
Reza sedang menenangkan Nathan yang syok melihat Raisya pingsan. Reza pun menghela nafas tak mengerti harus bagaimana melihat tingkah laku Nathan.Bisa-bisa nya dia kambuh kembali. Harus dengan cara apa dia bisa disembuhkan. Pasalnya dia sangat membahayakan dan bisa saja mengancam nyawa seseorang.
Sekarang Raisya sedang diobati oleh salah satu dokter keluarga di kamar bawah. Ada sedikit sobekan di area kepalanya yang terbentur ke nakas.
"Za...bagaiamana keadaan Raisya?" Suaranya lirih terdengar menyayat hati. Nampak wajahnya yang menyedihkan.
"Baik.. dia sedang istirahat." Reza tidak mengatakan sebenarnya pada Nathan.
"Aku ingin melihatnya Za.. " Ada penyesalan dalam diri Nathan. Dia tidak tahu harus mengendalikan dirinya seperti apa. Kenapa dia mengulang lagi kesalahannya.
"Nyonya belum bisa dilihat, dia masih syok." Jawab Reza. Meski Raisya sudah siuman, kondisi. kejiwaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku.. aku... " Nathan tertunduk, menelungkupkan wajahnya di lutut.
"Aku bingung Za... kenapa aku bisa begini?" Nathan mengangkat wajahnya melihat Reza.
"Pak Nathan butuh sosok yang bisa menerima keadaan pak Nathan seutuhnya. Dengan begitu.. pak Nathan bisa mengendalikan emosi tanpa harus memaksakan kehendak pada orang lain. Apalagi bu Raisya baru kenal langsung menikah dengan anda. Dia pasti butuh waktu untuk mengenal anda. Biarkan dia dengan nyaman tinggal di sisi anda. Dengan begitu nanti juga bu Raisya perlahan-lahan bisa menerima anda." Reza memberikan saran Nathan.
"Bagaimana kalau dia tidak mau hidup dengan ku Za?" Nathan takut kehilangan Raisya. Dia masih bingung dengan apa yang ada dalam hatinya. Apa yang disebut cinta, cemburu dan takut kehilangan. Nathan tak tahu perasaan itu. Kadang perasaan biru bercampur begitu saja tanpa bisa dia kenali.
"Ya.. pak Nathan harus membiarkan dia pergi. Sebagaimana pak Nathan membiarkan Arnetta pergi dari bapak."
"Tapi... aku tak mau dia pergi Za.. Aku ingin dia ada bersamaku. Aku ingin dia memperlakukan aku sebagaimana dia memperlakukan laki-laki itu. Kenapa aku tidak bisa Za?" Nathan bingung dia mengusap wajahnya kasar.
"Saya mau bertanya, apakah selama bapak berhubungan dengan Arnetta pernah bertengkar?" Reza sedang menggali informasi untuk memberikan solusi.
"Tidak."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku selalu mengalah dengan keinginan Arnetta. Hanya yang terakhir, aku.. meninggalkannya sendirian. Karena aku baru menyadari bahwa Michel tertinggal di belakang. Aku tak bisa melanjutkan hubunganku dengan Arnetta karena pikiranku selalu bercabang. Ketika aku bersamanya aku dituntut untuk meninggalkan Michel. Tapi... aku tak bisa terus begitu. Bagaimana dengan perasaan Michel? Aku sangat mencintai anakku.
"Lalu kenapa dengan bu Raisya anda tidak bisa mengalah? Anda cenderung memaksakan keinginan diri anda?" Reza mengerutkan dahinya tak habis pikir dengan sikap Nathan yang seperti itu. Bahkan terapi itu hanya berlalu pada Arnetta tidak pada Raisya.
Nathan melihat pada Reza.
"Aku tak tahu... kenapa aku tidak bisa mengalah padanya."
"Hhmm.. anda mungkin harus mencobanya."
"Aku... sudah mencobanya Za.. tapi dadaku terasa sesak. Aku seperti menderita jika harus menahannya."
"Berarti jika anda tak bisa menahan hal itu, anda harus menikah dengan wanita yang seperti Arnetta."
"Apa?" Nathan seperti tidak menerima saran Reza harus menikah dengan Arnetta.
"Tidak.. aku tidak mau melepaskannya." Nathan memalingkan muka dari Reza.
