
"Kenapa bos? Kok kaya kertas lipat yang habis diremas?" Tedi heran dengan wajah Baron yang kusut tak biasanya.
"Ssst... jangan sewot. Dia habis patah hati. Wk. wk.. wk.. " Ramos menertawakan Baron yang kini sudah ditinggalkan Raisya dan Jason.
"Maksudnya?" Tedi sama gesreknya sama Ramos.
"Jauh-jauh dia datang ke Kotabaru ternyata hanya untuk bawain jodohnya orang. Wk.. wk.. wk.. " Ramos kembali tertawa. Kali ini Baron melemparkan bantal yang ada ke arah sepupunya yang tak tahu diri itu.
"Weis.. marah. Lagian.. tahu suka kenapa gak nembak. Jadi ditembak duluan. Kalau sudah begini urusannya kan lain lagi." Untungnya Ramos sigap menangkap bantal yang dilemparkan Baron itu sehingga tidak mengenai gelas yang berada di atas meja.
"Eh.. kok aku ketinggalan info. Ada apa nih? Kok kaya kambing congek." Tedi masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Ramos.
"Kamu emang cocok jadi kambing congek. Kalau tidak??? Bos kamu yang sedang ngambeukan bakal melampiaskan sama kamu." Ramos malah semakin menggoda Baron.
"Bisa gak kamu diam?" Baron akhirnya mengeluarkan suara setelah Ramos sedari tadi menggodanya.
"Oke.. oke aku diam." Jawab Ramos tak mau Baron bertambah kesal.
Tedi memajukan dagunya pada Ramos karena penasaran dengan kondisi emosi sang bos. Tapi Ramos memilih memasangkan jarinya di bibir menandakan dia tak mau lagi bicara.
Di ruangan itu kini hening setelah Baron menghentikan candaan Ramos padanya. Di satu sisi pikiran Baron benar-benar kacau mendengar Jason dan Raisya mengambil cuti untuk menikah. Dia tak menyangka dua orang asing itu secepat kilat memutuskan untuk menikah. Setelah tahu alasannya, dia baru sadar ternyata mungkin ada benarnya kata Ramos. Dia hanya mengantarkan jodohnya Jason ke Kotabaru. Karena tanpa sepengetahuan banyak orang keduanya pernah bertemu sejak mereka masih berseragam abu-abu.
*********
Raisya dan Jason kini sudah berada di kota Bandung. Keduanya sudah meminta izin pada Baron untuk mengambil cuti.
"Kamu capek gak Ra?" Tanya Jason pada Raisya. Mereka langsung mengambil penerbangan ke Bandung untuk mempercepat perjalanan.
"Mmm... kenapa? Kamu mau istirahat dulu?" Raisya balik bertanya.
__ADS_1
"Kalau kamu capek, kita ngambil hotel saja dulu. Besok pagi kita pergi ke rumahmu agar bisa fresh." Usul Jason pada Raisya.
Begitu mendengar kata hotel, Raisya seperti masih trauma.
"Aku... ingin istirahat di rumah saja. Tapi kalau kamu ingin beristirahat di hotel silahkan saja! Aku sudah tidak sabar ingin ketemu mama." Raisya mencari alasan yang bisa diterima Jason.
"Mmm... Baiklah. Kalau begitu aku ikut saja denganmu. Nanti istirahat nya di rumah kamu saja deh. Jadi gak sabara juga ketemuan sama keluarga kamu." Jason mengalah. Dia memilih untuk mengikuti Raisya. Meski keinginannya adalah ingin beristirahat sejenak, tapi demi perempuan yang dicintainya dia ikut keinginan Raisya.
Tak lama kemudian keduanya sampai di sebuah rumah yang lumayan bagus, walaupun tidak sebesar rumah Jason ataupun rumah keluarga Robert. Tapi rumah ibunya Raisya terbilang paling bagus diantara para tetangganya.
"Assalamu'alaikum... " Raisya membuka pintu yang kebetulan tidak di kunci.
"Waalaikumsalam... " Suara ibunya Raisya nyaring menyambut. Dia sudah tahu bahwa Raisya akan datang, tapi tidak memberitahu dengan siapa dia akan datang. Dikira ibunya Raisya datang dengan anak-anak seperti biasa.
"Mari masuk!" Raisya mengajak Jason yang masih menunggu dipersilahkan di belakang Raisya.
