Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kecurigaan


__ADS_3

Semakin hari keakraban Raisya dengan Nuri kian inten. Nuri yang sejak lahir belum pernah melihat wajah ibunya, seperti merindukan sosok seorang ibu.


Raisya yang karakternya lemah lembut sering disukai banyak orang termasuk anak-anak. Contohnya Michel, lalu sekarang Nuri.


Berbeda dengan Imelda. Dia anak yang pendiam juga agak dingin susah untuk akrab dengan orang asing. Bahkan di sekolah pun Imelda termasuk anak yang introvert. Karakter yang dimiliki Imelda dan Nuri memang bersebrangan.


"Mama.. kapan datang lagi ke sini?" Rengek Nuri di balik telepon. Raisya membiarkan anak itu memanggilnya dengan sebutan mama


"Maaf tante belum tahu. Pekerjaan tante juga banyak, jadi belum bisa datang ke rumah Nuri deh." Raisya menjelaskan kesibukannya di perusahaan Baron yang sedang mengaudit keuangan perusahaannya.


"Ah... " Nada kecewa Nuri terdengar jelas di balik telepon. Raisya yang masih bekerja belum bisa menyetujui keinginan anak itu untuk datang ke rumahnya.


"Bagaimana kalau Nuri video call aja biar Nuri tahu kalau tante lagi bekerja. Tapi Nuri tidak kesepian?" Raisya mengusulkan pada Nuri agar anak itu tidak terlalu kecewa.


"Mmm.. gak mau. Nuri maunya Tante datang kesini terus nemenin Nuri kaya di rumah sakit." Anak itu kekeh dengan keinginannya.


"Mmm.. boleh. Tapi nanti ya.. kalau pekerjaan tante beres. Sekarang pekerjaan tante sedang banyak. Jadi tante tidak boleh absen bekerja." Raisya kembali menjelaskan pekerjaannya pada anak itu.


"Baiklah. Nuri akan bilang sama daddy kalau tante jangan dikasih banyak kerjaan biar bisa nemenin Nuri. Tante kan bekerja di perusahaan daddy, daddy kan bosnya. Jadi Nuri akan bilang sama daddy biar tante bisa absen bekerja." Anak itu tak hilang akal untuk merajuk menginginkan kehadiran Raisya.


"Yah... jangan dong. Nanti tante gak dapat gajih. Terus perusahaan daddy kamu gimana kalau bangkrut? Kan kasian nanti daddy nya gak punya uang buat jajan kamu." Raisya tak mau kalah untuk membuat Nuri mengerti.


Nuri terdiam sejenak.

__ADS_1


"Memangnya perusahaan daddy bangkrut?" Tanya Nuri sambil mengerutkan dahinya.


"Mmm.. mau bangkrut. Uang daddy kamu banyak yang ngambil. Kalau tante tidak bisa membantu daddy kamu, perusahaan daddy kamu akan bangkrut beneran. Kasihan kan nanti daddy kamu!" Raisya membuat pengertian yang mudah dimengerti oleh anak seumuran Nuri.


"Baiklah.. kalau begitu Nuri tunggu ya! Kalau mama pekerjaannya beres mama harus menepati janji mama sama Nuri!" Nuri akhirnya bisa mengerti dengan apa yang diucapkan Raisya. Anak itu memang cerdas dibandingkan anak seumurannya. Sayang karena penyakitnya Nuri hanya belajar di rumah dan jarang bersosialisasi dengan anak-anak seumuran nya.


"InsyaAllah ya. Mudah-mudahan pekerjaannya cepat selesai." Raisya tersenyum meski tidak melihat wajah Nuri.


"Baik tante. Selamat bekerja! Jangan lupa makan ya! Biar kuat." Nuri memberi semangat pada Raisya layaknya sudah akrab lama.


"Baik prinses. Kamu juga ya! Jangan lupa makan obatnya biar kamu bisa sembuh!" Raisya mengingatkan Nuri agar makan obat dan menyemangati anak itu agar selalu semangat.


