Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Obsesi


__ADS_3

Nathan tersenyum tipis. "Makannya cepetan Chel...!"


"Daddy memang sudah?" Nathan menyudahi acara makannya lebih cepat. Dia meneguk air mineral karena tenggorokannya terasa panas.


"Sudah.. buat kamu aja!" Jawab Nathan agak kurang semangat.


"Yah.. gak seru ah... " Michel agak cemberut karena dia terpaksa makan sendirian.


"Daddy mau cuci tangan." Nathan berdiril lalu berjalan ke arah wastafel.


Begitu sampai di wastafel Nathan harus menunggu antrian. Karena ini hari minggu banyak pengunjung yang masuk ke area foodcourt. Otomatis tempat wastafel juga penuh dengan orang-orang.


Apalagi sekarang Nathan sedang mengantri di belakang seorang laki-laki yang sedang membawa seorang anak.


"Diem sayang... nanti bajunya basah! Kamu mau dimarahin sama mama kamu?" Suara laki-laki itu membimbing anak kecil yang sedang dicuci mulutnya dari cabai, agar tidak mempermainkan air. Apalagi antrian di belakangnya banyak orang, jadi memperlambat acara cuci tangannya.


"Gak.. mama galak! Aku mau cama papa!" Ucap anak lucu itu akhirnya menurut.


"Yukk.. papa gendong!" Irwan langsung memangku Arsel dengan gemas. Dia langsung berjalan ke samping melewati barisan antrian.


"Irwan.. " Panggil Nathan melihat wajah Irwan yang baru saja melewati barisan antrian.


Spontan Irwan yang mendapatkan panggilan menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


"Eh... hh... pak Nathan.. " Irwan terlihat gugup.


Nathan tersenyum melihat Irwan dan matanya langsung tertuju pada anak yang sedang digendongnya.


"Anak?" Tanya Nathan. Arsel melihat Nathan begitu Irwan menoleh ke arahnya.


"Mmm iya Pak.. Maaf... saya... pergi dulu...lagi ditunggu istri!" Imbuh Irwan pamit permisi. Irwan langsung menundukan kepala Arsel di bahunya agar tidak menyita perhatian Nathan. Irwan melangkah dengan cepat menuju mejanya.


"Kenapa dia? Baru juga bertemu kaya yang tegang." Ucap Nathan dalam hati. Nathan kembali melangkah agar antriannya tidak digeser orang, karena tadi sempat menyapa Irwan.


"Beb.. cepet beres-beres! Gawat! Ada Nathan disini." Bisik Irwan pada Ratna.


Mata Ratna membola mendengar bisikan suaminya.


"Mmm... mah.. pah.. cepetan yuk! Kita pulang aja! Aku kebelet nih!" Ratna mencari alasan agar tidak berlama-lama di area mall.


"Kamu mending ke toilet aja! Daripada riweuh kaya gitu!" Timpal Raisya.

__ADS_1


"Ah.. gak enak. Pengen di rumah." Ratna membereskan asal barang-barangnya ke dalam tas isinya perlengkapan anak-anak.


"Bi.. cepet.. bawa nih tasnya!" Ratna memanggil baby sitter yang biasa mengasuh si kembar. Karena tanpa bantuan babysitter, Ratna lumayan kerepotan kalau harus menangani sendirian mengasuh anak kembarnya.


Semua berdiri mau meninggalkan tempat foodcourt.


"Dad.. tuh anak itu.. yang sedang digendong om itu, yang tadi nangis kaya petir." Michel menunjuk ke arah Irwan yang mau keluar dari area foodcourt.


"Dia??" Nathan mengerutkan dahinya.


"Itu Ratna kan?" Nathan berkata pelan sambil mengamati satu -persatu orang yang bersama Irwan.


Wajah Raisya yang memakai masker tidak jelas terlihat oleh Nathan. Karena posisinya membelakangi juga kebetulan aedang menggendong Rara si kembar.


"Daddy kenal sama mereka?" Michel melibat Nathan yang sedang bengong melihat keluarga besar Irwan yang baru saja meninggalkan area foodcourt dengan langkah terburu-buru.


"Mmm." Jawab Nathan pendek. Matanya tidak mau lepas mengamati satu keluarga itu.


"Siapa mereka dad? Kok serius banget daddy lihatnya?" Michel melihat wajah Nathan.


"Karyawan daddy." Nathan kembali melihat Michel.


