
Nathan agak canggung karena harus merapatkan tubuhnya dengan Raisya lalu dituntut berfose mesra di depan kamera. Bahkan tubuhnya harus bergaya dengan tampilan Raisya yang sensual benar-benar membuat naluri laki-laki mencuat ke langit-langit. Aliran-aliran listrik saling menghubungkan menjalar cepat melalui urat-urat di tubuhnya menimbulkan tegangan tinggi. Tapi dia akhirnya menyamakan diri menyeimbangi gaya Raisya walau tidak tampil relax.
"Cukup!" Nathan menghentikan aksi pemotretannya. Rupanya dia tidak mau kecanggungan terlihat jelas di depan kamera.
Beberapa jepretan memang sudah berhasil diambil. Sang fotografer pun menghentikan aksinya setelah Nathan meminta untuk tidak memfoto lagi.
"Terimakasih." Nathan tidak mau Sang fotografer tadi salah paham atas kecanggungan tadi di depan kamera.
"Sama-sama. Kalian pasangan serasi. Mau lihat hasilnya?" Sang fotografer menawarkan pada klien untuk melihat hasil jepretannya. Itu sudah biasa dilakukan apalagi ini pelanggan VIP tentu servisnya harus lebih baik.
Bukan hanya itu saja Sang fotografer tahu keduanya tampil bagus di depan kamera sehingga menghasilkan karya foto yang fotogenic walaupun gayanya Nathan tidak seluwes Raisya. Ya masih lumayan bagus apalagi didukung perawakan atletia juga tampang yang rupawan.
Beny mundur ke belakang melihat mereka turun dari panggung pemotretan menuju meja kerja Sang fotografer. Ketiga melihat hasil jepretannya lewat layar komputer.
Beny mengusap wajahnya melihat ketiga nya memunggungi. Jantungnya kian berdetak tidak karuan disuguhkan pemandangan indah, kulit mulus bercahaya yang memperlihatkan lekukan organ tubuh bagian belakang seorang wanita, walaupun hanya menatap dari kejauhan.
Belahan bajunya yang sampai ke pinggang mirip hantu sunor bolong membuat Beny ketakutan. Bukan takut dengan hantu malah dia takut dengan iman dan imunnya yang naik turun.
Setelah puas melihat hasil jepretannya. Nathan meraih pinggang Raisya lalu bersalaman dan meninggalkan tempat itu menuju satu hotel mewah yang telah disewa keluarga Alberto untuk merayakan pernikahan Jacky juga Sherly.
Mobil Mercy yang ditumpangi Satu keluarga itu melaju dengan anggun menuju tempat dimana perayaan mewah itu digelar.
Semua orang datang dengan bersuka cita. Beberapa tamu kolega juga saudara telah berkumpul dalam ruangan itu dengan penampilan terbaiknya.
Ada yang menjadikan moment itu sebagai pertemuan sosialita, ada juga sebagai ajang bisnis bagi para pebisnis. Karena jarang-jarang sekali mereka bisa bertemu pada satu wakt yang bersamaan.
Benar saja. Malam ini semua mata memandang ke arah Raisya juga Nathan. Selain mereka adalah salah satu anggota keluarga Alberto mereka berhasil menarik semua mata berdecak kagum dengan penampilannya.
__ADS_1
Tentu tuan Robert adalah orang pertama yang mengharapkan keduanya hadir. Selain ingin memperkenalkan mereka berdua ke semua tamu, dia pun ingin Sang pengantin tidak berlarur-larut mengenang masa lalu.
"Gandeng tanganku! Tunjukkan kemesraan kita!" Nathan yang berbisik di telinga Raisya. Raisya menoleh pada laki-laki yang telah menggandengnya. Nathan tersenyum palsu dan Raisya membalas dengan senyuman serupa. Keduanya berjalan bergandengan mengembangkan senyuman palsu kemesraan ke para tamu.
"Michel..mari kita ucapkan selamat pada momy." Nathan berjongkok berbicara pada Michel.
Michel mengangguk. Tidak ada raut wajah senang ataupun bahagia di roman Michel. Berbeda halnya ketika Nathan menikah. Michel lah yang paling bahagia dengan acara pernikahan itu. Pernikahan yang selalu dicita-citakan anak kecil itu.