"Baik ma. Nuri ingin sembuh biar bisa sekolah kaya kakak Imel. Nuri mau sembuh ma." Suara anak itu cukup menggetarkan hati Raisya. Hati seorang ibu, dia bisa merasakan bagaimana mempunyai anak yang sedang sakit. Apalagi ini sakitnya bukan sakit biasa.


Raisya menutup panggilan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara di balik pintu ada seseorang yang dari tadi menunggu. Dia sengaja mendatangi ruangan itu agar leluasa menanyakan beberapa file dan bisa di diskusikan di ruangan Raisya. Kalau dia memanggil Raisya ke ruangannya pasti melewati ruang kerja Sinta dan hal itu cukup membuat perhatian Sinta nantinya.


Tapi langkahnya tertahan begitu terdengar suara Raisya sedang menelpon. Dari obrolannya terdengar dia sedang berbicara dengan anaknya. Makanya Baron menahan diri sampai mereka selesai berbicara.


Setelah terdengar sepi Baron mengetuk pintu ruangan Raisya. Raisya yang sedang fokus dengan layar komputer pun menoleh ke arah pintu.


"Masuk!" Raisya mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.

__ADS_1


Baron pun membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Raisya. Tak lupa dia kembali menutup pintu dengan rapat agar nanti tidak ada yang menguping pembicaraannya.


Raisya sontak kaget melihat atasannya datang. Raisya langsung berdiri, menghormati orang yang mempekerjakannya sekaligus pemilik perusahaan.


"Duduklah!" Baron menyuruh Raisya kembali duduk.


Raisya pun duduk. Begitu pun Baron duduk di kursi yang ada di depan Raisya. Jaraknya hanya terhalangi oleh meja kerja saja. Baron duduk dengan santai dengan mengangkat satu kakinya di atas satu kakinya lagi.


"Maaf pak. Kenapa bapak harus datang ke ruangan saya? Kalau bapak perlu saya, biar saya yang datang ke ruangan anda." Ucap Raisya merasa tidak enak sampai Baron datang ke ruangannya.


"Sstt... jangan keras-keras! Disini terlalu banyak telinga. Kalau kamu datang ke ruangan saya, pembicaraan kita tidak akan bisa lama. Lebih baik saya yang datang kesini. Ruangan ini cukup aman dari penglihatan orang." Baron mengungkapkan kekhawatirannya pada Raisya.


Raisya terdiam sejenak. Mencerna apa yang baru saja dikatakan atasannya. Dia baru mengerti dengan sikap atasannya setelah beberapa waktu yang lalu menemukan temuan-temuan yang agak mencurigakan. Dan semua mengarah pada Sinta dan ayahnya sebagai pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Baron. Dalam laporan audit ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang mencurigakan yang menyebabkan perusahan dari tahun ke tahun merugi.


"Aku ingin mendiskusikan beberapa temuanku. Mungkin kamu bisa membantu mencari bukti selanjutnya. Kemarin aku dikirimkan hasil laporan di lapangan. Coba kamu pelajari lagi! Jangan lupa data dan filenya kamu harus amankan! Kalau bisa bikin back up beberapa." Ucap Baron sambil menyodorkan lembaran-lembaran yang sudah dicetak oleh Tedi.


"Baik pak." Raisya lalu menerima kertas-kertas itu lalu memeriksa angka-angka yang tertera di kertas itu.


"Saya harus pelajari lagi pak." Di kertas-kertas itu Baron sudah menandai beberapa kejanggalan yang sudah ditemukannya. Raisya mengamati semua yang sudah ditandai Baron.


"Aku ingin kita terjun langsung ke lapangan agar memeriksa semua data itu langsung. Kalau hanya sekedar memeriksa angka-angka agak sulit menemukan bukti." Ucap Baron yang berniat akan memeriksa anak perusahaan ke daerah untuk menyingkronkan angka-angka laporan dengan bukti yang ada di lapangan.


"Mmm.. bagus. Jadi bapak berniat memeriksa sendiri?" Tanya Raisya melihat ke arah Baron.

__ADS_1


"Aku membutuhkan kamu untuk menemani ke lapangan. Biar Tedi mewakili aku disini. Biar koordinasi kita bisa lebih baik." Ucap Baron mengungkapkan niatnya.


__ADS_2