"Kamu cepetan cuci tangan! Kita pulang!"


"Iya.. nanti nyusul. Daddy cape." Nathan mencari alasan untuk segera keluar dari area foodcourt.


"Iyalah.. " Michel bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju wastafel yang masih mengantri.


"Kemana mereka ya?" Nathan berdiri melihat keluar, mencari keberadaan Irwan. Dia sepertinya mencurigai sesuatu.


"Irwan.. sama Ratna menikah? Tapi kok anaknya bule?" Nathan mengerutkan dahi. Kali ini Nathan terlalu kepo dengan urusan Irwan. Entah kenapa hatinya menjadi gelisah setelah tadi melihat anak yang berada dipangkuan Irwan. Dikiranya Irwan menikah dengan bule, eh.. malah menikah dengan Ratna. Karena dia tadi sempat melihat Ratna menggandeng tangan Irwan dengan mesra.


"Ayoo dad..! Michel membawa beberapa tas plastik yang berisi barang-barang kebutuhannya dari kursi.


"Eh.. biar daddy saja sayang.. ini berat." Nathan yang sedang memperhatikan Irwan, jadi tidak fokus, malah meninggalkan tas-tas plastik itu di kursi.


"Ya udah.. Michel bantu. Daddy mau yang mana?" Michel mendekatkan beberapa tas plastik pada Nathan.


"Kamu yang ringan.. biar Daddy yang berat-berat." Nathan langsung mengambil tas plastik yang berisi barang yang berat.


Keduanya langsung menuju lift. Karena pengunjung penuh mereka dipaksa mengantri lagi.

__ADS_1


"Duh dad penuh gini.. " Keluh Michel yang kurang nyaman berdesakan dengan sesama pengunjung.


"Kamu cape tidak jika kita turun pake eskalator?" Nathan yang sama-sama tidak nyaman mengajak Michel turun memakai eskalator.


"Hayuuk aja. Daripada lama menunggu, tetep aja sama-sama turun." Michel menyetujui ajakan daddy nya.


"Raisya.. Arsel ingin sama kamu. Kayanya mau tidur." Ucap Irwan memanggil Raisya ingin menyerahkan Arsel yang mau digendong Raisya. Biasanya kalau mau tidur Arsel. selalu ingin ditemani Raisya.


"Ya.. sini!" Raisya menukar Rara dengan Arsel.


Nathan yang tadinya mau beranjak meninggalkan antrian lift langsung menghentikan langkah.


Degg...


"Raisya... " Spontan Nathan mengucapkan nama Raisya setelah dia mendengar suara yang dikenalinya memanggil nama itu.


"Kenapa dad?" Michel ikut menghentikan langkah.


"Chel.. kayanya bunda ada disini.' Ucap Nathan.


"Daddy tahu darimana?" Michel menatap serius ayahnya.


"Barusan daddy mendengar suaranya." Nathan berjinjit ingin melihat jelas wajah Raisya. Tapi sayangnya orang-orang di depannya terlalu banyak sehingga menyulitkan Nathan untuk melihat ke arah depan.


"Daddy... yang namanya Raisya itu banyak. Daddy kayanya terobsesi sama bunda. Jadi tiap kali mendengar nama itu, daddy menyamakan sama bunda." Sejak kedatangan ke Indonesia Michel sering memperhatikan ayahnya sering melamun, menduga Nathan sekarang sedang berhalusinasi.


"Daddy... beneran denger Chel... " Nathan bersikukuh mempertahankan keyakinannya.


"Ya sudah... mau daddy gimana?" Michel mengalah daripada malu ribut di depan banyak orang.


Nathan menarik tangan Michel menerobos antrian orang-orang.


Tling


Suara lift terbuka. Sebagian orang yang berada di depan langsung berdesakan masuk ke dalam lift. Lift langsung menutup karena kapasitas sudah penuh.


"Yah... " Nathan yang sudah cape-cape. menerobos malah melihat pintu itu menutup.


"Hei... antri dong! Masa bule tidak tahu budaya antri!" Salah satu pria melayang protes karena mereka merasa kesal Nathan menerobos antrian.


"Mmmaaaf." Nathan langsung meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan.

__ADS_1


Sekarang Michel menarik Nathan untuk keluar dari antrian karena malu dipelotototi banyak orang yang kesal pada sikap Nathan yang menyerobot antrian.


__ADS_2