Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Apa yang ada di hatimu?


__ADS_3

PoV Nathan


Syukur pagi ini aku bisa berangkat bekerja tanpa rengekan Michel. Dia asik memegang Handphone perempuan itu. Walau dalam hati kecilku aku merasa bersalah pada Michel karena telah membohonginya. Setidaknya aku punya waktu satu bulan untuk berpikir agar Michel bisa terlepas dariku. Bagaimana mungkin aku harus tiap hari membawanya ke kantor. Berbeda dengan ketika aku di Amerika. Michel bisa aku titipkan di tempat school khusus usia dini dengan pengawasan lebih baik. Rasanya di Indonesia aku belum menemukan school yang cocok dengan Michel.


Pagi ini aku melihat perempuan itu melintas depan mobil yang aku kendarai. Tapi kenapa harus bersama dengan Ratna staf pemasaran? Apakah mereka kenal baik?


Aku berjalan menuju lift, tapi ujung kelopak ku melihat dia pun menuju lift juga. Aku penasaran apakah dia akan berani satu lift denganku?


Ah sial si komodo pun ada disitu? Eh kenapa dengan dia? Keduanya terlihat saling menghindar.


Dia masih mematung tanpa masuk ke dalam lift sedangkan Ratna terburu-buru memasuki lift. Apakah hanya ingin terlihat olehku atau hanya sekedar ingin menyapaku?


Setelah pintu lift tertutup sebenarnya aku merasa kasihan juga. Aku berharap si komodo membawa perempuan itu nyatanya dia pun bersikap dingin. Ada hubungan apa diantara keduanya? Kemarin mereka terlihat akrab. Sekarang mereka seperti perang dingin. He nyatanya aku pun seperti begitu.


Aku harus melakukan pendekatan pada Ratna untuk mengetahui bagaimana perempuan itu. Jaga-jaga kalau Michel mengamuk dan aku tak bisa mengatasinya.


####


"Sya mau makan dikantin?" Hesti menghampiri Raisya ke kubikelnya.


"Kayanya aku pesan lewat pak boy aja deh!" Raisya melenguh sambil merentangkan kedua tangannya karena pegal.


"Beneran kamu mau disini? Mau shalat disini juga?" Hesti kembali bertanya.


"Iya deh mbak.. kayanya aku mau disini aja mbak!" Raisya menatap lemas.


"Iya fighting ya!" Hesti kembali menyemangati.


"Fighting!"


Di kantin Hesti makan bersama dengan Jacky.


Jauh di tempat para eksekutif sepasang mata sedang mengamati dua orang yang sedang berbincang.

__ADS_1


"Jack, elu gak salah ngasih tugas sama Raisya sebreg gitu?"


"Gak." Jawabnya pendek.


"Kasian juga kan dia pastinya harus ngelembur." Hesti merasa tugas yang diberikan Jacky tidak biasa dari biasanya.


"Memang seharusnya dia mengerjakan kerjaan itu. Bukannya memang dia datang ke perusahaan buat nyari kerja?" Entahlah nada bicara Jacky menjadi sinis.


"Ya Elah.. elu.. tega banget sih! Kerja sih kerja, tapi gak rodi juga kali. Lagian baru kali ini aku liat kamu sentimen sama Raisya. Jangan bilang dia bidadari elu, kalau elu gak mau dibilang kejam!"


"Ngapain sih elu ngurusin urusan gue? Lagian elu juga mau gue kasih kerjaan kaya gitu?" Protes Jacky pada Hesti.


"Kalau gue sih bakal protes. Tapi aneh, gue liat elu sama Raisya kaya ada problem Jack? Jangan bawa-bawa baper elu ke kerjaan donk! Atau kayanya elu abis ditolak Raisya ya?" Hesti menebak-nebak.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk. Jacky terbatuk-batuk tersedak makanan yang sedang dikunyah nya.


"Niih minum-minum! Elu kayanya emang ada hati sama Raisya ya? Sampai keselekan kaya gitu?" Hesti menyodorkan air minum pada Jacky.


"Udahlah.. bahas yang laen bisa gak?" Jacky agak manyun terus-terusan dicecar Hesti.


