
"Kamu kalau bolos kerja pastinya dipotong gaji kan?" Ibunya malah memikirkan gaji Raisya ketimbang keadaan Raisya.
Raisya hanya tersenyum tipis.
"Iya mah. Doakan Raisya cepet sembuh!" Hanya itu yang bisa diucapkan Raisya pada ibunya agar ibunya tenang.
"Lalu kamu bayar darimana rumah sakit ini? Ditambah kamu ada di ruangan mewah. Ini pastinya bayar mahal kan? Giliran mamah minta uang kamu ngomongnya gak punya duit. Ini bisa kamu bayar." Ibunya Raisya terlihat kecewa. Bukannya suport mendukung kesembuhan Raisya malah mengeluh atas fasilitas rumah sakit yang diambil Raisya.
"Maaf Bu. Rumah sakitnya sudah dibayar asuransi. Bukan Raisya yang membayar." Jacky yang tidak nyaman mendengar keluhan ibunya Raisya, berbohong mengenai pembayaran rumah sakit. Ratna menyikut Jacky, karena merasa itu tidak benar.
"Diem lu!" Jacky berbisik melarang Ratna membuka mulut.
"Wah kalau asuransi Raisya bisa bayar fasilitas ini. Pastinya gaji kamu tidak 11 juta Raisya. Kamu sudah bohong sama mamah. Bapak kamu saja dapat asuransi dari pabrik kelasnya beda. Kamu pastinya juga gajinya lebih besar. Selama ini kamu bohong ya?" Ibunya Raisya malah mengomel mempermasalahkan gaji Raisya.
"Maaf bu. Untuk gaji Raisya memang segitu adanya. Gak ada hubungannya dengan fasilitas ini." Bela Jacky.
"Ah kalian sama saja. Ibu kecewa Raisya. Kalau kamu sembuh, cepat kirim sisa gaji kamu ke mamah! Jangan sampai mamah marah sama kamu."
"Iya mah!" Raisya hanya mengiyakan saja. Dalam hatinya dia pasti merasa sedih. Apalagi teman-teman nya jadi tahu sifat ibunya.
"Ya udah mamah titip Raisya ya sama kalian! Mamah lagi sibuk ngurusin yang bekerja."
"Iya mah. Hati-hati di jalan!" Ratna cium tangan dan mengantarkan sampai pintu ruangan.
Jacky menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir melihat sifat ibunya Raisya yang sama sekali apatis.
"Ampun dah mamah kamu Raisya!" Ratna menghela nafas.
"Sabar ya Raisya!" Jacky mendekati Raisya.
"Gak apa-apa. Dia sayang sama aku kok!" Raisya seolah sedang mengobati dirinya sendiri. Dia pura-pura tidak ada apa-apa.
"Sayang gimana Ra?" Jacky malah tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kenapa memangnya? Ada yang aneh?" Ratna berusaha menutupi ketidak enakan Raisya.
"Ya aneh aja. Anaknya sakit malah mikirin duit." Jacky berbicara tanpa dipikir dulu langsung main celetuk saja, tanpa memikirkan perasaan Raisya.
__ADS_1
"Aku merasa beruntung masih punya orangtua yang mau merawat aku sampai segede gini! Coba kamu pikirkan di luar sana banyak anak yang dibiarkan sama orang tua nya bahkan tidak diakui. Padahal mereka bukan anak yatim." Raisya menitikkan air mata.
"Eh Sya.. maafin gue ya Sya.. " Ratna langsung mendekati Raisya merasa bersalah telah mengomentari sikap ibunya Raisya.
"Ga pa-pa. Gue memang gak sempurna. Beginilah gue apa adanya. Lagian juga fasilitas yang gue tempati juga tidak pantes gue pakai. Siapa yang akan bayar? Gue udah gak bisa bayar!" Raisya terisak merasakan hatinya begitu sedih. Entahlah dia menjadi sensitif.
"Maafin gue Ra! Gue gak bermaksud menyinggung elu! Sekali lagi gue minta maaf ya Ra... Gue bangga sama elu yang berbakti sama orang-tua."
