Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kau lari


__ADS_3


Visual Raisya


"Ratna... Subuh. Kamu kaya ***** aja kalau tidur!" Raisya sudah melipat mukena yang terbuat dari bahan parasit memudahkan untuk dibawa pergi-pergi.


"Jam berapa beb?" Ratna menyipitkan matanya. Rasanya begitu lengket untuk dibuka.


"Udah jam 5. Subuh sudah berlalu dari 30 menit yang lalu. Malaikat yang satunya sudah pergi ke langit. Kamu rugi kalau subuh suka kesiangan!" Ceramah subuh pun sudah dimulai.


"Iya. Aku ngantuk banget. Nanti abis sholat mau tidur lagi ah... "


"Hoam.."


Ratna menguap sambil membentangkan kedua tangannya ke atas.


"Eh sudah siang malah niat tidur lagi. Putri tidur sugan mah!"


"Sudah! Subuh-subuh jangan marah-marah! Ntar cantiknya berkurang." Serah Ratna sambil turun dari ranjang pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Mending abis subuh tuh ngaji neng! Bukan tidur lagi!" Raisya membuka mushaf kecil yang selalu dibawa-bawa dalam tasnya. Rasanya setelah subuh kalau tidak mengaji seperti hambar.


Ratna keluar dari kamar mandi lalu shalat. Setelah salam dia malah meringkuk di atas sajadah melanjutkan tidurnya sambil memakai mukena.


"Eh.. kumaha atuh! Cenah pengen jalan-jalan, kalah tidur! Mending cari sarapan yuk di luar! Enak lho banyak babang ganteng nan seksi sedang olahraga pagi di sekitaran Gasibu.


"Wah?" Ratna langsung bangkit. Matanya langsung dipaksa membesar.


"Lah giliran babang ganteng aja bangun! Dasar mesum!" Raisya berdiri membawa handuk. Mau mandi pagi sebelum jalan ke luar.


"Oke sekalian aja kita keluar! Aku pengen jalan ke Ciwalk ih! Udah lama banget gak jalan ke sana!"


Ratna langsung antusias memilih tempat untuk hunting.

__ADS_1


"Ciwalk bukanya jam sepuhan neng. Masih subuh belum baruka. Kecuali neng Ratna bade ngepel Ciwalk. Nya mangga!" Raisya langsung masuk ke kamar mandi.


"Ya udah Sya. Sekarang kita jalan-jalan nyari sarapan dan surupan. He he... " Ratna menertawakan lawakannya sendiri.


Raisya terdiam tidak menjawab lawakan Ratna. Dia sibuk dengan aktifitas mandinya.


Ratna membawa tasnya lalu mengeluarkan beberapa pakaian yang akan dipakainya di pagi ini. Tak lupa menyiapkan peralatan mandinya juga handuk.


Ratna merogoh handphonenya di atas nakas hotel lalu menyalakannya. Karena semalam sengaja handphonenya dimatikan menghindari Jacky menghubunginya.


Beberapa notifikasi terdengar berbunyi. Ratna melihat layar handphonenya. Ada 30 panggil an masuk dan beberapa pesan yang terkirim. Dan hampir 80 persen siapa lagi kalau bukan dari Jacky.


"Ya ampun... ngapain sih dia nelepon segala! Untung saja aku matiin. Bikin resah saja! Bucin tapi Peing!" Ratna menggerutu.


"Apaan lagi ini? Beneran narsis! Dia mabuk? Mmmhhh... beraninya lagi mabok. Coba kalau lagi sadar berani tidak nyatain cinta kaya gini. Dasar lu Peingggg." Tanpa sadar Ratna berteriak di kamar hotel sampai mengagetkan Raisya yang sedang mandi.


"Ada apa sih lu Sapi? Pagi-pagi sudah teriak kaya gitu!" Raisya melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi hotel. Kaget, sekaligus penasaran menanyakan alasan kenapa Ratna berteriak.


"He he enggak.. engak.. Lu masuk lagi! Mandi yang bersih! . Biar nanti dapet gebetan yang sholeh kaya pak ustadz!" Ratna turun lalu mendorong kepala Raisya untuk masuk kembali ke kamar mandi.


Ratna duduk di depan kaca rias sambil melihat dirinya di depan cermin. Lalu menyisir rapih rambutnya yang agak menggumpal bekas tidur.


