
"Kak masukin cincinnya ke jari Raisya!" Ratna berbisik di telinga Hendrik setelah tahu siapa yang datang di pintu.
"Tante Raisya... Michel langsung turun dari pangkuan Nathan menghambur ke arah Raisya.
"Bagaiamana sayang bagus? Kamu suka kan?" Hendrik mengedipkan matanya kode pada Raisya untuk berpura-pura.
"Oh bagus. Aku suka. Terimakasih eeuu.. " Raisya mau mengatakan sayang tapi tersendat. Setelah melihat Michel ada dihadapannya juga sambil melihat dirinya semu tak senang.
"Pagi. Apakah saya mengganggu acara kalian?" Nathan mendekati ranjang Raisya dan memegang bahu Michel. Michel mendongak wajah ayahnya, sepertinya anak itu sedang mengamati reaksi wajah Nathan.
"Tidak pak Nathan. Kami senang anda datang tidak menggangu kami." Ratna menyindir dengan sindiran cukup pedas membuat mata Raisya dan Hendrik melihat Ratna dengan tatapan penuh pertanyaan.
Ratna menggerakkan dagunya ke depan. Dengan kode isyarat 'Apa'
Seolah mengerti apa yang sedang dipertanyakan oleh Raisya dan Hendrik ketika mereka berdua menatapnya dengan tatapan aneh.
"Oh.. Iya kenalkan ini pak Nathan atasan saya kak Hendrik. Dan ini kakak saya kak Hendrik pacarnya Raisya." Ratna melihat ke arah Nathan dengan senyuman palsu dengan menahan unek-unek nya.
Ngapain sih elu nongol sama anak bawang elu disini sih? Ganggu terus hidup kita. Kaya syetan aja!
"Kenalkan saya Nathan, atasannya Ratna." Nathan menyodorkan tangannya ke arah Hendrik. Dengan tatapan datar tapi menyimpan seribu rencana liciknya dalam dada.
"Saya Hendrik kakaknya Ratna sekaligus pacarnya Raisya." Bohong Hendrik dengan wajah tenang. Karena bagi para playboy berbohong adalah pekerjaannya. Jadi tak sulit jika harus membuat sandiwara kecil seperti ini.
"Om pacarnya tante Raisya?" Michel melihat Hendrik dengan cermat.
"Iya anak manis. Kamu mau juga jadi pacarnya om?" Senyum Hendrik begitu dibuat-buat seperti anak-anak agar bisa mengambil hati Michel.
Michel lalu menatap ayahnya dengan mengerutkan dahinya.
"Aku rasa masih tampan daddy aku daripada om!"
Jlebbb
__ADS_1
"Mak nyusss.. "Nathan berbicara dalam hati sambil tersenyum tipis mendengar anaknya berbicara.
"Itu baru anak gue, Michel gitu lho. Kalian KO kan?"
Ratna membelalakkan matanya tidak percaya omongan anak sekecil itu berbicara tidak ada imutnya. Malah amit-amit kaya dedemit yang ada di belakangnya.
Ya ampun anak syetan kali. Gue gak percaya dia kaya dedemit yang ada dibelakangnya.
"Audzubillaahi minasyaithonirrojiiim." Ratna mengusap wajahnya sambil mengatakan taawudz.
"Kamu kenapa Rat?" Hendrik heran mendengar Ratna mengucap taawudz.
"Kali aja syetan-syetan terkutuk bisa menyingkir dari kita." Sindiran pedas dilayangkan dari bibir Ratna menjawab pertanyaan Hendrik. Hendrik masih belum mengerti maksud Ratna. Matanya seperti mengedip-ngedip sambil berpikir.
"Nah Michel..sudah bertemu dengan tante Raisya. Michel masih mau disini atau mau kembali ke ruangan Michel?" Nathan melihat Michel untuk menawarkan opsi pada anaknya. Nathan sudah gerah berlama-lama di ruangan Raisya karena mendapatkan sindiran pedas dari Ratna.
"Michel mau duduk disini aja daddy, jagain tante Raisya. Takut ada yang ganggu tante." Michel naik ke kursi lalu menselonjorkan kakinya yang masih pendek dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi dengan santai.
Ratna langsung mengangkat sebelah ujung bibirnya dengan mata agak melotot.
