Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
healing healing kok kaya maling


__ADS_3

"Beb.. ikut!" Ratna berbisik sambil merajuk.


"Hooh lah! Gak bayi kecil gak bayi gede nempel!" Raisya menyodorkan handphone Ratna setelah menyalin nomor yang dibutuhkannya.


"Sya oleh-oleh!" Irwan sejak tadi menguping ikut menimbrung pembicaraan Raisya dan Ratna.


"Iya ntar gedung sate!" Raisya menimpali.


"Beneran nih? Emang kuat bawanya?" Irwan menahan tawanya.


"Iya versi foto ya!" Raisya tertawa terkekeh.


"Ehem.. Ehem.. " Seseorang protes karena merasa terganggu. Sorot matanya melihat tajam pada tiga orang yang sedang asik bercanda. Wajahnya yang tampan dan dingin sedang mengamati sikap anak buahnya. Nathan kesal merasa dirinya tidak dihormati. Mereka dengan bebas bercanda sedangkan dirinya masih ada dalam ruangan itu. Dia tak biasa diperlakukan seperti itu sebelumnya.


"Eh.. ssst. Gue cabut dulu. Assalamu'alaikum." Raisya buru-buru keluar dari ruangan divisi pemasaran.


Ratna dan Irwan kembali ke mejanya dengan memasang kembali mode serius.


"Apakah mereka selalu begitu?" Nathan mendongak pada Reza yang sedang berdiri di sampingnya.


"Mereka biasa akrab, juga kerjasamanya juga kompak." Reza mengerti apa yang dibicarakan Nathan.


Sebenarnya dari dulu divisi pemasaran bekerja dengan sistem teamwork. Untuk saling mencocokkan karakter masing-masing membutuhkan kenyamanan dalam bekerja. Jadi wajar aja mereka sering berbicara seperti tadi. Yang penting pekerjaan yang mereka lakukan bisa mencapai target yang perusahaan inginkan.


Berbeda dengan Nathan yang terbiasa bekerja serius dan dengan budaya Amerika dalam bekerja. Waktu adalah uang. Tidak ada kata leha-leha dalam bekerja. Memang terasa kaku kalau dipraktekkan di Indonesia. Karena perbedaan kebiasaan dan budaya bekerja beda negara ya beda lagi caranya.


"Besok kita akan mulai kunjungan ke galeri luar kota. Aku ingin kamu menyiapkannya! Kamu siapkan mobil Alphard karena kemungkinan aku akan membawa Michel dan pengasuhnya!" Nathan menyuruh Reza menyiapkan semua kebutuhan untuk survei besok hari. Meski weekend buat Nathan bekerja adalah suatu kebutuhan. Tak ada waktu bersantai. Pantesan saja dia dipercaya oleh tuan Robert untuk memimpin cabang Amerika.


Sementara itu Raisya menelpon ibunya.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mah ieu Raisya. Punten nembe nelepon. Handphone Raisya ical mah." Raisya berbicara bahasa sunda.


(Mah ini Raisya. Mohon maaf baru menelpon. Handphone Raisya hilang)


"Kamu udah gajian?"


"Iya mah. Besok Raisya pulang."


"Iya sudah. Mamah aya perlu ka kamu. Omat pulang!"

__ADS_1


"Iya mah. Assalamualaikum."


"Iya.Waalaikumsalam." Telepon pun terdengar ditutup.


Seperti biasa ibunya Raisya menelponnya hanya jika perlu uangnya saja. Jarang sekali dia menghubungi Raisya untuk menanyakan kabar Raisya. Bahkan cenderung to the point saja. Biasanya Raisya akan pulang ke Bandung sambil memberikan gaji pada ibunya setiap bulan. Dia hanya menyisakan kebutuhan Raisya untuk bayar kost, makan, dan ongkos ke kantor. Untungnya Ratna selalu menyempatkan diri antar jemput Raisya. Sehingga dia bisa menyisihkan uang untuk biaya transportasi untuk keperluan urgent nya.


."Beb.. susah kelar belum?" Sebuah pesan masuk di layar handphonenya.


"Sudah. Ini sudah siap-siap pulang. Gue mau come back sekarang yang..naik travel. Lu jadi ikut?" Raisya mengetik pesan balasan.