Mereka berjalan menuju altar Sang pengantin untuk mengucapkan selamat.
"Selamat bahagia." Nathan pura-pura ikut bahagia mengucapkan selamat sambil tersenyum. Walau bagaimana pun Nathan sebenarnya belum bisa menghapus dengan benar kenangan tentang Sherly di hatinya.
Jacky yang mendapatkan selamat dari Nathan malah merasa dia seperti mengejeknya. Nathan seperti menjadi pemenang dalam urusan perebutan cinta. Jacky menekuk wajah tak senang tanpa membalas uluran tangan Nathan yang masih menggantung. Nathan menarik kembali tangannya lalu beralih ke Sherly dengan memegang bahu Michel sedikit mendorong mendekati Sherly.
"Selamat ya uncle..momy." Ucap Michel dengan raut wajah datarnya. Walaupun sakit hati Michel tetap harus menghormati keputusan orang dewasa untuk memilih jalan hidupnya masing-masing.
"Terima kasih." Sherly tak berani menatap langsung Michel juga Nathan malah sepasang bolanya sedang melihat inten Raisya yang sedang berhadapan dengan Jacky.
Bukannya menyambut tangannya Raisya, Jacky malah menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat.
"I love u" Bisikan lembut dari bibirnya langsung mengibar di telinga Raisya. Untungnya karena pelan, hanya Raisya saja yang mendengar bisikan itu. Raisya segera mendorong Jacky agar tidak menjadi pusat perhatian.
Semua yang berada di altar sontak melihat interaksi mereka. Ada yang kaget, heran juga memanas. Reaksi yang berbeda ditimbulkan sesuai dengan rasa yang ada dalam hatinya.
Raisya tersenyum tipis lalu segera melangkah mendekati Sherly dan memeluk Sherly hangat agar seimbang. Kalau hanya Jacky yang memeluk, maka dengan cerdas sekarang Raisya yang memaksa memeluk Sherly agar menghapus kecurigaan banyak orang.
"Selamat ya.. semoga kalian bahagia sampai tua." Ucapan tulus diucapkan Raisya pada Sherly. Bagaimana pun dia adalah mantan kekasih Nathan yang mungkin saja berat untuk dilepaskan Nathan sampai Raisya menjadi tumbal atas hubungannya dengan mereka.
__ADS_1
"Terimakasih.. Kalian juga semoga bahagia. Titip Michel ya!" Sherly meski dia tidak mau mengakui Michel selayaknya seorang ibu, tetap saja naluri keibuannya akan muncul.
"Iya." Raisya mengangguk pelan dengan tersenyum.
Ada kebencian yang besar yang masih tertanam di dada Sherly melihat dua orang beda umur yang telah menjadi bayangan hidupnya. Nathan dan Michel tak mengambil hati atas sikap Jacky maupun Sherly. Dia yakin kehadiran Raisya, mampu membalas sakit hatinya pada sepasang pengantin yang seharusnya mereka gembira dengan pernikahannya.
Kini sorotan publik sedang tertuju ke atas altar, mengamati keluarga Alberto sebagai bahan ghibah yang asik untuk diperbincangkan.
Nathan, Raisya juga Michel turun dari atas altar setelah mengucapkan selamat.
"Michel.. mau makan?" Raisya langsung menuntun tangan Michel. Dia tahu anak itu kondisi hatinya sedang tidak baik.
"Mmm." Michel mengangguk.
"Hayuu sama bunda. Kamu mau apa?" Raisya tersenyum menatap Michel.
Nathan yang ada di samping Raisya hatinya merasa terenyuh melihat sikapnya.
"Kalian silahkan makan duluan! Aku mau bicara dulu sama kak Adam." Nathan yang melihat Adam sendirian ingin menyapanya.
"Iya dad.. nanti Michel ke sana." Michel dan Raisya berjalan menuju meja makanan untuk memilih menu.
"Hei.. apa kabar kak?" Nathan langsung bersalaman dan memeluknya.
"Mmm.. Baik. Istrimu?" Adam menunjuk pada Raisya dari kejauhan.
"Ya." Nathan memperhatikan Raisya.
__ADS_1
"Kenapa tidak memberitahu aku waktu kalian menikah?" Adam kecewa karena tidak diundang ke pernikahan Nathan.
"Sorry. Acaranya terlalu mendadak."