
Raisya hanya bisa melongo mendengar kabar Jacky dibawa ke Singapura.
"Kenapa aku tidak diberitahu ya?" Raisya masih saja melamun sambil bergumam lirih.
"Aku juga tidak tahu. Sejak kecelakaan aku hanya tahu dari satpam sekolah. Tadi pagi aku ingin menyempatkan diri menjenguk Jacky setelah mengantarkan si kembar. Ternyata dia sudah tidak ada di ruangan. Kata bagain administrasi, tuan Robert telah terbang deng jet pribadinya. Apa keadaan Jacky mendadak drop?" Ratna sedang menduga-duga.
"Aku jadi merasa tidak enak ya Rat. Aku kaya orang yang kejam. Tadi pagi aku benar-benar lupa. Padahal kemarin waktu pulang dari klinik aku sudah berniat menjenguk. Cuman tuan Robert melarangku. Dan sejak semalam aku juga sudah berniat. Eh.. waktu sarapan aku malah lupa untuk menjenguk Jacky. Aku hanya bilang, bahwa aku akan ke klinik untuk terapi. Mungkinkah karena itu mereka kecewa padaku Rat?" Raisya kini bertambah bingung. Apalagi kepergian Jacky sangat mendadak. Ada kemungkinan kata Ratna Jacky drop, dan membutuhkan pengobatan di luar negeri.
"Aku tidak tahu Raisya. Ya.. kita berprasangka baik saja. Mungkin kondisi Jacky membutuhkan segera penanganan. Kamu banyak berdoa saja." Ucap Ratna menguatkan Raisya.
"Waktu kamu menjenguk pertama kali bagaimana kondisi Jacky Rat?"
"Waktu itu masih di ICU. Dia masih belum sadar. Cuman itu yang aku tahu Sya." Tutur Ratna yang merasa kasihan juga melihat Raisya kebingungan.
"Sekarang aku harus bagaimana ya Rat? Tadi pagi mamihnya Jacky sudah memberiku izin pulang ke Bandung. Tapi sekarang mereka tidak ada di rumah. Apa yang harus aku lakukan Rat? Bagaimana baiknya?"
"Kamu minta izin pulang di saat Jacky sedang terluka? Wah... itu pasti sangat membuat mereka sensitif Sya. Apalagi sekarang kamu hanya bicara tentang rencana kamu sendiri tanpa memperdulikan Jacky. Dalam keadaan seperti itu pastinya mereka akan mudah salah paham. Sebaiknya kamu telepon mereka, pura-pura tidak tahu menahu. Kamu coba tanyakan keadaan Jacky. Mudah-mudahan hati mereka luluh melihat kamu peka.
"Iya.. nanti sampai rumah aku mau menelpon papih. Sekarang aku menunggu Michel pulang dulu." Raisya setuju dengan saran Ratna. Mudah-mudahan tuan Robert mau memaafkan dirinya, seandainya kalau sikap mereka menjadi dingin disebabkan kekeliruan Raisya.
Kring
kring
kring
handphone Raisya menyala. Raisya segera menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaikum sayang.." Wajah Raisya semu merah. Ratna memperhatikan Raisya yang tersenyum merona.
"Waalaikumsalam."
"Kamu lagi dimana sayang?" Dokter Ferdi begitu merdu mengungkapkan ujung kata terakhir yang ditujukan pada Raisya.
"Lagi di rumah teman." Raisya berkata pelan sambil melirik pada Ratna, merasa malu jika ketahuan apa yang diucapkan dokter Ferdi padanya. Ya kelihatannya takut ketahuan.
"Teman yang mana sayang...?" Dokter Ferdi tambah geregetan.. Dia senyam-senyum sendirian di ruangannya.
__ADS_1
"Mmm... teman lama. Mmmm... sahabat aku." Raisya malu-malu menyebutkan nama sahabatnya.
"Ini.. yang teleponan kaya yang pacaran ya... " Ratna menyebikan bibirnya menyindir Raisya yang malu-malu seperti abg.
"Mmm bukan... " Raisya langsung mengelak. Wajahnya kian merah.
"Gak apa-apa. sayang... kan iya." Dokter Ferdi yang berada di seberang telepon mendengar Ratna bicara.
"Ihh.... " Raisya bicara manja.
"Bukan apanya sih... ? Tuh muka kaya udang juga."
"Siapa dia sayang?" Dokter Ferdi ingin tahu siapa yang sedang bicara Raisya.