"Jadilah... gue barengan pulang sama elu. Kan tas gue ada dikosan elu Sya." Ratna berencana tidak pulang dulu ke rumahnya. Karena beberapa pakaian sudah ada di tempat Raisya lengkap satu tas yang waktu itu pernah disimpannya.


"Oke. Kalau begitu tunggu di lobi! Gue mau setor dulu sama si Jacky. Sambil pamit biar dia gak nunggu bareng pulang."


"Oke deh beb.. gue tunggu di lobi." Ratna menutup telepon.


Raisya sudah siap pulang, menenteng tasnya masuk ke ruangan Jacky.


"Jack ini laporan gue! Kayanya aku pulang lebih awal. Mau balik ke Bandung." Raisya izin pulang lebih awal pada Jacky.


"Mau diantar?" Jacky melihat Raisya.


"Gak. Gue bareng sama Ratna. Dia pengen ikut." Terang Raisya.


"Gak. Ma kasih banyak buat tawarannya. Aku mau naik travel aja. Biar bisa tidur bebas." Tanpa merasa berdosa Raisya mengatakan itu pada Jacky.


"Lah elu suka tidur di mobil umum?" Jacky mengernyitkan dahi.


"He kalau balik dari sini sore ya tidurlah! Kalau pagi sih kadang kadang." Raisya terkekeh. Padahal gak ada bedanya sih pulang sore sama pagi. Buat Raisya naik mobil seperti naik ayunan. Begitu naik langsung tidur.


"Ah elu. Bahaya tahu! Gimana kalau di mobil ada yang ngegerayangin elu?" Jacky terlihat khawatir.


"Ah parno! Sudah gue cabut ya! Takut kemalaman." Raisya pamit pulang.


"Tunggu bentar! Biar gue antar sampai kostan. Gue matiin dulu komputer." Jacky langsung beres-beres.


"Ih gue sama Ratna." Raisya seperti keberatan diantar Jacky.


"Iya gue anterin. Sabar dikit napa sih!" Jacky langsung membawa tas dan kunci mobilnya.


"Hayuu.!"


"Tapi gue ke lobi. Soalnya Ratna nunggu disana."

__ADS_1


"Telpon dia sekarang. Suruh ke parkiran!" Jacky tak mau kalah.


Akhirnya Raisya memilih mengalah daripada harus berdebat dengan Jacky yang tak mau mengalah.


"Beb.. he he. Akhirnya kita nyobain mobil barunya si Jacky juga.


"Diam berisik!" Raisya agak terlihat manyun.


"Masuk! Kenapa masih berdiri?"


"Gue dibelakang aja!" Ratna langsung membuka pintu belakang sambil nyengir kuda.


"He kamu mau kemana? Emang gue supir elu apa?" Jacky protes melihat Raisya membuka pintu belakang.


"Ih..meni banyak syarat." Raisya bicara ketus.


"Kamu balik kapan?" Jacky bertanya sambil memasangkan safety belt nya.


"Mmhh.. berangkat juga belum. Sudah ditanya kapan balik. Tahun depan!" Raisya cemberut lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Telepon gue! Ntar gue jemput!" Entahlah Jacky seperti mengatur Raisya.


"Ce ileh... yang nunggu oleh-oleh!" Ratna dari belakang terkekeh menggoda Raisya dan Jacky.


"Ih.. sotoy pisan Sapi!"


"He he.. jangan judes gitu beb..! Pan mau healing." Ratna memajukan badannya mendekati kursi Raisya.


"Healing weh maneh! Urang nu lieur!" Raisya menahan kepalanya dengan sebelah tangan.


"He he.. kalem.. slow atuh!" Ratna menepuk bahu Raisya. Dia tahu Raisya agak kesel sama Jacky yang memaksanya mengantar pulang.


Gak lama kemudian mobil yang dikendarai pun sampai di kostan Raisya.


Raisya dan Ratna pun turun dari mobil Jacky.


"Eh kamu mau kemana?" Raisya menatap Jacky yang ikut turun dan mengikutinya.


"Yah nunggu kamu lah. Aku antar sampai Bandung! Aku gak mungkin nunggu di mobil kaya sopir.


"Astaghfirullah.. Jacky.. bisa tidak kamu pulang aja! Aku gak mau diantar. Gak bebas tahu!" Raisya nampak kesal sekali.


"Maksud kamu gak bebas gimana? Kamu bebas tidur di mobil aku Ra!"

__ADS_1


__ADS_2