Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Rindu yang tak habis oleh waktu.


__ADS_3

"Kamu kenapa datang kesini?" Setelah Michel tenang, tak lupa Raisya menanyakan maksud kedatangannya kesini.


"Kayanya takdir bun." Jawab Michel setelah meneguk jus jeruk dingin yang diberikan pelayan, setelah tadi Raisya menyuruhnya membuatkan minuman untuk Michel.


"Iya.. bunda tahu. Tapi bunda pengen tahu cerita awalnya bagaimana?" Michel kembali memeluk Raisya.


"Mmm... temen-temen Michel mengajak Michel belanja di toko bunda." Jawab Michel sambil mendongak.


"Mmm... " Jawab Raisya sedang menerka apa. yang dipikirkan Michel. Mungkin kedatangan Michel awalnya hanya mau berbelanja tapi tanpa sengaja memergoki Raisya akhirnya dia jadi yahu keberadaannya.


"Terus kamu sekarang sendirian mau apa?" Raisya membiarkan Michel bergelayut manja di dadanya.


"Ya ampun bunda... aku lupa." Seketika itu juga Michel melepaskan pelukannya lalu mendongak melihat Raisya. Raisya pun menautkan alisnya melihat heran pada Michel.


"Aku... " Suara Michel menggantung.


drett


dret


dret


Getaran dari handphonenya memberitahu si pemilik bahwa ada panggilan.


"Sebentar ya bun.. " Michel melihat identitas pemangil di layar handphone.


"Bun.. dari daddy.. " Michel sepertinya bingung untuk mengangkat panggilan itu. Dia memberitahu Raisya, dia tak ingin perasaan Raisya menjadi berubah karena panggilan itu.


"Michel... sebaiknya kamu pulang. Jangan katakan apapun tentang bunda jika kamu masih sayang sama bunda." Rupanya Raisya tak ingin Nathan mengetahui keberadaannya. Rasanya sulit untuk memaafkan laki-laki itu. Raisya tak ingin menyamaratakan perasaan bencinya pada Michel.


"Mmm... baik bun... aku akan jaga rahasia ini. Tapi janji bun.. jangan tinggalkan Michel lagi." Michel langsung memeluk Raisya kembali.


"Mmm... jangan bilang ke daddy kamu bertemu bunda ya! Sekarang kamu cuci muka ya! Mata kamu kelihatan sembab, nanti daddy curiga." Raisya melepaskan pelukannya dan melihat muka Michel.


"Bun.. aku mau beli baju buat pergi ke acara daddy. Bisa bunda bantu aku memilihkannya?" Michel tak ingin ayahnya menaruh curiga jika dia habis bertemu Raisya dengan penampilan itu.


"Ya udah kamu cuci muka dulu. Nanti bunda bantu kamu." Raisya menarik tangan Michel keluar dari ruangannya lalu naik ke lantai dua. Michel menurut mengikuti Raisya. Dia malah senang ketika Raisya memperlakukan dirinya seperti itu.

__ADS_1


Mata Michel mengedar memperhatikan lantai dua dari ruko yang baru saja diinjaknya. Semua tertata rapih meski harus berdesakan dengan banyak barang. Raisya membawanya ke satu ruangan yang mirip kamar tidur.


"Disana toiletnya. Kamu cuci muka dulu!" Raisya menunjukkan pada Michel letak toilet yang ada kamar itu.


"Iya bun." Tanpa menunggu lama Michel langsung masuk kamar mandi dan mencuci mukanya agar tidak terlihat sembab habis menangis.


Raisya memilihkan bajunya kira-kira cocok di badan Michel. Walau dia masih menginjak umur 12 tahun tapi badannya boros, hampir sebanding dengan badan Raisya yang ukuran standar orang asia.


"Bun.. " Michel yang baru saja selesai mencuci mukanya melihat pada Raisya.


"Ini pakai sama kamu... kayanya cocok. Di toko bunda merk sama bahannya biasa-biasa. Kalau mau dipakai ke acara resmi takut tidak cocok." Ucap Raisya sambil menempelkan baju itu pada badan Michel, sedang mengkura-kira ukuran Michel.


"Bunda... terimakasih. Bunda sudah mau mengingat aku." Michel kembali memeluk Raisya. Sepertinya tidak habis-habisnya rasa rindu Mit pada Raisya. Dia sangat takut kehilangan lagi orang yang benar-benar dia cintai. Gegara perbuatan ayahnya Raisya harus berpisah dari dirinya.


