya mencari ayah sambungnya pak Kardi.


"Bapak ada di kamar, lagi drop. Mau dibawa ke dokter tidak mau. Mamah ge bingung. Susah kalau mau diajak ke dokter suka nolak wae." Ibunya Raisya mengeluhkan sikap suaminya jika mau diajak ke dokter suka sulit.


"Nanti biar Raisya coba bujuk mah. Mudah-mudahan mau." Raisya mengelus lembut punggung ibunya. Dia tahu mungkin pak Kardi sungkan untuk membebani istrinya. Karena sejak dia pensiun semua pengeluaran rumah tangga nya dibiayai dari uang pemberian Nathan, tuan Alberto juga Sarah.


"Iya.. coba sama kamu bujuk. Mama sudah angkat tangan." Ibunya menatap Raisya penuh hari. Anak yang selama ini dia telantarkan malah jadi tulang punggung keluarganya. Dalam hatinya ibunya Raisya sangat merasa menyesal telah memperlakukan buruk Raisya, tidak lain karena suatu hal.


"Mah.. Raisya lihat dulu abah ya! Yuk Michel.. Arsel.. kita salim dulu sama abah!" Raisya mengajak kedua anaknya untuk menemui pak Kardi. Mereka pun berdiri dari tempat duduknya menemui pak Kardi di kamarnya yang sedang tergolek lemah karena gula darahnya sedang naik.


"Assalamualaikum bah.. ini Raisya sama anak-anak datang." Ibunya Raisya memberitahu suaminya akan kedatangan Raisya.


"Raisya... " Suara pak Kardi begitu lemah terdengar. Dia memaksakan diri untuk duduk bersandar dibantu istrinya dengan memasangkan bantal dibelakang punggungnya.


"Pak.. " Raisya menciumi punggung tangan pak Kardi.


"Ayo salim sama abah!" Raisya menyuruh kedua anaknya untuk melakukan hal yang sama yaitu cium tangan.


"Aduk... incu abah anu geulis sareng kasep atos dongkap. Kadieu cu.. " Pak Kardi tersenyum bahagia melihat kedua anaknya Raisya.


"Abah.. kenapa? Cakit?" Arsel selalu aktif bicara dia memandang pak Kardi dengan tatapan polosnya.


"Iya sayang.. abah cakit... do'ain cama ucu biar abah sehat ya!" Pak Kardi mengelus halus rambut Arsel yang duduk digendong ibunya Raisya.


"Pak.. kita ke dokter ya.. Nanti Raisya yang antar!" Raisya mencoba membujuk pak Kardi.


"Gak usah.. Raisya. Bapak pengen istirahat di rumah." Tolak pak Kardi yang benar-benar sungkan pada Raisya.


"Bapak.. boleh istirahat di rumah setelah nanti dari dokter. Bapak harus jaga kesehatan bapak! Bapak harus sehat selalu. Kasihan nanti kalau bapak sakit-sakitan Raisya jadi kepikiran terus. Mau ya pak? Nanti kalau bapak. habis dari dokter bapak mau Raisya ajak jalan-jalan ke mall. Mau ya pak?" Raisya menatap pak Kardi dengan penuh harap.


Pak Kardi melirik pada istrinya. Sepertinya dia sedang meminta persetujuan istrinya. Dia mau menolak tapi tidak enak hati sama tawaran Raisya.


Ibunya mengangguk sebagai isyarat.

__ADS_1


"Mau ya pak? Kasihan Raisya jauh-jauh ke sini bapaknya tidak mau diajak." Raisya membujuk agar pak Kardi mau diajak ke dokter.


"Iya pak. Mau ya?" Ibunya Raisya membantu membujuk juga.


Pak Kardi mengangguk pelan lalu tertunduk malu.


"Nah gitu dong pak! Dari kemarin sama mamah sudah diolo Raisya, ih.. meni hese. Kudu nungguan Raisya jigana mah bapak teh, nembe kersa." Ibunya Raisya bicara dalam bahasa Sunda.


"Iya gak pa-pa. Raisya malah senang bisa ketemu mamah sama bapak lagi." Raisya mengusap tangan pak Kardi memberikan dukungan.


"Oh iya katanya Jacky tabrakan? Sekarang bagaimana keadaannya Raisya?" Ibunya Raisya mendapatkan kabar dari Ratna ketika Raisya sedang dirawat.


