Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Cemas


__ADS_3

Tiap hari dua anak itu rajin mengunjungi ibunya. Meski yang dikunjungi masih terdiam tak memberi respon.


"Mama.. hari ini aku mendapatkan nilai 100 lho.. matematika lagi. Mama biasanya suka kasih hadiah buat Michel kalau nilai Michel bagus." Anak itu seperti biasa berceloteh dengan riang pada Raisya menceritakan apa saja yang terjadi di sekolahnya. Berbeda ketika dia bertemu Sherly, dia lebih banyak diam dan mengurung diri.


"Ma.. cium dulu dong Michel nya." Anak itu mendekatkan pipinya ke bibir Raisya.


Cup


Sepertinya bibir Raisya menyentuh pipi Michel. Michel otomatis terkejut. Biasanya ketika dia menempelkan pipinya tak ada gerakan apapun. Tapi sore itu, seperti ada gerakan dari bibir Raisya. Michel hanya melongo, anak itu sedang berpikir, apakah barusan nyata ataukah halusinasinya saja.


"Sayang.. Mau apa? Biar Ammah belikan hadiah buat Michel." Aisyah mendekati Michel. Dia sudah akrab dengan anak-anak Raisya semenjak mereka suka mendatangi rumah sakit. Bahkan hampir tiap pulang sekolah mereka selalu datang mampir mengunjungi Raisya.


"He he.. nggak ah Ammah. Aku cuman becanda aja." Michel dengan malu-malu tertunduk. Dia tak mau merepotkan siapapun.


"Biasanya kalau nilai kamu bagus, mama suka beliin apa? Nanti Ammah belikan. Uang mama toh ada di Ammah. Kalau Michel mau, boleh minta sama Ammah. Nanti Ammah belikan dari uang mama kamu." Jelas Aisyah agar Michel tidak sungkan meminta.


"Beneran Ammah?" Michel menoleh pada Aisyah dengan mata berbinar.


"Bener. Masa Ammah boong." Aisyah memeluk Michel dari belakang. Dia sangat bersyukur bisa mengenal keluarga Raisya terutama anak-anak nya yang lucu-lucu dan menggemaskan. Dia sudah tidak sungkan memeluk bahkan menyayanginya seperti menyayangi anaknya sendiri.


"Mmm.. aku boleh minta makanan gak Ammah?" Tanya Michel manja.


"Boleh. Michel mau apa?" Tanya Aisyah melihat netra anak itu yang berwarna kebiru-biruan, mirip seperti Nathan.


"Aku pengen delivery Hokben Ammah. Aku pengen makan disini bareng mama. Biasanya mama suka ngajak jalan ke lestorannya, tapi sekarang Michel pengen makan disini." Ucap Michel mengingat hal-hal manis ketika dulu Raisya masih selalu bersamanya.


"Baik. Ayo pilih menu mana yang mau Michel pilih!" Aisyah menyodorkan handphonenya membuka layanan antar yang restoran itu sediakan.

__ADS_1


Michel memiih-milih menu yang akan diorder. Setelah memilih dia langsung menyodorkan kembali handphone nya pada Aisyah.


"Yakin sudah?" Tanya Aisyah pada Michel.


"Mmm." Michel mengangguk senang. Aisyah begitu baik dan perhatian meski mereka baru kenal satu bulan ini. Mereka kenal, semenjak Raisya koma selama satu bulan di rumah sakit. Aisyah selalu setia menemani di rumah sakit kalau tidak ada yang jaga, perawat dan keluarga selalu bergilir mengunjungi dan berjaga di rumah sakit, termasuk Ratna dan Irwan.


Awalnya Jacky pun ingin berjaga di rumah sakit. Tapi Ratna melarang laki-laki itu untuk menunggunya dengan alasan dia pun punya pasien di rumah, yaitu Sherly.


"Sudah Ammah." Michel memeluk sayang pada perempuan bercadar itu seperti dia sayang pada Raisya. Ketulusan dan kebaikan Aisyah begitu terasa di hati anak-anak Raisya. Dia tak segan-segan menggendong-gendong gemas Arsel yang lucu dan tampan. Dia senang meski dia bukan anaknya sendiri. Perempuan itu begitu rindu kehadiran seorang buah hati. Melihat anak-anak Raisya yang lucu-lucu, seolah kerinduannya terobati. Arsel. dan Michel pun ikut senang mendapatkan kasih sayang dari Aisyah yang begitu tulus mereka rasakan.