"Wah seger." Raisya menggidikkan bahunya sambil menaruh handuk di besi jemuran yang ada di dekat pintu kamar mandi. Lalu membawa tasnya mengeluarkan baju ganti.


"Rat. Abis nyari sarapan kita ke rumah aku dulu ya! Gak pa-pa kan? Biar nanti jalan-jalan nya bisa santai!" Raisya meminta izin pada Ratna.


"Oke. No problem!" Ratna langsung berdiri.


"Aku mandi dulu ya! Eh lupa!" Ratna langsung membawa handphonenya lalu membawa ke kamar mandi.


"Rat! Elu gak salah bawa handphonenya ke kamar mandi? Apa elu mau foto syur?" Raisya menatap Ratna dengan bibir terbuka dan mata melebar, melongo. Dia heran melihat Ratna membawa handphonenya ke kamar mandi.


"He he kamu baru tahu ya kebiasaan yang satu ini." Ratna nyengir kuda menyembunyikan kegugupannya. Dia takut kalau Jacky tiba-tiba menelpon dan Raisya mengangkatnya. Apalagi kalau sampai Raisya membuka handphonenya. Bisa gawat!

__ADS_1


"Ratna, gue gak suka elu macem-macem!" Raisya agak cemas melihat kelakuan Ratna yang agak ganjil.


"Suer! gue gak macem-macem. Cuman satu macem aja kok!" Teriak Ratna setelah masuk ke kamar mandi.


"Ih amit! Sampe sebegitu nya tuh anak. Aneh.. " Raisya menggelengkan kepalanya. Merasa baru tahu sekarang kegilaan Ratna membawa handphonenya ke kamar mandi.


Raisya lalu berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya dengan pelembab dan bedak tipis. Dia mengoleskan lipstik dengan warna senada dengan bibir agar tidak mencolok. Setelah itu memakai kerudungnya dengan warna coklat moca.


Tak lama kemudian Ratna selesai mandi. Dia keluar lalu mengganti pakaiannya.


"Kenapa lu liatin gue terus beb?" Ratna yang sejak keluar dari kamar mandi tidak terlepas ditatap oleh Raisya.


"Heran aja. Kenapa lu bawa handphonenya ke kamar mandi? Takut gue mah, aslinya." Raisya mengungkapkan kekhawatirannya pada Ratna.


"Enggaklah Sya! Sebejat-bejatnya gue gak bakal kaya yang elu bayangin. Kebiasaan gue aja kali gak mau jauh-jauh dari handphone." Ratna sedang membuat alasan agar tidak dicurigai Raisya.


"Ya udah kita jalan keluar!" Raisya mengambil sepatu dan memakainya.


"Oke! Kita ke Gasibu kan sambil liat babang cakep?" Ratna mengingatkan Raisya untuk pergi ke sana.


Setelah mengisi perutnya yang kosong. Raisya dan Ratna memesan mobil online menuju rumah Raisya.


"Assalamu'alaikum." Raisya sudah sampai di petak bu Yusuf lalu membuka pintu kontrakan.


"Eh kakak.. " Ketiga adiknya berhamburan menyambut Raisya lalu salam pada Raisya juga Ratna.


"Mah kakak pulang sama tante Ratna!" Salah satu adiknya memanggil ibunya sambil membawa kresek oleh-oleh yang dibawa Raisya.


"Eh.. sudah datang? Ada neng Ratna juga gening!" Raisya dan Ratna mencium punggung tangan ibunya Raisya.


"Mah kok pindah kesini? Itu rumah kenapa?" Raisya masih penasaran dengan cerita rumahnya.


"Mmhh. Gimana yah! Mamah sama bapak pinjem uang ke Bank Raisya buat bangun rumah. cicilannya Sekitar 8jt an perbln untuk 4 taun. Mamah geus bosen sama tetangga disindir terus. Katanya punya anak di Jakarta tapi rumahnya masih begitu-begitu aja. Jadi kapaksa mamah pinjem buat bangun rumah. Tapi itu cicilannya kamu yang bayar ya!" Tanpa beban ibunya Raisya menyerahkan beban cicilan pada Raisya.

__ADS_1


"Ya ampunn mah. Raisya gajih habis atuh! Raisya nanti bekal gimana?" Raisya terlihat sedih.


__ADS_2