"Elu sih kalau ngomong gak pake rem sih Jack!" Ratna marah. Melihat Raisya menangis dia jadi menyesal ikut mengomentari sikap ibunya.
"Beb.. jangan mikirin apa-apa. Biar urusan rumah sakit gue yang urus! Kamu cepet sembuh ya biar kita balik ke Jakarta!" Ratna berusaha mengembalikan keadaan yang menjadi melow.
"Gak Rat! Gue yang urus segalanya. Gue minta maaf ya Rat! Jangan banyak pikiran ntar lusa kita balik Ke Jakarta." Jack mengusap lembut baju Raisya.
Raisya terdiam. Dia memejamkan matanya pura-pura tidur. Tidak mau membahas masalah barusan.
"Raisya kayanya mau tidur." Ratna memberi kode dengan mengedipkan matanya pada Jacky. Jacky pun mengangguk mengerti. Dia menjauh dari Raisya dan duduk di atas sofa diikuti Ratna.
"Rat.. gue pesenin makanan ya! Biar nanti gue balik, elu kalau lapar gak keluar ruangan. Gue juga mau nurunin baju elu dari mobil, takutnya kebawa ke Jakarta, elu gak ada ganti."
"Iya. Sekarang gue jalan dulu ya nyari makan sambil beli buat elu juga."
"Iya. Gue mau tidur dulu mumpung Raisya tidur." Ratna langsung membaringkan badan di sofa.
"Gue pergi dulu ya! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Jacky langsung keluar ruangan membeli makanan lalu membawa tas pakaian Raisya juga tas punya Ratna. Setelah menaruhnya di ruangan, dia langsung pergi ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta Jacky langsung pergi ke mansion nya.
"Hei.. kemana aja kamu?" Nancy ibunya Jacky langsung menoleh ke arah Jacky yang baru saja datang di ruang tamu. Nancy yang sedang menata bunga di atas meja langsung menanyakan keberadaan putra bungsunya yang selama 2 hari tak ada di rumah.
"Habis dari Bandung mih!" Jacky bicara jujur.
"Ada acara kerja?"
__ADS_1
"Gak mih. Main aja!" Jacky langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia langsung membuka pakaian dan mandi.
"Pih.. Jacky kemarin bilang ke papih gak, dia pergi ke Bandung?"
"Tidak." Tuan Robert yang sedang duduk di ruang kerjanya melirik istrinya yang melongok dari pintu ruang kerja.
"Kenapa memang?" Tuan Robert berbalik bertanya.
"Enggak. Mamih cuman nanya aja!"
"Dia udah dewasa mih!"
"Mamih gak mau Jacky seperti dulu pih! Kadang mamih banyak khawatir sama Jacky. Apalagi semenjak anak ular itu datang. Mamih tidak tenang."
Tuan Robert diam. Tak mau ribut dengan istrinya yang melibatkan emosi masa lalu. Dia sekarang memilih lebih banyak mengalah pada istrinya. Dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang telah berselingkuh dengan ibunya Nathan. Tentu itu sangat menyakiti Nancy. Wanita yang telah melahirkan Adam dan Jacky dan setia menemani tuan Robert dikala senang ataupun susah. Apalagi keluarga Nancy telah mewariskan harta tidak sedikit yang telah menopang bisnis tuan Robert.
"Mamih belum ngantuk?" Tuan Robert menanyakan istrinya yang masih melanjutkan hobinya menata bunga.
"Belum. Mamih mau ke kamar Jacky dulu."
"Hhhmmm." Tuan Robert melanjutkan kerjanya.
Nancy naik ke lantai dua masuk ke kamar Jacky.
"Mih belum tidur?" Jacky duduk di samping itu ibunya.
"Kamu sudah tahu Michel masuk rumah sakit?"
"Lah mamih tahu?" Jacky kaget.
"Jangan bilang mamihmu kalau tidak tahu."
"Woowww." Jacky melebarkan matanya.
"Ah jangan sok pura-pura gak tahu kamu! Jujur sama mamih! Raisya bagaimana kabarnya?"
"Waduh gawat kalau punya mamih detektif kaya gini, gak bisa lari gue!"
__ADS_1