"Hanya itu jalan satu-satunya pak Nathan. Jika anda membahayakan bu Raisya maka anda harus melepaskannya."
"Aku tidak bisa melepaskannya bahkan aku tidak rela dia lepas dariku." Nathan berbalik menatap Reza dingin.
"Saya tidak bisa membantu Anda pak." Reza tak mau lagi memaksakan kehendak, takut Nathan malah membahayakan dirinya juga.
"Tolong aku Za..!"
"Saya belum ada solusi pak!"
Nathan terdiam. Bagaimana caranya agar dia tak menyakiti Raisya lagi. Tapi dia tak mau melepaskannya. Bisakah dirinya mencoba untuk memperlakukan seperti Arnetta?
__ADS_1
Sementara di bawah Bi Siti sedang menemani Raisya yang sudah selesai diobati.
Raisya sedang merenung. Ketika bangun dari pingsan dia sempat syok. Pasalnya ketika dia bangun entah kenapa semua bayangan masa lalunya tiba-tiba bisa diingatnya. Sampai saat ketika Nathan ingin memper*** pun dia ingat.
Raisya masih bingung. Kenapa dia bisa lupa hal itu. Dan yang menjadi kebingungannya kenapa dia menerima pernikahan dengan Nathan. Seandainya dia mengingat hal itu mungkin saat ini dia tidak berada disini dan menjadi istrinya Nathan.
"Nyonya.. " Bi Siti yang melihat Raisya melamun agak mengkhawatirkannya.
"Iya.. " Raisya menoleh ke bi Siti.
"Nyonya makan dulu! Ini sudah saya buatkan bubur." Bi Siti memperlihatkan mangkok yang sudah berisi bubur dengan ayam dan sayuran.
"Hhmm iya bi." Raisya mengambil mangkok itu perlahan. Kepalanya masih berdenyut dan dia merasakan pusing. Dia harus memakan bubur itu agar bisa makan obat.
"Bi.. " Raisya menoleh ke arah bi Siti yang setia duduk di tepian kasur. Hari ini bi Siti ingin menemani Raisya karena pekerjaannya pun tidak terlalu banyak. Bi Siti mengkhawatirkan keadaan Raisya. Kejadian beberapa tahun yang lalu menyisakan trauma pada semua orang yang melihat kejadian itu. Wanita paruh baya dengan perawakan subur itu tak mau ada lagi malapetaka di rumah itu.
"Iya nyonya." Bi Siti serius melihat Raisya.
"Bagaiamana keadaan pak Nathan?" Raisya penasaran dengan kondisi Nathan.
"Dokter sudah memberikan obat penenang. Di bisa tidur dengan nyenyak tadi malam. Tadi bibi lihat pak Nathan sudah bangun. Sekarang sedang ditemani ngobrol sama pak Reza." Terang bi Siti mengabarkan kondisi Nathan.
"Saya tidak mengenal pak Nathan banyak bi. Pernikahan kami atas dasar dijodohkan. Bibi mau tidak menceritakan tentang pak Nathan?" Raisya tak ingin seorang pun tahu siapa dirinya sebenarnya dan dia berniat pura-pura amnesia seperti sebelumnya.
"Bibi sudah lama ikut dengan keluarga pak Robert. Pak Nathan memang besar di Amerika. Bibi hanya satu dua kali bertemu dengan pak Nathan. Sejak kecil pak Nathan memang agak pendiam tidak seperti pak Adam dan juga pak Jacky. Ketika pak Nathan membeli rumah ini, bibi disuruh pak Robert untuk menjadi ART disini. Bibi juga hanya mengenal sekilas-sekilas nyonya. Semenjak bibi tinggal disini bibi lihat pak Nathan memang orangnya keras. Dia kalau bicara memang begitu nyonya, irit dan dingin. Buat saya sih tak masalah. Bibi juga belum pernah dimarahi sama pak Nathan."
"Walau begitu dia seorang ayah yang baik. Dia sangat menyayangi nona Michel. Setahu bibi pak Nathan akan marah besar kalau hal itu berkaitan dengan non Michel."
"Sampai satu waktu non Michel menyukai pegawainya pak Nathan yang bernama sama kaya nyonya. Dia pernah tinggal disini."
__ADS_1