Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Babak baru


__ADS_3

"Hh.. kamu pikir Adam akan menyetujuinya?" Tuan Robert mendengus.


"Terserah anda! Buat anda tidak ada yang tidak mungkin bukan?" Sarah tidak mau menyerah dengan keinginan tuan Robert. Ini saatnya bernegosiasi. Rugi jika Sarah saat ini tidak mempunyai harga tawar.


Rasanya Sarah sudah tidak bisa bersabar lagi. Hubungannya dengan Adam pun menjadi sulit Dia merasa sudah tidak nyaman lagi tinggal di mansion itu ditambah suaminya pun sudah tidak peduli akan nasib rumah tangganya.


Sebulan lebih sudah Adam bersikap dingin pada Sarah. Begitu pun Sarah tidak ingin ribut dengan. Adam. Menurut laporan orang suruhannya, ternyata hubungan Adam terus berlanjut dengan wanita bernama Marry.


"Hhh... baiklah. Jika kamu menginginkannya. Jangan salahkan aku!" Tuan Robert memberi isyarat pada asistennya.


"Baik tuan." Dia menarik kertas yang sudah diberikan pada Sarah.


"Dan satu lagi. Saya akan membawa pasien itu. Tolong tuan Robert buatkan berita kematiannya! Biarkan kami pergi menjauh dari putra-putra anda. Kami pun ingin hidup tenang tanpa gangguan dari siapa pun." Sarah mengajukan tambahan persyaratan.


Tiba-tiba terbersit akan membawa Raisya juga agar tidak menjadi korban Nathan selanjutnya.


Tuan Robert menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya kasar.


###


Setelah menandatangani perjanjian dengan tuan Robert, akhirnya Sarah bisa menarik nafas lega. Dia membawa terbang Raisya ke Amerika. Kini. hatinya yakin bahwa Raisya membutuhkan dirinya. Raisya harus segera sembuh dari cacatnya.


"Peter.. tolonglah! Saat ini Aku tak bisa meminta ayahku. Kamu satu-satunya sahabatku yang bisa menolong kondisi adikku. Aku tak ingin seorang pun mengenalinya. Kalau tidak nyawanya bisa terancam." Ucap. Sarah memohon pad Peter kakak kelasnya sewaktu di Akademi.


"Baik.. aku makan menolongnya. Tapi tidak gratis. Kamu harus membayarnya sebanyak 20Milyar.Jika kamu setuju aku akan memulai pekerjaanku. Tapi kalau tidak... terpaksa kamu harus mencari dokter lain.


"Apa?" Sarah melongo.

__ADS_1


"Di dunia ini tidak ada yang gratis Sar! Meski kamu sahabatku, aku butuh biaya untuk merawat dia. Apakah kamu akan membebaniku juga? Bagaimana Sar?" Peter menawarkan harga fantastis untuk kesembuhan Raisya.


"Tapi.. darimana uang sebanyak itu? Kalau pun ada, aku tak sebanyak itu Peter." Keluh Sarah, yang tak habis pikir sahabat yang satu ini meminta bayaran seperti rentenir saja.


"Terserah kamu! Aku akan menunggu jawabanmu." Peter dengan tenang mengatakan hal itu.


"Baik. Aku bayar di muka 2Milyar. Sisanya aku minta dicicil, bagaiamana?" Sarah hanya bisa menyanggupinya sesuai dengan kemampuannya sekarang.


"Baik. Aku akan mulai pekerjaanku. Kapan kamu akan menstranfer uangnya?" Peter menatap serius Sarah.


"Aku ingin membuat perjanjian. Aku takut kamu menipuku. Karena jika kamu menipuku, aku tak bisa memaafkan dirimu selamanya." Raut wajah Sarah nampak ketakutan juga penuh curiga.


"Baik. Buatkan saja! Aku tak berniat menipumu. Tapi selama kamu belum melunasi permintaanku, terpaksa adikmu menjadi jaminannya. Dia harus melakukan apapun yang aku mau." Peter memutar kursi kerjanya. Dengan leluasa dia mengancam Sarah. Saat ini Sarah tidak mempunyai pilihan, selain menyanggupinya.


"Baik. Aku akan membuat surat perjanjiannya, lalu aku akan mengirimkan uangnya begitu aku melihat adikku keadaannya lebih baik." Sarah harus lebih berhati-hati.


Sementara itu Adam terkejut dengan amplop coklat yang diberikan tuan Robert. Isinya selembar berkas perceraiannya.


