
"Tenang sesama yang punya ular jangan saling mematuk!" Raisya menutup mulutnya menahan untuk tidak tertawa. Jacky langsung melotot melihat Raisya dan Raisya membalas Jacky dengan mata melebar.
Semua orang memilih keluar dari ruangan setelah rapat selesai. Raisya dan Jacky masih duduk di kursi malah asik memegang handphone saling membalas pesan.
"Bu Raisya, apakah anda akan duduk disini? Atau memilih tempat lain?" Suara tegas dan aura coolnya membuat Raisya memasang mode serius, dan menghentikan berkirim pesan dengan Jacky.
"Disini saja juga gak pa-pa pak Na.. Than." Raisya agak gugup ditatap dengan wajah setajam itu. Kayanya Nathan agak kesal melihat Raisya tidak menanggapinya setelah ajakannya tadi.
"Kamu gak keluar?" Nathan melihat Jacky duduk santai di seberang Raisya tanpa sedikitpun mau menggeser posisinya. Tepatnya di ruangan itu kini ada Jacky, Raisya dan Nathan.
"Gak.. dia staf gue. Terus kalau ada apa-apa kaya kemarin, gue bisa kontrol elu!" Jacky bicara sinis sambil menatap nyalang pada Nathan.
"Ini area kantor bukan area bebas. Jadi aku harap kamu kerja profesional!" Nathan mulai bersitegang.
"Kalau ini kantor kenapa buntut ekor elu diajak juga. Itu lebih tidak profesional." Jacky kembali melawan omongan Nathan.
"Sudah-sudah. Kalian mau rapat atau mau adu mulut sih?" Raisya berdiri menengahi Jacky dan Nathan mulai panas.
"Dia yang sewot Ra... " Jacky membela diri.
"Kalian mau ribut silahkan! Gue cabut mau kelaut." Raisya langsung berdiri lalu berjalan ke luar ruangannya meninggalkan Nathan dan Jacky.
"Kok ke laut sih Ra?' Jacky berdiri lalu mengikuti langkah Raisya.
"Habis elu gimana sih! Bawaannya kenapa ribut mulu sama pak Nathan. Ada dendam kesumat?" Raisya membalikkan badan melihat wajah Jacky.
"Gue belain elu Ra! Entar dia ngapa-ngapain elu gimana?" Jacky merasa khawatir jika Raisya rapat empat mata dengan Nathan saja.
"Gue gak bakal kenapa-kenapa Jack.. lagian di sana ada CCTV." Raisya cemberut merasa kesal dengan sikap Jacky yang posesif.
"Iya udah gue minta maaf Ra! Tapi elu jangan marah ya! Please.. " Jacky menunjukkan wajah so imut nya berusaha merayu Raisya.
"Plas plis plas plis. Cuplis! Giliran ada maunya Please.. eh giliran marahan Please deh.. tuh urat nonjol sekilo!" Raisya menyunggingkan bibirnya meledek kebiasaan Jacky.
"Ha ha ha elu Ra! Bikin gemesin." Jacky hampir saja memeluknya dari belakang.
"Awas jangan deket-deket bukan mahrom!" Raisya mengangkat telapak tangannya mencegah Jacky untuk terlalu deket.
__ADS_1
"Ups, Oh iya Sorry!" Jacky menutup mulutnya. Dia lupa kalau Raisya memang berbeda dengan perempuan yang lainnya. Dia akan marah sekali kalau ada laki-laki yang menyentuhnya. Sedangkan Jacky yang sudah lama hidup bebas kadang suka lupa dengan kebiasaannya peluk sana sini.
"Ra.. jadi elu gak jadi lanjut sama Nathan rapat?" Jacky yang melihat Raisya terus berjalan mengabaikan Nathan yang masih di dalam ruangan jadi kepikiran tentang niat awalnya mau rapat.
"Gak lah.. biar dia mikir dengan kepala dingin. Biar ngomongnya lebih ke akal bukan otot." Bela Raisya lalu masuk ke dalam lift.
"Hhmm.."
"Eh Ra, tadi gimana rapat sama bagian gudang? Lancar?" Jacky penasaran dengan hasil rapat Raisya dengan bagian gudang.
