Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Aku tak mau dia hadir


__ADS_3

Sepasang mata tengah memperhatikan suami istri yang tengah berjalan ke ruang obgyn.


Tadinya dia akan masuk ke ruang kerjanya, tapi niatnya dibatalkan demi keinginan tahunya tentang dua orang itu yang menyita perhatiannya.


Entah kenapa meski dia statusnya sudah menikah, ada rasa tidak rela jika perempuan itu harus dimiliki orang lain. Ada rasa sakit di dadanya melihat adegan mesra yang diperlihatkan sang suami pada istrinya. Itu seperti jarum yang menusuk-nusuk hatinya.


"Selamat siang tuan Jacky, nyonya Raisya silahkan duduk!" Seorang dokter obgyn yang telah mempunyai janji temu dengan keduanya begitu ramah menyambut.


"Terimakasih dok!" Keduanya duduk berhadapan dengan sang dokter yang hanya terhalang oleh meja kerjanya.


"Silahkan ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter silih berganti melihat keduanya.


Jacky menggenggam tangan Raisya dia tahu ini adalah pukulan berat bagi istrinya. Untuk memberi tahu niatnya juga keinginannya itu sangatlah tidak mudah. Keduanya mengambil nafas sejenak untuk menenangkan hati. Jacky melihat ke arah istrinya, ditatap wajah istrinya yang terlihat mendung. Dia tahu dirinya harus lebih kuat dari Raisya.


"Begini dok! Saya dan istri ingin memeriksakan kandungan istri saya. Dan sebelumnya kami berencana untuk menunda dulu mempunyai anak. Apakah dokter bisa membantu kami untuk program penundaan?" Jacky mengatur kata demi kebaikan dan menyampaikan tujuannya pada dokter.


"Oh.. begitu. Baik. Saya mengerti." Dokter mengangguk.


"Kapan nyonya terakhir haid?" Tanya dokter melihat ke arah Raisya.


"Mm.. sekitar tiga minggu yang lalu." Jawab Raisya sambil mengingat-ingat.


"Baik. Ada tidak minum pil KB kan?" Tanya Dokter kembali melihat Raisya.


Raisya mengangguk.


"Baik. Kita periksa dulu yuk! Silahkan nyonya berbaring disini!" Dokter mengajak Raisya untuk berbaring untuk menjalani serangkaian periksaan lewat USG terlebih dahulu.


Raisya menurut patuh mengikuti arahan dokter.


"Mmm... Kita periksa dulu secara USG ya.. " Ujar dokter sambil mengoleskan gel di bagian bawah perut Raisya. Lalu dia menatap tajam ke arah layar monitor. Mata sang dokter begitu serius, sedangkan tangannya menggerakkan alat di sekitar bawah perut Raisya yang sudah dilumuri gel.

__ADS_1


"Sepertinya belum jelas ya nyonya, tuan." Dokter menghentikan gerakan alat di perut Raisya karena sang dokter belum melihat dengan jelas isi dalam rahim Raisya.


"Coba kita cek air seni ya! Biasanya tanda-tanda kenaikan HSG kandungan air seni lebih cepat akurat jika nyonya sudah menunjukkan kehamilan.


Dokter memberikan alat tespeck pada Raisya juga botol kecil untuk menampungnya.


Seorang perawat sekaligus asisten dokter Obgyn membantu menunjukkan pada Raisya untuk ke toilet.


Sepuluh menit kemudian Raisya keluar dari toilet dengan membawa alat tespeck dan botol dan memberikannya pada dokter.


"Bagaimana dok?" Dokter melihat alat itu.


"Maaf saya akan membawa sample ke lab ya! Biar diuji juga di sana. Anda bisa menunggu kan?" Dokter melihat pada keduanya.


Jacky dan Raisya mengangguk.


Dokter pergi dari ruangannya dengan membawa sample air seni Raisya yang ada di botol kecil ke laboratorium.


"Tenang, aku akan bersama kamu." Jacky tersenyum meyakinkan Raisya.


Di lain tempat, Dokter Ferdi mengikuti Dokter Mely ke laboratorium.


"Eh.. apa kabar dokter Fer?" Dokter Mely menoleh ke belakang. Dokter Ferdi yang sudah resmi diangkat menjadi wakil direktur namanya semakin terkenal. Semenjak identitas dirinya ditemukan dia langsung menemui direktur rumah sakit dan menceritakan perihal asal-usulnya. Setelah dilakukan serangkaian test, semuanya akurat. Direktur rumah sakit sekaligus pemilik, mengangkat dokter Ferdi sebagai ahli waris dan mengangkatnya sebagai wakil direktur rumah sakit.