"Apa ini?" Dia menunjukkan surat itu pada tuan Robert dengan tatapan tak percaya. Dadanya terasa sesak membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu.


"Dia sudah mengetahui perselingkuhan mu. Kamu terlalu ceroboh Adam!" Tuan Robert menatap keluar jendela. Dia tak berani melihat wajah anaknya, Adam. Sudah dipastikan Adam tidak akan menerima kenyataan perceraian itu, apalagi ini diajukan oleh Sarah.


Adam menggelengkan kepala meremas kertas yang sedang digenggamnya. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai dengannya." Ucap Adam dengan suara gemetar.


"Mau atau tidak mau kamu harus bercerai! Dia tidak akan kembali lagi!" Tuan Robert menoleh. melihat Adam. Wajahnya seperti kusut, terlihat kacau dan bingung.


"Dimana dia sekarang? Aku ingin bicara dengannya." Adam menatap ayahnya dengan penuh harap dia memberitahunya. Adam berharap pernikahannya masih bisa diselamatkan. Diakuinya bahwa dia bersalah telah berselingkuh dari Sarah.

__ADS_1


Ya.. perselingkuhan itu memang godaan ternikmat yang dirasakan Adam. Bahkan bisa menjadi candu bagi pelakunya. Mereka tak pernah berpikir dengan akal sehatnya. Bahwa perselingkuhan akan membawa pada malapetaka. Keluarga biru seperti menanggung karma, kehancuran pernikahan.


Adam baru merasakan bahwa kehadiran Sarah sangat berarti di hatinya. Namun sayang.. bubur tidak akan menjadi nasi. Begitu pun penyesalan tidak akan datang di awal kejadian.


'Pih.. please dimana Sarah?" Adam kuasa menahan sedih. Dia duduk bersimpuh di hadapan ayahnya. Berharap ayahnya memberitahukan keberadaan Sarah.


"Aku tidak tahu. Dia hanya memberikan surat itu!" Jawab tuan Robert.


"Lalu apa yang telah papih lakukan sehingga Sarah berani meminta cerai dariku? Kalau mau dia bisa bicara padaku langsung! Kenapa harus pada papih dia meminta?" Adam menduga bahwa ayahnya lah yang ada di balik perceraiannya.


"Karena kalau dia meminta padamu, dia yakin kamu tidak akan memberikan."


"Lalu kenapa papih menyetujuinya? Apakah ini ada kaitannya dengan kematian Raisya?" Air mata Adam sudah tak bisa dibendung lagi. Dia tak bisa menerima begitu saja keputusan itu. Pastinya ayahnya ada campur tangan di dalamnya. Apalagi ini berdekatan dengan kematian Raisya.


"Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kamu perbuat Adam! Seharusnya kamu berpikir sebelum melakukannya!" Ucap tuan Robert.


"Lalu kenapa papih juga melakukannya dengan ibunya Nathan?" Perasaan Adam kini seperti diremas, sedih dan sakit seakan menyatu dalam dadanya.


"Aku tak ingin kamu pun mengalami hal yang sama denganku. Makanya lebih baik kamu tanda tangani segera sebelum sesuatu terjadi!" Ucap tuan Robert pada Adam. Dia tahu betul konsekuensinya. Dia tak ingin keluarganya menjadi seperti dirinya.


"Aku... akan mempertahankan pernikahanku. Apapun yang terjadi aku tidak. akan menceraikannya." Adam menyeka kelopak matanya lalu bergegas keluar dari ruang kerja tuan Robert.


Adam langsung menyetir mobilnya menuju rumah sakit. Dia sadar hampir satu bulan lebih dirinya tidak berkomunikasi dengan Sarah. Masing-masing sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.


Walaupun mereka tidak bertengkar malah saling mendiamkan, rasanya itu lebih sakit. Apalagi sekarang Sarah pergi tanpa pamit, itu benar-benar membuat Adam hancur.


Bahkan kebiasaannya mengantar dan menjemput Sarah pun sudah Adam lupakan. Tak ada tegur sapa tak ada lagi saling mengkhawatirkan itu sudah terjadi hampir satu bulan lamanya.Dia terlampau asik dengan dunianya yang baru, yang melenakan jiwanya. Tanpa sadar sedikit demi sedikit Sarah menjauh darinya. Dan kini dia menyesali perbuatannya.

__ADS_1


__ADS_2