"Mmm.. "
"Aku.. Ratna.. awas kamu Sya! Kamu tidak mau mengenalkan aku sama dia?" Ratna melotot, dan langsung merebut handphone Raisya.
"Ahh.. " Raisya agak merengek manja.
"Sayang... whoahaha...?" Ratna tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan dokter Ferdi yang begitu mesra.
Dokter Ferdi langsung terdiam. Dia sadar handphone Raisya sudah beralih pemegang.
Raisya menunduk malu ketahuan Ratna.
Ratna langsung mengalihkan mode ke Video Call.
"Jangan!"... Raisya merebut handphonenya. Tapi tidak berhasil. Dokter Ferdi langsung tertawa begitu video call langsung terlihat. Dia bisa melihat Raisya yang menunduk malu karena ketahuan sama Ratna.
"Hei.. sayang.. kenalin aku sahabat ayang kamu.. waduh.... kok gue gerogi gini ya lihat sayang.. " Ratna menggoda Raisya.
"Ratna... please.. " Raisya merengek handphonenya agar dikembalikan. Ratna malah naik ke kursi menghindari Raisya.
Dokter Ferdi menutup mulutnya melihat kelucuan yang dilakukan Ratna yang sedang dikejar-kejar Raisya karena dia menginginkan handphonenya diberikan.
"Oke.. oke. Aku kasihin ya! Tapi aku mau nanya dulu nih sama si sayang.. sejak kapan kalian jadian? Kok aku ketingalan berita." Ratna bicara sama dokter Ferdi.
__ADS_1
"Mau tau, atau mau tau banget?" Dokter Ferdi malah menjawab dengan bercanda.
"Sayang... jangan gitu dong! Kamu gak bisa sama Raisya kalau tidak dapat restu dari aku." Ratna memperingatkan dokter Ferdi dengan serius.
"Oh ya? Baik suhu. Salam hormat dari calon adik ipar." Dokter Ferdi memberi hormat pada Ratna dengan wajah serius seperti layaknya pemain kungfu.
"Ya ampun.. kamu cakep banget sih... Suhu jadi kesambet nih!" Ratna malah tertawa terbahak-bahak.
"Ih.. kalian malah bercanda. Ayo siniin hape aku!" Raisya sudah tidak tahan melihat Ratna dan dokter Ferdi saling bercanda.
"Sebentar dong! Dia harus lulus ujian dulu. Kalau tidak maka kami tidak akan merestui hubungan kalian. Ayang....." Ratna berteriak dan langsung berlari mencari Irwan.
Raisya dan dokter Ferdi geleng-geleng kepala. Melihat kelakuan sahabatnya ini.
"Iya ada apa beb?" Irwan keluar dari ruang kerjanya.
"Yang.. nih lihat! Mereka sudah berani main ayang.. ayangan tanpa sepengetahuan kita." Ratna memperlihatkan layar handphone pada Irwan.
Irwan menajamkan matanya melihat sosok yang ada di layar handphone.
"Hai.. selamat kenalan kakak ipar." Dokter Ferdi melambaikan tangannya menyapa Irwan. Irwan malah melotot melihat laki-laki yang muncul di layar handphone.
"Siapa dia?" Irwan melirik ke arah Ratna.
"Ayo dong sayangnya Raisya mengenalkan diri!" Ratna menyuruh dokter Ferdi mengenalkan dirinya pada Irwan yang masih termangu, heran.
"Eh.. please lah kalian jangan jail gitu. Nanti aku jelaskan!" Raisya semakin tidak karuan mendapatkan sikap seperti dari Ratna seperti itu.
Irwan melihat ke arah Raisya, lalu kembali melihat ke arah handphone.
"Kamu siapa?" Irwan akhirnya menanyakan identitas laki-laki yang ada di layar handphone. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi antara dua wanita ini dan laki-laki yang ada di depannya.
"Perkenalkan saya dokter Ferdi, calon suaminya Raisya." Dokter Ferdi begitu percaya diri mengenalkan dirinya sebagai calon suami Raisya.
"Eh.. bukan.. bukan.. kalian jangan percaya dia!" Raisya melambaikan-lambaikan tangannya sambil menggelengkan kepalanya. Raisya langsung mengambil handphone dari genggaman Ratna. Dia langsung mematikan handphonenya.
"Jelaskan padaku sekarang Raisya! Siapa dia dan apa hubungannya denganmu?"
__ADS_1