Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Dicuekin


__ADS_3

Raisya lebih baik pergi ke dapur mengolah beberapa masakan daripada pikirannya digunakan untuk memikirkan kejadian tadi.


"Nyonya.. biar saya saja yang memasak. Nanti pak Nathan marah sama bibi." Bi Siti begitu takut kalau Nathan akan marah jika Raisya ikut melakukan pekerjaannya.


"Tidak apa-apa bi. Saya juga tidak pekerjaan. Saya ingin memasak untuk suami masa tidak boleh." Mulai sekarang Raisya ingin memulai mengikhlaskan segalanya. Belajar memaafkan dan belajar menerima.


"Baiklah nyonya. Saya akan membantu Nyonya memasak." Bi Siti dengan berat hati membiarkan Raisya melakukan aktivitasnya memasak di dapur.


"Mmm.. bibi tahu kesukaan pak Nathan apa saja?" Raisya ingin memasak sesuai kesukaan Nathan.


"Sayur sop iga, Steak, tahu goreng, emping, ayam bumbu kecap, sayur bayam jagung, apa lagi ya?" Bi Siti menyebutkan apa yang dia ingat.


"Mmm baik.. kalau begitu saya mau masak ayam bumbu kecap, sayur bayam jagung sama emping. Bagaimana bi?" Raisya melihat bi Siti untuk memulai memasak.


"Mmm.. biasanya sih kalau untuk makan malam Pak Nathan suka makan steak nyonya sama kentang panggang." Bi Siti memberikan saran.


"Oh baik bi. Kita bareng-bareng aja ya! Bantu saya memotong kentang sama sayuran nya untuk menemani steak."


"Baik nyonya."


Raisya mencoba memulai memasak, walaupun tidak ahli dalam memasak tapi dia bisa melakukannya kalau untuk sekelas rumahan.


Bi Siti dan Raisya asik memasak untuk menu makan malam. Menu itu cukup terbilang simple dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesekali mereka mengobrol ringan sambil memasak dan tertawa membicarakan hal yang lucu. Kegiatan yang lumayan menyenangkan jika dilakukan dari hati bukan terpaksa. Dengan bantuan bi Siti, Raisya dengan mudah bisa menyelesaikan menu makan malamnya tanpa kendala.


"Bibi siapkan ya di meja. Saya mau mandi dulu agar tidak bau masakan." Raisya membuka celemek yang menggantung di leher dan melilit di pinggang.


"Baik nyonya."


"Oh iya jangan lupa jus jeruknya nya ya bi!" Raisya biasa menyertakan jus jeruk panas jika menu malam tiba. Ya untuk mengimbangi makanan berlemak yang akan disantap di malam hari.


"Baik."

__ADS_1


Raisya masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri agar terlihat segar di depan Nathan. Raisya akan memulai hubungannya dengan Nathan selayaknya suami istri. Dia akan mengabaikan perjanjian pernikahan yang pernah disepakati bersama Nathan waktu itu sebelum pernikahan digelar. Raisya juga tak ingin membiarkan Nathan terjerumus jauh dalam dosa malah melampiaskan kebutuhan biologisnya bukan pada tempatnya. Itu membuat dirinya sebagai istri merasa berdosa.


Setelah selesai berdandan ala rumahan Raisya kembali ke ruang makan. Semua sudah tersaji dengan rapih di meja makan.


"Nyonya mau ke atas?" Ucap bi Siti selesai menata meja.


"Iya bi.. Saya akan mengajak pak Nathan makan bersama." Ucap Raisya pada bi Siti.


"Alhamdulillah.. syukur nyonya. Saya berdoa semoga pernikahan pak Nathan dan nyonya langgeng dan selalu romantis." Ucap bi Siti senang. Pasalnya Bi Siti merasa khawatir kalau Raisya terus dendam pada sikap Nathan yang arogan bahkan kejadian tadi siang pun sebenarnya bi Siti tahu dan itu pastinya membuat majikan perempuannya sakit hati. Cuman bi Siti memilih bersembunyi di kamarnya tidak mau mendengar pertengkaran antara majikannya.