Jacky menoleh lalu kembali melihat Hesti.


"Gue gak liat si Ratna makan. Apa dia barengan sama Raisya?" Jacky malah membicarakan Ratna. Biasanya dimana ada Raisya disitu pun ada Ratna.


"Tahu kayanya mereka barengan sama si Raisya kali. Tapi.. itu siapa Jack?" Netra Hesti sedang melihat dua orang berjalan mendekati Nathan


"Oh dia asistennya Si Nathan."


"Maksud elu Nathan tuh babehnya anak bule yang kemarin sama Raisya?" Hesti melongo.


"Hhhmm."


"Kenapa dia duduk di sana?"

__ADS_1


"Aku naik dulu Hes.. " Jacky bukannya menjawab malah berdiri meninggalkan Hesti.


"Yeee.. tuh anak kenapa sih kaya PMS an gitu!" Gerutu Hesti melihat sikap Jacky agak aneh.


"Beginilah kalau jatuh cinta sama orang sekantor." Hesti bicara sendiri.


"Repot mbak.. kalau jatuh cinta sama sekantor? Coba jumlahin sama mbak, berapa cowok berapa cewek yang ada di perusahaan kita? Banyak kan? Bener repot.. hi hi hi." Tanpa diketahui Ratna tiba-tiba duduk di samping Hesti.


"Eh lu.. kaya hantu. Datang tak diundang pergi tak diantar. Tahu-tahu kaya uka-uka." Hesti agak kaget juga melihat Ratna yang sudah nenteng makan siangnya.


"Mbak masa cantik gini dibilang uka-uka sih!" Protes Ratna.


"Rasa ayam goreng masih di ruangannya mbak?" Ratna menoleh ke arah Hesti."


"Lah gak ada orangnya dibilangin rasa ayam goreng. Kalau ada bilang bebeb.. yang jelas dong jadi uka-uka atau uki-uki?" Canda Hesti sambil menahan tawa.


"Ih mbak.. hayoo bilang uka-uka atau uki-uki ntar gue telen jadi kuntilanak!" Ancam Ratna.


"Tadi sih udah mbak ajak. Lagi nugas khusyu kaya shalat jenazah." Jawab Hesti.


"Emang banyak tugas apa sih mbak?" Ratna masih penasaran.


"Biasanya sih gak terlalu numpuk. Tahu si Jacky kaya dendam sama si Raisya. Atau lagi carmuk kali sama bu Mia. Harusnya sih analisis perkembangan laba rugi dia yang ngerjain. Entahlah... kebaperan mana lagi yang harus aku dustakan." Cicit Hesti.


"Ohh.. kayanya masalah handphone deh mbak! Aku juga sih gak tahu pasti. Aku tadi cuman komunikasi lewat email. Terus aku langsung otw aja kesini karena gak kuat lapar. Abis ini aku juga ditunggu bos buat survei. Makanya aku gak sempet nemenin dia mbak." Terang Ratna.


"Maksud lu.. masalah handphone gimana?" Hesti melihat Ratna.


"Iya kan kemarin aku tuh menginap di kostan Raisya mbak. Eh tiba-tiba Jacky dateng bawa handphone I phone buat Raisya. Terus Raisya nolak gitu mbak. Alhasil mungkin mereka, ya bisa mbak lihat sendiri." Terang Ratna.


"Oh.. pantesan si Jacky baper kaya dapet PMS. Lagian kenapa si Raisya gak terima aja? Kan langsung beres." Usul Hesti.


"Wah beda prinsip mbak. Dia bukan cewek matre."

__ADS_1


"Jungkir balik sama elu ya Rat?"


"Eh mbak.. kalau cewek tuh matre memang alamiahnya begitu. Coba ngapain laki-laki banyak duit kalau gak dihabisin. Kan sayang mbak. Nabi Adam aja di surga kesepian mbak kalau gak ada siti Hawa. Jadi wajar aja kalau cewek matre. Asal jangan cowok matre mbak. Itu lain lagi melawan alam dunia. Hi hi hi." Ratna membuat alasan sambil ketawa.


__ADS_2