"Ya begitulah. Sekarang gue mau buat laporan satu-satu Jacky, tinggal lu baca hasilnya. Biar gak numpuk. Sisanya ntar aku kerjain di rumah." Raisya berniat kembali ke ruangannya.
"Oke!" Jacky membulatkan ibu jari dan telunjuknya tanda dia setuju dengan apa yang dilakukan Raisya.
Tling
Suara lift terdengar pada angka 15. Pintu pun terbuka lebar.
"Tante... " Suara itu kembali terdengar nyaring begitu wajah Raisya dilihatnya tepat di pintu lift oleh Michel.
Michel langsung menghamburkan badannya lalu memeluk kaki Raisya tanpa aba-aba. Raisya sempet terdorong sedikit ke belakang.
"E eh.. " Raisya latah karena kaget dengan pergerakan Michel yang spontan.
"Ayo Ra keluar!" Jacky agak meninggikan suaranya melihat Raisya kembali terdorong ke belakang.
"E eh iya." Raisya melihat Michel ke bawah karena tinggi badan Michel baru sepaha Raisya.
"Michel mau kemana sayang?"
"Aku... mau mencari tante. Tapi tantenya ada disini!" Michel menengadahkan kepalanya.
"Oh.. sekarang mau ke Daddy?" Raisya bertanya kembali.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf Bu. Tadi saya disuruh pak Nathan untuk membawa Michel berjalan-jalan agar acara rapatnya tidak terganggu. Dan saya sengaja keliling tiap lantai sambil mencari ibu Raisya agar Michel mau mengikuti saya." Terang Babysitter nya Michel.
__ADS_1
"Ohh."
"Maaf Michel tante mau bekerja lagi. Michel sekarang mau apa?" Raisya berusaha bicara lemah lembut agar Michel tidak mengikutinya.
"Tante.. aku mau sama tante. Janji Michel mau baik." Suaranya terdengar memelas dan terlihat meminta belas kasihan. Michel begitu kelihatan kehausan akan kasih sayang. Siapapun yang mendengar helasan Michel akan merasa kasihan.
"Iya baiklah. Tapi janji ya jangan nangis kaya gempa! Mau jadi anak sholehah?" Rayu Raisya. Akhirnya hati Raisya harus luluh oleh permintaan Michel yang terlihat sangat iba.
Michel mengangguk.
"Ya udah tante tuntun untuk jalan kaki ya! Jangan minta digendong!" Raisya memegang tangan mungil yang menggemaskan Michel dan keluar dari lift menuju ruangannya.
"Ra.. kamu tuh mau lagi ngasuh nih anak ular tangga!" Jacky yang tadi menunggu di luar pintu lift sekarang wajahnya terlihat kesal.
"Sudahlah! Daripada berdebat dengan anak ini gak bakal kalah, kita harus mengalah biar urusan cepet kelar!" Raisya malas harus berlama-lama berdebat.
"Michel sama suster duduk ya di sofa. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dahulu." Raisya meminta Michel untuk duduk di sofa yang ada di ruangan divisi keuangan.
"Sya.. elu bawa anak itu lagi?" Hesti yang mendengar percakapan Raisya berdiri dari kubikelnya.
"Kepaksa mbak.. mau bagaimana lagi." Raisya menanggapi masalah Michel dengan pasrah.
"Tadi dia udah dateng kesini juga lho Sya! Malah langsung masuk ke kubikel lu pas gue katakan elu gak ada. Tapi dia gak percaya." Terang Hesti pada Raisya.
"He he takdir mbak!" Raisya kembali mengoperasikan komputernya.
"Lah hati-hati lho Sya! Entar elu dibilang pelakor. Pasti ada emaknya kan tuh anak!" Hesti memberi saran tentang sebab akibatnya jika Raisya terlalu dekat dengan Michel.
"Oh iya juga sih!"
"Pak Nathan single parent mbak!." Suster yang mengasuh Michel mendengarkan pembicaraan Hesti dan Raisya memberitahu posisi Michel.
"Waduh! Gawat Sya!" Hesti kaget.
"Sudahlah mbak. Biarin anak itu tenang!" Raisya tidak fokus bekerja mendengar tanggapan Hesti barusan.
"Oke. Siip."
__ADS_1