Tapi setelah melihat Raisya bersemangat dan sepertinya melupakan kejadian itu, bi Siti ikut senang meski Nathan belum menunjukkan reaksi yang dibuat Raisya sekarang. Ini tentunya membuat bi Siti semakin penasaran akan drama pernikahan majikannya selanjutnya.


mmmmm... kok kaya nonton drakor ya?😄


Raisya menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah mantap semangat percaya diri. Sampailah kakinya di depan pintu kamar Nathan.


Sejak perempuan entah siapa itu, keluar dari kamar Nathan. Dia tak terlihat keluar kamarnya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Suara Nathan terdengar menyuruhnya masuk.


Ceklek


Raisya membuka handle pintu lalu masuk ke dalam kamar Nathan setelah mendapatkan izin.


Nathan yang sedang berdandan rapih di depan cermin menoleh ke arah pintu. Dikiranya yang mengetuk pintu tadi bi Siti, tapi yang muncul malah Raisya dengan penampilan sudah rapih tertutup.

__ADS_1


Nathan menatap aneh Raisya dengan penampilannya yang baru saja dilihatnya. Wajahnya menunjukkan keheranan.


"Mas Nathan sudah rapih mau pergi?" Raisya bertanya pada Nathan yang sudah berpenampilan rapih dan wangi. Raisya mengubah cara bicaranya lebih lembut juga sopan. Dia sedang berusaha memperbaiki sikapnya sebagai istri sesungguhnya, meski perasaan dalam hatinya masih absurd.


Nathan kembali menatap cermin mengabaikan pertanyaan dari Raisya. Dia memperbaik gaya rambutnya dan memeriksa sekitar wajahnya takut penampilannya tidak terlihat sempurna.


Sejak kegiatan panas-panasan tadi urat emosi agak mengendur. Nathan berniat malam ini akan keluar rumah dan akan melakukan senang-senang.


Raisya yang tidak mendapatkan respon dari Nathan tak putus harap.


"Mas Nathan.. kalau mau pergi makan dulu! Aku sudah masak steak sama kentang." Ya sekarang Raisya sedang memasang wajah senyum terbaiknya seperti anak kecil yang sedang meminta jajan pada orang tuanya.


Masih tidak ada jawaban. Nathan berjalan ke arah nakas dan mengambil handphone juga kunci mobil lalu melewati Raisya keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Raisya sedang menunggu jawaban.


Sabar... baru juga mulai. Kamu hafal sendiri kan dia seperti apa?


Raisya memberi semangat pada dirinya sendiri ketika melihat respon Nathan seperti itu.


Bola mata Raisya mengikuti Nathan dan Raisya pun mengikutinya dari belakang. Mungkin Nathan merasa malu untuk menjawab pertanyaan Raisya dan dia mempertahankan gengsinya sebagai laki-laki makanya bersikap seperti itu. Itu yang ada dipikiran Raisya sekarang.


Setelah habis menuruni anak tangga, hati Raisya begitu senang mungkin suaminya akan langsung menuju meja makan. Tapi perkiraannya melenceng Nathan terus saja berjalan ke depan tanpa melirik sedikitpun ke arah meja makan.


"Eh.. mau kemana dia?" Raisya kaget. Dia pun mengikuti Nathan dari belakang ingin mengetahui kemana Nathan akan pergi.


"Mas.. tidak makan dulu? Dari siang belum mengisi perut. Nanti masuk angin." Raisya mengkhawatirkan Nathan karena sejak siang dia tidak terlihat turun ke bawah apalagi menghampiri meja makan.


"Hhmmm.. urus saja dirimu!" Dan melirik sebentar lalu kembali meneruskan langkahnya ke area parkir.


"Iya. Hati-hati ya! Jangan lupa makan!" Raisya tak mau memasukan kata-kata sinis itu dalam hatinya. Dia tetap dengan usahanya walaupun malam ini hasil masakannya ditolak Nathan.


Bring

__ADS_1


Bring


Setelah mobil mewah itu dihangatkan pemiliknya pak satpam membuka pagar besi gerbang rumah. Raisya berdiri di depan halaman mengantarkan kepergian suaminya dengan lambaian tangan dan senyuman. Meski dia tahu senyum itu akan diabaikannya.


__ADS_2