
Jacky terlebih dahulu mengantarkan Arsel ke sekolahnya karena jarak sekolahnya lebih dekat daripada Michel. Anak itu tanpa beban, dia langsung menghambur masuk begitu melihat si kembar lebih dulu sudah tiba di sekolah.
Jacky kembali masuk. ke mobil. Tinggal mengantarkan Michel ke sekolahnya. Sepanjang jalan Michel tak mengeluarkan suara dia hanya terdiam seribu bahasa. Entah sedang memendam kesedihan, atau sedang memikirkan hal-hal tentang dirinya sendiri yang sekarang sudah tidak punya ayah.
"Hei.. bidadari kok melamun? Ayo cerita dong sama om! Jangan diam aja!" Jacky berusaha mengakrabkan dirinya dengan Michel.
Michel yang sudah mengerti tentunya tidak bisa gampang begitu saja melupakan ayahnya yang baru satu minggu ini meninggal.
"Gak apa-apa om." Michel menatap kosong ke arah jalanan.
"Nanti sepulang sekolah bagaimana kalau om ajak jalan-jalan. Mau gak?" Jacky ingin mencoba mendekati Michel agar anak itu tidak bersedih.
"Gak ah om. Males." Michel semakin sedih malah mendengar ajakan Jacky untuk jalan-jalan. Karena selama ini Michel selalu ditemani Nathan kemana-mana. Rasanya menjadi canggung dan juga aneh ketika dia harus berjalan dengan orang lain.
"Oke. Nanti pulangnya om jemput lagi ya! Kamu jangan kemana-mana!" Jacky tak ingin Michel pulang sendiri. Dia harus menjaga Michel sebagaimana wasiat Nathan padanya dalam surat terakhirnya.
"Emang om gak sibuk?" Michel merasa aneh kalau Jacky bela-belain harus menjemputnya. Karena selama ini kalau urusan menjemput sopir pribadinya yang biasa melakukan pekerjaan itu. Berhubung waktu masih ada Nathan, dia akan sibuk di jam-jam pulang sekolah. Paling Nathan hanya bisa mengantarkannya berangkat sekolah sedangkan menjemput Michel biasanya menyerah kannya pada sopir pribadi.
"Demi kamu.. om akan luangkan." Jacky jarang mengambil pusing dengan perusahaan keluarganya. Toh masih ada asistennya yang bisa meng-handle pekerjaannya jika sewaktu-waktu sibuk.
"Aku.. gak minta kok! Kalau om sibuk.. ga usah jemput! Jangan bikin Michel hutang budi." Bicara Michel lumayan panjang. Anak ini sudah berpikir jauh dengan masalah hutang budi.
"Santai Chel.. jangankan kamu. Bunda kamu, momy kamu, om jagain kok! Gak usah mikir hutang budi. Om.. malah seneng kok melakukannya." Jacky menoleh sebentar lalu kali melihat jalan fokus menyetir.
"Tapi.. Michel gak mau. Michel pengen pulang pake online aja!" Michel menolak untuk Jacky jemput.
"Oke... bidadari. Nanti om ganti kendaraan jadi ojeg online ya! Biar kamu tetap bisa naik online." Jacky dengan santainya akan pura-pura jadi ojeg online.
"Ih.. om nyebelin!" Michel memajukan bibirnya kesal pada Jacky.
"Jangan gitu dong say! Daddy kamu sudah nitip sama om. Suruh jagain kamu. Kalau kamu kaya gitu nanti daddy sedih lho!" Jacky mengingatkan Michel akan wasiat yang diberikan Nathan padanya. Sebelum kematiannya Nathan banyak menulis pesan. Sehingga tiap orang kebagian pesan terakhir. Tak terkecuali Jacky pun kebagian.
__ADS_1
"Serah om deh!" Michel tetap manyun.
"Oke.. "
"Serahkanlah padaku kalau begini caranya.. " Jacky malah bersenandung menimpali Michel yang cemberut.
"Ih lebay!" Michel semakin kesal melihat Jacky yang bersenandung.
"Biarin lebay juga tampan." Jacky malah terus menjawab gerutuan Michel.
"Ih... nyebelin banget sih om Jacky!" Michel membalik badan dan semakin ngambek melihat Jacky.
