Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Babak belur


__ADS_3

"Michel.. Michel.. " Nathan langsung merengkuh anaknya dengan teriakan histeris. Semua orang yang ada di sana menyaksikan bagaimana raut wajah Nathan yang begitu menyedihkan ketika menemukan anaknya tergeletak pingsan dan berlumuran darah karena jatuh dari anak tangga yang ada di bagian tangga darurat mall.


"Pak Nathan sudahlah! Kita harus segera membawa Michel ke rumah sakit sekarang. Agar bisa ditangani dokter." Reza menenangkan Nathan yang seperti lupa diri.


"Rumah sakit.. ya rumah sakit. Michel harus dibawa ke sana." Nathan meracu linglung.


"Pak.. Biarkan pihak medis membawa Michel ke blankar. Anda tolong lepaskan Michel dari pangkuan!" Lagi-lagi Reza mengingatkan Nathan yang masih menggendong Michel.


"Iy iya.. tapi aku harus mengikutinya." Nathan meletakkan Michel di blankar lalu dia memegang erat tangan Michel yang terkulai lemas sambil mengikutinya ke dalam Ambulance.


Sesampainya di rumah sakit Michel mendapatkan pertolongan langsung. Nathan tak bisa pergi jauh-jauh dari Michel. Dia sudah tak menghiraukan lagi penampilannya yang tadinya necis.


Sekarang terlihat agak sedikit kacau. Apalagi beberapa darah sudah menempel di bajunya. Dalam pikirannya hanya ada satu, dia harus bersama Michel.


"Maaf Pak Nathan Michel sekarang sudah tenang dan sudah masuk ruangan rawat inap. Anda mungkin bisa istirahat sejenak dengan menggantikan baju anda yang terkena darah." Reza mengingatkan Nathan agar bisa mengganti pakaiannya.


"Iya baik." Reza langsung menyodorkan baju ganti Nathan yang sudah tersedia di dalam mobilnya.


Kini Michel ditunggu oleh Ina sang Baby Sitter. Dan Nathan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.


Tak selang berapa lama Nathan keluar dengan keadaan sudah segar. Dia melihat Michel tidur pulas setelah tadi mendapatkan pertolongan dari UGD.


Michel mengalami cedera di bagian kepala juga di bagian kakinya yang mengalami retak akibat benturan.


Nathan mengajak Reza keluar ruangan.


"Panggilkan wanita sialan itu kesini!" Nathan memerintahkan Reza untuk memanggil Raisya ke rumah sakit.


"Baik pak!" Reza langsung menurut. Dia langsung menekan nomor Raisya.


Beberapa kali dia menekan nomor Raisya tapi bunyinya sama. "Maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi!"

__ADS_1


"Maaf Pak Nathan, nomornya tidak aktif." Reza melapor pada Nathan.


"Tanyakan pada Ratna! Dia pakai nomor baru bukan?" Nathan baru teringat handphone Raisya ada padanya. Dan beberapa waktu ke belakang tanpa sengaja Nathan melihat Raisya menyalin nomor Ratna di ruangannya.


"Baik pak!" Reza langsung mengirimkan pesan pada Ratna meminta nomor Raisya.


Tak berselang lama. Ratna mengirimkan nomor baru Raisya pada Nathan.


"Halo. Ini dengan bu Raisya?" Reza menelpon Raisya setelah diberi nomor dari Ratna.


"Iya. Ini dengan siapa ya?" Raisya menanyakan identitas penelpon.


"Saya Reza asisten pak Nathan."


"Iya. Ada apa?" Raisya agak curiga menerima telepon dari asisten Nathan.


"Apakah anda bisa datang ke rumah sakit sekarang juga?" Reza meminta Raisya untuk datang ke rumah sakit sesuai dengan permintaan Nathan.


"Anda datang saja dulu ke rumah sakit xxx. Anda sekarang sedang ditunggu oleh pak Nathan." Terang Reza yang tidak menginformasikan apa-apa. Karena perintah Nathan hanya sebatas memanggilnya saja.


"Iya baik, saya segera datang ke sana." Saat ini Raisya sudah berada di hotel. Dia langsung memesan ojeg online agar cepat sampai di rumah sakit tanpa memberitahu Jacky terlebih dahulu.