"Oke. Kita order ya!" Aisyah langsung menekan tombol pesan dari layanan antar restoran Jepang itu.


"Sudah. Kita tunggu ya! Mungkin sekitar setengah jam pesanannya akan datang cantik." Aisyah memberitahu Michel mengenai pesanan yang baru saja dipesan.


"Oke Ammah." Michel tersenyum senang.


Aisyah membalasnya dengan tersenyum di balik cadarnya lalu memeluk Michel sayang.


"Kamu belum mau pulang sayang? Masih betah nemenin aku disini?" Tanya laki-laki yang selalu setia duduk di sampingnya sambil sesekali memeluk rindu.


"Mmm.. Bingung." Jawab Raisya jika dihadapkan pada pilihan, harus kembali atau menetap di sana.


"Pulanglah.. kasihan Michel dan Arsel. selalu memangil-manggil namamu. Mereka berharap banyak kamu kembali." Meski dia senang bisa bertemu dengan orang yang selama ini dirindukannya, tapi Raisya belum saatnya tinggal di sana. Dia hanya terjebak antara alam nyata dan alam mimpi.


"Kamu bagaimana?" Tanya Raisya bergelatut manja.


"Aku selalu bisa melihatmu, seperti kamu selama ini selalu melihat orang dari seberang sana. Aku juga begitu. Selalu melihat kalian dari sini meski tak bisa menyentuhnya.

__ADS_1


"Mmm... begitu ya?" Raisya terdiam. Selama ini beberapa bayangan itu datang dari seberang danau dan kembali menghilang.


"Ya.. kamu belum waktunya tinggal disini Raisya. Kamu akan bosan dan kesepian." Jawab laki-laki itu mengusap lembut pucuk kepala Raisya.


"Apa kamu juga kesepian selama ini?" Tanya Raisya ingin tahu apa yang dirasakan laki-laki di sampingnya.


"Mmm.. tidak. Selama kalian selalu mendo'akan aku, aku tidak pernah merasa kesepian. Doa kalianlah yang selama ini menghangatkan aku juga membuatku damai disini." Jawab laki-laki itu tersenyum.


"Kalau aku tetap disini bagaimana?" Tanya Raisya ingin tahu.


"Kamu akan merasakan bosan Raisya, karena belum saatnya kamu tinggal disini. Berbeda dengan aku yang sudah lepas antara jiwa dan ragaku. Kamu masih terikat dengan alam kehidupan disana. Kamu akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang hidup." Jawab laki-laki itu kembali.


"Baiklah. Jika aku harus kembali, aku akan kembali. Karena betul apa yang kamu katakan, sepertinya aku juga mulai bosan." Raisya duduk tegak.


"Bagus. Bersemangatlah."


Tiba-tiba danau yang dilihat Raisya kini menghilang. Dan laki-laki yang bersamanya pun tak ada. Semuanya malah terlihat gelap gulita. Raisya merasa ketakutan dengan semua keadaan yang tiba-tiba berubah. Dadanya mulai naik turun karena cemas dan takut.


Sayup-sayup dia mendengar suara lantunan ayat Al-Quran yang dibacakan seseorang. Semakin lama, suara itu semakin mendekat, tapi Raisya masih juga tidak bisa melihat karena pandangannya benar-benar gelap.


"Siapa disana? Tolong aku.. mohon tolong aku!" Ucap Raisya agak kesulitan.


Aisyah yang sedang membacakan Al-Quran rutin setiap magrib. Tiba-tiba menghentikan bacaannya. Dia melihat tubuh Raisya seperti terguncang.


"Mas.. mas Anwar.. tolong mbak Raisya. Dia kenapa?" Aisyah nampak kaget dan ketakutan melihat tubuh Raisya seperti kejang-kejang.


Anwar yang sedang duduk di sofa dan sama-sama membaca Al-Quran langsung berlari mendekati ranjang yang ditempati Raisya.

__ADS_1


Kedua mata tertuju pada Raisya dengan tatapan penuh kecemasan.


"Tunggu disini! Mas panggilkan dokter dulu." Anwar langsung menekan tombol yang ada didekat ranjang untuk panggilan darurat.


__ADS_2