"Oke.. Oke bidadari jangan marah. Om mau diem. Biar bidadari om gak hilang cantiknya." Jacky melirik sebentar melihat Michel yang ngambek.
Michel mendengus kesal. Dia hanya menatap keluar jendela mobil. Pikirannya sekarang tidak karuan. Semenjak ayahnya meninggal, Michel seperti tidak punya tujuan lagi. Apalagi melihat Raisya yang rapuh menangisi kesedihannya sendiri.
Sekarang Michel bingung harus bagaimana? Tak ada tempat untuk mencurahkan hati sepinya. Dia seperti orang asing yang baru saja masuk pada dunia baru. Kalau bukan karena wasiat ayahnya mungkin dia sudah menyerah juga. Hatinya merasa lelah. Seperti dipaksa dewasa sebelum waktunya.
"Hei.. bidadari. Sudah sampai.. " Jacky membalikkan badan menyamping sambil melihat Michel.
Michel langsung membuka safety belt nya dan turun tanpa berpamitan.
"Hei.. Michel gak mau cium om dulu?" Jacky berteriak dari dalam mobil sambil menatap punggung Michel.
Yang dipanggil pura-pura tidak mendengar dia terus saja berjalan lurus ke arah gerbang tanpa memperdulikan Jacky.
"Ya ampun Nathan... anakmu." Jacky geleng-geleng kepala. Sepertinya jalan ke depan agak sulit dia tempuh melihat reaksi Michel seperti tadi membuat Jacky harus ekstra sabar.
Michel masuk kelas. Semua teman-temannya langsung mendekatinya. Mereka satu persatu mengucapkan turut berbela sungkawa atas kematian ayahnya. Michel menyambut dengan wajah murung. Meski sudah satu minggu kematian ayahnya berlalu tapi hatinya masih tidak percaya bahwa ayahnya sudah meninggal.
Jam pelajaran pun berlangsung. Guru menerangkan pelajaran di depan semua murid. Semua siswa menatap ke depan dengan serius. Tapi Michel hanya menopang dagu pikirannya melayang-layang. Suara guru yang di depan seolah tak terdengar oleh telinganya.
__ADS_1
Jam istirahat pun tiba. Siska mendekati Michel.
"Makan yuk!" Ajaknya pada Michel.
"Males ah. Aku mau tiduran saja di sini." Jawab Michel tak bersemangat.
"Mau gue beliin apa? Biar gue traktir." Siska yang tahu Michel masih berduka merasa iba pada Michel.
"Gak. Ma kasih. Aku hanya ingin tidur." Jawab Michel lalu memiringkan kepalanya di meja yang ditahan dua tangannya sambil memejamkan matanya.
"Oke. Kalau gitu gue ke kantin dulu ya. Kalau elu mau gue beliin, tinggal call me aja ya!" Siska berbaik hati menawari Michel.
"Mmm." Jawab Michel pendek.
Siska pun keluar dari kelas menuju kantin. Dia sudah bergabung dengan teman-temannya yang lain.
"Eh.. Michel masih di kelas?" Salah satu teman Siska bertanya padanya.
"Iya.Tadi sudah gue ajak, tapi dianya gak mau. Katanya mau tidur." Ucap Siska mulai menyeruput jus yang sudah dipesannya.
"Kasian juga ya. Belum lama ini ayahnya mencari-cari. Eh.. sekarang malah ayahnya meninggal. Mungkin ayahnya Michel pusing kali mikirin Michel yang kabur." Dasar anak cewek bawaannya senang bergosip.
"Eh.. jangan ngomongin orang yang sudah tidak ada. Dosa lo!" Salah satu teman Siska yang lain memperingatkan Dewi yang baru saja bergosip.
"Lah... yang namanya ngomongin mah semua juga dosa mpok ati!" Siska bicara keras memperingatkan anggota gengnya.
"Iya lupa mpok Siska. Dikira kalau ngomongin yang hidup mah kagak dosa." Semuanya tertawa mendengar Siska dan Dewi saling menimpali.
Ada sepasang mata yang dari tadi mencari keberadaan Michel diantara gengnya Siska. Tapi dia tak menemukan Michel dikeruman gengnya Siska.
Dia beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Hei.. lu mau kemana?" Indra penasaran.