"Maaf..Pak, nanti kalau anak bapak celaka apa kami bertiga akan bapak pukuli lagi seperti Raisya?" Ratna tak bisa menahan diri mengeluarkan kekesalannya.
Michel yang mendengar pembicaraan Ratna pada Nathan langsung melihat Nathan dengan tatapan agak heran. Anak itu rupanya punya kecerdasan di atas rata-rata. Dia bisa mengerti bahasa sindiran dengan baik. Semua mata sedang menatap Nathan dengan tatapan berharap jawaban.
"Mmmh... tergantung. Kalau anak saya celaka seperti kemarin. Kalian sendiri sudah lihat hasilnya kan?" Tanpa rasa takut sedikit pun Nathan bicara datar-datar saja tanpa beban.
Semua orang yang ada disitu geleng-geleng kepala mendengar Nathan bicara seperti itu.
"Sugan mah psikopat mereun." Raisya bicara dalam hatinya.
"Maksud dia apa ya?" Hendrik yang tidak tahu kejadian sebenarnya masih mencerna apa yang baru saja didengarnya.
"Dasar syetannn luuu." Diantara mereka bertiga Ratnalah yang paling terlihat kesal.
__ADS_1
Tak disangka Michel turun dari kursinya.
"Daddy jahat.. Daddy jahat..." Michel memukul paha Nathan dengan tangan imutnya. Dia terus saja mengulang kalimat itu.
Hendrik rupanya baru mengerti dan menebak apa yang terjadi pada Raisya. Hendrik yang tanpa aba-aba langsung melayangkan tinju ke wajah Nathan.
Badannya yang kekar juga tinggi tubuh Nathan yang hampir seimbang dengan Hendrik, membuat pukulan itu hanya menggeser tubuhnya sedikit. Dia langsung memangku Michel khawatir anaknya terkena pukulan laki-laki yang ada di depannya.
"Dasar banci lu! Beraninya sama perempuan. Sudah gitu masih datang nutupin anak lu! Pantesan aja adik gue baca taawudz. Rupanya setannya ini!" Hendrik begitu marah, sorot matanya menyalang ke arah Nathan.
"Elu tuh mikir ya sebelum mukul cewek. Elu lahir dari batu bukan sih? Tuh liat anakmu juga cewek bagaimana kalau dia yang dipukulin sama orang? Perasaan elu masih ada gak sih? Kali aja elu bukan manusia!" Hendrik terus saja mengoceh.
"Heh.. asal tahu aja ya! Gue gak bakalan mukulin Raisya kalau dia tidak mencelakai anak gue. Tanya sama orangnya? Ngapain dia lari menghindari anak gue?" Nathan tak mau kalah. Sekarang ruangan itu jadi panas.
"Heh itu anak elu masih baik-baik aja kan? Elu mikir pake otak gak sih? atau jangan-jangan otak elu kosong kali! Kalau elu orangtua yang mau jadi contoh buat anak elu. Caranya bukan begitu goblok!" Hendrik semakin tak bisa menahan emosinya.
"Sudah kak! Jangan layani pak Nathan! Gak ada gunanya. Biar dia keluar dari ruangan ini saja dan bawa anaknya jauh-jauh dari kita! Jangan sampai anaknya celaka malah nyalahin orang lain
Dia nya aja gak becus jaga anak! Istri mana yang mau sama dia yang psikopat." Ratna menggandeng sikut kakaknya agar tidak memanas.
"Elu denger! Elu cuman harus keluar dari sini dan bawa anak elu keluar dari ruangan Raisya! Ngerti gak?" Hendrik memberikan peringatan terakhir.
Hiks Hiks Hiks
Raisya menangis. Hendrik dan Ratna langsung menghampiri Raisya. Keduanya terkejut.
"Sya maafin gue berdua ya! Elu terkejut ya!" Ratna langsung memeluk Raisya. Hendrik tertunduk.
"Aku mau turun. Mau melihat tante Raisya. Dia sedih karena daddy jahat!" Michel meronta dari pangkuan Nathan. Nathan pun menurunkannya tanpa perlawanan.
visual. Hendrik. ayo pilih mana? babang Nathan Jack, atau Hendrik... bebaslah selama menghallu
__ADS_1