Raisya pun sampai di lobi rumah sakit. Matanya langsung mengedar mencari seseorang yang telah memanggilnya. Karena tak menemukan Reza, akhirnya Raisya menelpon untuk menanyakan posisinya.


"Pak.. bu Raisya sudah datang. Dia sedang menunggu di lobi. Apakah bapak akan menyuruhnya kesini?" Reza meminta izin pada Nathan untuk mengabari Raisya.


"Sebaiknya suruh dia menunggu di belakang rumah sakit dekat taman. Aku akan menemuinya di sana. Dan kamu temani Ina! Kalau ada apa-apa kabari aku!" Jawab Nathan pada Reza.


"Baik pak!" Reza menurut begitu saja tanpa menaruh curiga sedikitpun pada Nathan.


Nathan langsung pergi ke belakang rumah sakit. Di sana nampak sepi sesuai perkiraannya.

__ADS_1


Raisya langsung berlari menuju belakang rumah sakit sesuai petunjuk dari pesan yang dikirim Reza. Hatinya begitu was-was memikirkan Ratna.


Dari kejauhan Nathan sudah melihat Raisya mendekati tempat yang disampaikan. Sorot matanya Nathan begitu tajam menyerang Raisya. Dingin dan garang dan penuh dendam. Nathan langsung menghampiri Raisya.


Bukk..


Dan tanpa diduga Nathan melayangkan tinju ke arah wajahnya Raisya. Raisya yang tidak mengira apapun langsung terjengkang ke belakang. Dia tak menyangka akan menerima pukulan keras dari Nathan. Tidak berhenti sampai sana, amarah Nathan begitu besar sehingga dia kalap memukuli Raisya sampai babak belur dan tak sadarkan diri. Kegarangan Nathan tidak berhenti. Bahkan kaki Nathan menginjak-nginjak badan Raisya yang sudah tak berdaya, tergeletak di lantai tanpa sedikitpun melakukan perlawanan.


Nafas Nathan terlihat tersengal-sengal, tenaganya benar-benar terkuras memukuli Raisya yang seorang perempuan lemah. Nathan menghentikan aksinya. Mata nyalangnya kini seolah ingin membunuh orang yang ada di hadapannya tanpa ampun.


Nathan mengusap wajahnya kasar. Untuk sisa tenaganya dia masih mampu menendang satu tendangan keras ke arah perut Raisya.


Ahhh..


"Kita impas untuk saat ini. Nyawa dibayar nyawa! Jika anakku mati maka aku pastikan kamu pun tak akan hidup!" Nathan merutuk marah. Lalu dia meninggalkan Raisya yang sudah tak berdaya tergelatak di atas lantai dengan berlumuran darah karena pukulan Nathan yang membabi buta.


Sementara itu Jacky sudah menyiapkan tas dan turun ke lobi hotel. Dia menelpon Raisya, tapi mesin penjawab otomatislah yang beberapa kali menjawab.


Jacky mengerutkan dahinya sambil menatap layar handphone.


"Apa dia tertidur di kamar hotel?" Jacky berbicara sendiri. Dia pun mengirimkan pesan singkat menanyakan keberadaan Raisya. Berharap jika Raisya ketiduran dia bisa membaca pesan Jacky menunggu di lobi dengan sabar.


1jam berlalu. Jacky kembali menghubungi Raisya tapi tetap sama. Nada tak aktif dari mesin otomatis.


Jacky mulai gelisah. "Apa perlu aku datang ke kamarnya? Tapi aku sendiri tak tahu nomornya. Ah apa sebaiknya telepon saja Ratna? Mungkin dia sedang bersama Ratna sekarang." Jacky menekan nomor Ratna untuk mencoba mencari tahu.


"Halo." Suara di seberang telepon langsung menjawab.


"Halo Rat! Raisya ada sama kamu?" Jacky langsung berbicara to the point.


"Sama aku? Tidak. Bukannya dari tadi sama kamu Jack?" Ratna agak bingung.

__ADS_1


"Eh dikira sama kamu. Di telepon kok gak aktif ya! Kira-kira dia tidur gitu? Aku sudah menunggu di lobi satu jam."


__ADS_2