"Sudah... nanti malah menangis lagi." Raisya memegang bahu Michel agar melepaskan pelukannya.


"Mmm... " Benar saja Michel menyeka lagi ujung kelopak matanya dengan jari-jarinya.


"Nih coba ganti bajunya!" Raisya menyodorkan satu stel baju miliknya pada Michel.


"Ya.. mesti tidak baru, tapi sepertinya cocok dipakai kamu." Raisya tersenyum melihat aura wajah Michel yang sepertinya bahagia menerima pemberiannya.


"Wah.. aku malah seneng bu. Terimakasih bun. Aku mau ganti dulu ya bun!" Michel langsung menggantikan baju sekolah nya dengan baju pemberian Raisya.


"Wah pas bangettt... bunda lihat!" Michel kegirangan. Dia memperlihatkan pakaian yang sudah menempel di badannya.


"Syukurlah!" Raisya pun ikut senang bisa memberikan bajunya pada Michel.


"Terimakasih ya bun! Aku bahagia sekali." Ucap Michel kembali memeluk Raisya sambil memejamkan matanya, menikmati setiap harum yang menempel pada badan Raisya. Ya harum yang sama yang dirindukannya ketika dirinya masih kecil. Memori dalam pikirannya sekarang sedang mundur ke belakang mencari identitas orang yang sudah lama berbaring lama di kuburan.


Michel melonggarkan pelukannya.


"Bun.. bunda pakai parfum apa? Kok wangi banget." Ucap Michel penasaran.


"Wah.. parfum bunda? Hhmm... kenapa gitu?" Raisya agak heran dengan pertanyaan Michel.


"Aku mau pakai parfum yang sama dengan bunda." Jawab Michel asal.

__ADS_1


"Ah... kamu kan masih abg. Parfumnya kurang cocok untuk usia kamu Michel... " Raisya langsung membawa alat-alat kosmetik untuk siap-siap mendandani Michel.


"Wanginya aku suka bun... aku pengen nyoba ya bun... minta dikit... aja!" Michel sedang merayu Raisya agar memberikan dirinya parfum miliknya.


"Iya udah.. sini bunda bedain dulu kamu nya, biar tidak pucet!" Ucap Raisya sambil menarik Michel duduk di tepian kasur.


Michel menurut sambil tersenyum lebar karena senang sekali didandani Raisya. Kali pertama dia diperlakukan seperti ini, layaknya anak-anak oleh ibunya.


Raisya membuka kerudung Michel lalu mendandani tipis Michel dengan alat kosmetik miliknya yang tidak terlalu keras untuk usia 12 tahun. Kedua perempuan ini kini seperti merasakan huporia di dalam hatinya. Sesekali mereka tersenyum tanpa judul hanya saling berbicara dengan pikirannya masing-masing.


"Selesai! Tinggal memakai kerudung." Raisya memakaikan kerudung miliknya agar serasi dengan baju yang dipakai Michel.


"Kamu boleh bercermin!" Michel langsung berdiri dan mendekati cermin yang berdiri di dinding kamar itu.


"Ihh... bunda.. aku suka banget." Michel tersenyum melihat penampilannya yang berubah dari biasanya.


"Kamu mau pergi ke sana sekarang?" Raisya mendekati Michel.


"Iya bun.. "


"Ayo.. kita turun. Bunda mau melanjutkan pekerjaan bunda." Raisya mendorong bahu Michel keluar dari kamarnya.


"Bun.. "


"Apa boleh kapan-kapan Michel kembali kesini?" Michel melihat wajah Raisya.


"Mmm... boleh. Tapi dengan satu syarat."


"Apa bun?"


"Kamu tak boleh memberitahu daddy kamu. Bunda tak ingin daddy kamu tahu bunda ada disini."


"Iya bun. Michel janji." Michel tidak ingin kehilangan lagi Raisya. Apapun yang diminta perempuan itu, dia berusaha memenuhinya.


"Sekarang pergilah! Hati-hati di jalan." Ucap Michel begitu sampai di lantai satu.


"Iya bun.. Terima kasih sudah mau baik sama Michel. Semoga bunda bisa memaafkan semua kesalahan Michel sama daddy suatu saat." Ucap. Michel penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2