"Terimakasih." Ucap Jason dengan jantung yang tidak karu-karuan begitu langsung berhadapan dengan ibunya Raisya.
"Ma.. kenalkan ini Jason. Jason ini mama aku." Raisya mengenalkan keduanya sebelum ibunya bertanya.
"Jason.. ma." Jason mencium tangan ibunya Raisya penuh hormat.
Ibunya Raisya terdiam dan masih berdiri kaku melihat siapa laki-laki yang dibawa Raisya saat ini.
"Ma.. " Raisya menegur ibunya yang masih melongo seperti kehilangan kesadaran.
"Mmm... eh silahkan duduk!" Akhirnya ibunya Raisya sadar bahwa dia belum mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Jason, Raisya juga ibunya duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian seorang art menyuguhkan air juga camilan ke atas meja untuk menyuguhi tamu yang baru saja datang.
__ADS_1
Ruang tamu hening. Ketiganya serasa kaku untuk memulai bicara.
"Eh silahkan diminum airnya! Kalian pasti capek dan haus." Ibunya Raisya tiba-tiba kikuk harus bersikap pada orang yang baru saja datang dengan Raisya.
"Terimakasih.. " Jason tidak menyia-nyiakan tawaran calon mertuanya yang menawarinya minum. Selain tenggorokannya kering dia pun membutuhkan air untuk mengatasi rasa geroginya.
Raisya pun ikut mengambil air dan meneguknya.
"Adik-adik pada kemana ma?" Tanya Raisya agak heran rumahnya agak sepi.
"Mmm..mereka lagi pada keluar." Jawab ibunya dengan senyum yang semu dipaksakan. Ada hal yang sedang dia tutupi sekarang. Ibunya Raisya takut apa yang sedang disembunyikannya ketahuan oleh Raisya. Di samping deg-deg an takut ketahuan, dia pun merasa bingung kenapa Raisya membawa laki-laki asing ke rumahnya di saat yang tidak tepat.
"Oh.. " Raisya mengangguk tidak mencurigai apapun dengan apa yang sedang disembunyikan ibunya sekarang ini.
"Oh iya ma.. maaf Raisya tidak memberitahu mama sebelumnya. Raisya mohon maaf kalau kedatangan Jason mengagetkan mama. Sebenarnya maksud kedatangan Jason ke rumah ingin berkenalan dengan keluarga kita sekaligus... ingin melamar Raisya ma." Raisya tidak bisa menunggu sampai nanti khawatir ibunya bertanya lebih dulu.
"Apa???" Suara ibunya Raisya terdengar kaget mendengar pernyataan Raisya tentang siapa dan maksud dari laki-laki yang berada di sampingnya itu.
"Betul ma.. kedatangan saya kesini.. ingin mengenal jauh keluarga Raisya dan sekaligus ingin melamar Raisya untuk menjadi istri saya." Jason menimpali. Keringat dingin sejak tadi sudah mengucur di seluruh badannya menunggu momen tepat untuk mengungkapkan maksud kedatangannya pada ibunya Raisya.
Ibunya Raisya terdiam sambil bingung.
"Ma.. " Raisya kembali menegur ibunya yang nampak kebingungan.
"Eh iya.. ? Sejak kapan kalian saling mengenal. Dan apa kalian sudah yakin akan melangkah ke jenjang serius. Apakah nak Jason tahu, bagaimana keadaan Raisya sebenarnya?" Ada beberapa kekhawatiran yang dirasakan ibunya Raisya begitu mendengar maksud kedatangan Jason sekarang. Selain hal lain yang kini sedang disembunyikannya.
"Iya ma.. Saya sudah tahu. Bahwa Raisya seorang janda beranak dua. Dan saya menerima Raisya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya menyukainya apa adanya. Dan InsyaAllah. saya serius ingin membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah dengan Raisya tanpa mempersoalkan status Raisya saat ini." Jason mencoba meyakinkan ibunya Raisya agar dia merestui keinginan dirinya mempersunting Raisya.
"Mmm.. mama terserah kalian saja yang akan menjalani pernikahan. Cuman mama takut kalau Raisya mengalami kegagalan lagi. Mama tak ingin anak mama menderita seperti pernikahan yang sebelumnya. Apalagi... " Suara ibunya tercekat begitu melihat seseorang sudah berada di depan pintu.
__ADS_1