"Baik. Kabarku baik. Aku lihat ada pasien VIP ya?" Tanya Dokter Ferdi penuh selidik. Dia sengaja mendekati dokter Mely ingin tahu apa yang sedang diperiksa oleh sepasang suami istri itu.


"Mmm." Dokter Mely menjawab singkat.


"Mari dokter Ferdi." Dokter Mely meninggalkan dokter Ferdi di laboratorium setelah dokter Mely mendapatkan hasil yang diinginkan.


"Iya." Jawab dokter Ferdi. Kini pikirannya semakin meluas memikirkan bagaimana caranya untuk mengetahui apa yang sedang mereka konsultasikan. Dia mendadak ingin tahu apa yang terjadi dengan Raisya karena sesuatu yang telah diperbuatnya.

__ADS_1


Aku baca rekam medisnya saja nanti. Mungkin aku bisa tahu apa yang sedang mereka konsultasikan. Entah kenapa aku belum bisa melupakanmu. Apalagi setelah kejadian itu. Kamu seperti candu bagiku.


Dokter Ferdi bergumam sendiri. Dia melangkah pergi menjauhi laboratorium setelah tidak ada lagi kepentingannya di sana. Dan kini masuk ke ruang kerjanya. Dari dalam ruang kerjanya dia bisa membuka catatan semua rekam medis para pasien. Dengan kekuasaannya sekarang, dia bisa membuka password rumah sakit dan mengaksesnya dengan bebas.


Dokter Mely masuk kembali ke ruang obgyn dan berbicara dengan sepasang suami istri yang sudah menjadi pelanggan VIP di rumah sakit itu.


"Ini hasil dari laboratorium tuan Jacky, nyonya Raisya. Hasilnya menunjukan nyonya sudah mengandung meski usia janinnya masih terbilang muda. Dari hasil laboratorium menunjukan hasil HSG pasien lebih tinggi. Ya bisa dikatakan bahwa nyonya sudah positif hamil." Dokter Mely mengatakan hasil dari pemeriksaannya dari laboratorium.


Deg


Raisya langsung gelisah. Dia tahu kalau kehamilannya ini adalah bukan hasil dari suaminya, melainkan karena per**** waktu itu.


"Aku gak mau hami Jack.. " Tangannya langsung bergetar hebat. Dia menolak kehamilannya. Dia tak mau rahimnya mengandung anak yang bukan dari suaminya.


"Tenang sayang.. Tenang!" Jacky menenangkan Raisya. Dia tahu keadaan hati Raisya pasti sedang hancur saat ini. Seharusnya dia menikmati manisnya pernikahan, malah sekarang dikejutkan dengan kehamilan yang tak diinginkannya.


Jacky sebagai laki-laki normal pun merasa kecewa, kesal dan marah. Tapi dia berusaha menyembunyikan itu semua demi orang yang selama ini dia cintai. Kehamilannya Raisya memang bukan kehendaknya, tapi tetap saja sebagai laki-laki dia merasa tak rela jika istrinya sudah direnggut kehormatannya dengan cara asusila.


Dokter melihat keduanya. Terlihat jelas di wajah mereka wajah-wajah gusar.


"Maaf.. jadi tuan Jacky dan nyonya Raisya ingin bagaimana sekarang?" Dokter Mely harus tahu dulu keinginan sang pasien.


"Saya ingin mengugurkan kandungan ini dok!" Raisya dengan bibir bergetar langsung menjawab.


Jacky melihat wajah Raisya yang sudah hampir menangis.


"Mmm... apa mau dipikirkan kembali sebelum mengambil keputusan itu?" Dokter Mely sebagai dokter Obgyn memberikan saran terbaik bagi sepasang suami istri jangan sampai menyesal.


"Saya tidak mau hamil dok!" Airmata Raisya akhirnya jatuh. Jacky segera memeluknya. Dia mengelus lembut punggung Raisya dan segera membawa Raisya ke dadanya. Dikecupnya kening Raisya bertubi-tubi. Mata Jacky pun turut mengembun karena sedih.


Suasana berubah jadi kelabu.

__ADS_1


__ADS_2