"Mmm... hari ini jadwalnya operasi mah. Jacky dibawa ke Singapura. Raisya juga belum lihat kondisi Jacky seperti apa." Raisya jadi teringat Jacky.


"Sudahlah.. kita doakan semoga operasinya lancar. Bagaimana dengan pak Robert sama bu Rosa?" Ibunya Raisya tak lupa menanyakan keadaan besannya.


"Mereka juga sedang di Singapura. InsyaAllah hari senin katanya akan pulang dulu." Terang Raisya yang kemarin sudah mendapatkan kabar.


"Mmm... Syukurlah kalau mereka sehat-sehat." Ibunya Raisya mangut-manggut senang mendengar besannya sehat.


"Astagfirullah.. enya mamah teh hilap. Si kasep jeng si geulis jigana geus lapar. Mamah masak. ayam geprek kesukaan Raisya.. sama sop iga. Hayu.. makan hela. Ku emak disuapin anu kasep mah." Ibunya Raisya begitu gemas melihat Arsel


Dia langsung menguyel-nguyel tengkuk Arsel.


"Ampun mak.. Acel geli... " Arsel tertawa karena geli setelah ibunya Raisya menggelitik tengkuknya.


"Sina makan hela mah!" Pak Kardi kembali menyuruh istrinya untuk membawa Raisya makan.


"Eh.. iya hayu Raisya.. makan dulu!" Ibunya Raisya berdiri sambil menggendong Arsel.


"Pak.. Raisya makan duluan ya! Bapak sudah makan?" Tanya Raisya.


"Sudah. Dari pagi juga bapak sudah makan. Mamah sudah siap-siap masak banyak." Sahut pak Kardi.

__ADS_1


"Iya atuh. Raisya makan heula nya!" Raisya menuntun Michel keluar dari kamar pak Kardi.


"Wah... emak masak banyak begini?" Michel kaget, ternyata di meja makan bukan hanya ada ayam geprek dan sop iga. Ada salad, ayam kecap, tahu goreng, tempe goreng, sambel goreng kentang, semur daging sapi juga krupuk dan emping tidak lupa sambel dan tumis kangkung.


"Mamah masak kaya warteg aja! Banyak amat menunya." Raisya juga heran kenapa ibunya begitu banyak memasak dengan aneka masakan.


"Gak apa-apa, kasihan kalau Incu emak tidak suka makanan masakan emak, jadi bisa milih-milih." Karena kebiasaan makan Michel memang berbeda dengan Raisya juga Arsel. Mungkin pembiasaan sejak kecil dengan Nathan yang terbiasa makan, makanan ala luar negeri.


"Tapi.. kasihan mamah jadi riweuh begini." Raisya takut merepotkan ibunya, apalagi sedang mengurus pak Kardi.


"Gak pa-pa.. emak senang kok!" Jawa ibunya tersenyum.


"Mah.. Arsel jangan digendong-gendong gitu berat! Suruh duduk saja!" ucap Raisya yang melihat ibunya kembali mendudukkan Arsel di pangkuannya.


"Gak pa-pa. Sok kamu makan saja! Biar Arsel emak suapin." Ibunya Raisya mengambil nasi dan sop iga buat Arsel.


"Dira.. Sinta.. Arip.. ayo makan!" Raisya memanggil semua adiknya untuk makan sama-sama.


"Udah teh.. tadi sebelum teteh datang kita sudah makan duluan. Takut kehabisan sama teteh." Dira yang sedang main game bersama Arip. terkekeh menggoda Raisya.


"Eh.. enya.. sok kitu!" Raisya tersenyum menimpali guyonan adiknya lalu menyiduk nasi dan sayur sop iga juga emping.


"Kamu gak makan ayam geprek?" Ibunya yang sedang memperhatikan Raisya agak aneh ayam gepreknya menganggur.


"Cuti dulu mah. Suruh makan sehat dulu." Jawab Raisya.


Ting tong.


Suara bel pintu berbunyi.


"Dira.. coba lihat ada tamu!" Ibunya Raisya menyuruh membuka pintu.


"Iya mah." Dira berdiri lalu berjalan ke ruang tamu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dira masuk ke ruang makan.


"Tamu teteh katanya."


__ADS_2